Piala Dunia 2026 dijadwalkan akan berlangsung dalam 46 hari ke depan, mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Sebanyak 48 negara akan bersaing memperebutkan gelar juara dunia di tiga negara tuan rumah, yakni Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
Dilansir dari Bola, Tim Nasional Indonesia dipastikan tidak ikut serta setelah mengalami kekalahan beruntun pada putaran keempat kualifikasi zona Asia pada Oktober 2025. Skuad Garuda menyerah 2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 saat menghadapi Irak.
Meskipun turnamen segera dimulai, tensi politik antara Amerika Serikat dan Iran turut membayangi persiapan kompetisi. Presiden AS Donald Trump dilaporkan melontarkan berbagai kritik tajam terkait kelolosan Iran ke putaran final.
Donald Trump secara terbuka mengusulkan agar posisi Iran digantikan oleh Italia. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menyingkirkan Iran dari panggung sepak bola dunia di tengah ketegangan diplomatik kedua negara.
Timnas Italia sendiri gagal melaju ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dalam adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina dengan skor 1-4. Hasil ini menjadi catatan kelam bagi Gli Azzurri karena harus absen dalam tiga edisi Piala Dunia berturut-turut sejak 2018.
Selain faktor politik, Trump juga menyatakan keraguannya terhadap aspek keamanan jika timnas Iran bertanding di wilayah Amerika Serikat. Hal ini menambah daftar panjang kontroversi menjelang pembukaan turnamen.
Kebijakan Visa dan Pembatasan Pengunjung
Pemerintahan Trump juga menerapkan pembatasan masuk bagi warga negara dari 19 negara berbeda yang memicu ketidakpastian di sektor pariwisata. Padahal, Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya menjanjikan bahwa dunia dipersilakan datang ke Amerika.
"Kami akan menjual antara enam hingga tujuh juta tiket untuk pertandingan," kata Gianni Infantino tahun lalu. Ia juga memprediksi akan ada lima hingga 10 juta orang dari seluruh dunia yang datang untuk menikmati turnamen ini.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya hambatan besar bagi kelompok pendukung tertentu untuk masuk ke AS. Agenda 'America First' yang dijalankan Trump memicu penerapan larangan perjalanan dengan alasan pencegahan imigrasi ilegal.
Aturan Jaminan Visa Turis
Mulai 2 April 2026, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan program jaminan visa yang sangat ketat bagi pengunjung dari lebih dari 50 negara. Kebijakan ini mewajibkan pemohon membayar uang jaminan untuk mendapatkan visa turis B-1/B-2.
Langkah tersebut secara signifikan mempersulit pendukung dari negara-negara seperti Senegal dan Pantai Gading untuk hadir. Bahkan, penggemar sepak bola asal Iran dan Haiti kemungkinan besar tidak bisa memasuki Amerika Serikat sama sekali.
Warga negara dari Aljazair, Tunisia, hingga Tanjung Verde juga terancam harus membayar uang jaminan hingga $15.000 atau sekitar £11.000. Program ini bertujuan menekan angka pelanggaran masa tinggal visa bagi warga negara dari wilayah dengan tingkat pelanggaran tinggi.
Ancaman Pemindahan Lokasi Pertandingan
Kontroversi tidak berhenti pada urusan visa, Trump juga mengancam akan memindahkan lokasi pertandingan dari kota-kota yang dianggapnya tidak aman. Salah satu kota yang menjadi sorotan adalah Boston, yang merupakan satu dari 11 kota tuan rumah di AS.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dari Ruang Oval saat bertemu dengan Presiden Argentina. Ancaman pemindahan lokasi ini muncul sebagai respons atas ketidaksukaannya terhadap kebijakan Walikota Boston, Michelle Wu.