Tren Zine di Jepang Kembali Populer, Diyakini Tak Akan Bisa Ditiru AI 2026

Tren Zine di Jepang Kembali Populer, Diyakini Tak Akan Bisa Ditiru AI 2026
Foto: Tren Zine di Jepang Kembali Populer, Diyakini Tak Akan Bisa Ditiru AI 2026. (Illustration by Pexels)

Di tengah kepungan teknologi digital yang serba cepat, Kazuma Obara dan Akihico Mori tampak begitu asyik mengamati tumpukan kertas hasil cetakan zine mereka. Suasana di sebuah pabrik percetakan di Kyoto, Jepang, tersebut riuh dengan suara gesekan kertas dan deru mesin sabuk konveyor yang terus berputar.

Kedua kreator ini tengah melihat esai foto mereka bertransformasi menjadi lembaran fisik yang nyata dan berukuran besar. Langkah ini merupakan strategi mereka untuk menjangkau audiens baru di tengah dominasi kecerdasan buatan atau AI yang semakin memengaruhi dunia kreatif.

Meskipun industri penerbitan konvensional secara umum sedang mengalami masa sulit, fenomena penerbitan mandiri dan majalah buatan tangan atau "zine" justru tengah naik daun di Negeri Sakura. Tren unik ini mencerminkan betapa masyarakat Jepang masih memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap media kertas di tengah gempuran era digital.

Akihico Mori, seorang penulis berusia 44 tahun, mengungkapkan pendapatnya mengenai daya tarik karya fisik ini. Menurutnya, pembaca dapat merasakan semangat dan gairah sang pencipta secara langsung saat memegang fisik karya tersebut.

Mori juga meyakini bahwa aspek emosional yang terkandung dalam karya buatan tangan adalah sesuatu yang sangat istimewa. Baginya, kecanggihan teknologi AI sekalipun tidak akan pernah bisa meniru sentuhan manusiawi yang tertuang dalam zine.

Senada dengan Mori, Kazuma Obara yang merupakan seorang fotografer juga merasakan keunikan tersendiri dari media cetak. Ia mengamati tangannya yang menghitam terkena noda tinta dan menyebut bahwa kertas adalah media yang mampu melibatkan panca indera manusia.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan pengalaman mengonsumsi konten melalui media sosial yang hanya terbatas pada layar gadget. Obara dan Mori merupakan bagian dari kelompok seniman muda yang memanfaatkan fasilitas mesin cetak milik surat kabar Kyoto Shimbun untuk berkarya.

Kyoto Shimbun sendiri membuka peluang bagi para seniman untuk menggunakan mesin mereka sebagai langkah alternatif di tengah menurunnya jumlah pelanggan koran. Saat mesin-mesin besar itu mencetak karya seni di atas kertas koran, para teknisi dengan sigap memastikan kualitas cetakan tetap terjaga dengan baik.

Bagi Obara, media cetak memiliki sifat yang sangat inklusif dan terbuka untuk dibagikan secara fisik kepada orang lain. Ia merasa sangat senang karena karya tersebut bisa diberikan dan dibaca bersama secara langsung oleh banyak orang.

Yoshihiko Okazaki dari pihak Kyoto Shimbun Printing menyebutkan bahwa layanan cetak mereka diminati oleh lintas generasi. Penggunanya sangat beragam, mulai dari remaja hingga kalangan lansia yang sudah menginjak usia 70-an tahun.

Okazaki juga merasa terkejut melihat bagaimana karya zine ini justru sangat diminati dan beresonansi dengan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Banyak anak muda yang menganggap media lama seperti ini justru terasa sangat menarik dan segar di mata mereka.

Di Indonesia sendiri, istilah zine sudah cukup akrab sebagai media alternatif untuk menyebarkan berbagai gagasan dan pemikiran. Komunitas punk menjadi salah satu kelompok yang paling sering menggunakan zine untuk berekspresi secara independen.

Tren zine juga mulai merambah ke dunia bisnis buku komersial melalui langkah-langkah berikut:

  • Toko buku legendaris Sanseido di distrik Jimbocho, Tokyo, kini secara resmi menyediakan ruang khusus untuk menjual zine.
  • Pihak toko buku melihat bahwa zine memiliki daya tarik yang mampu menjaring segmentasi pembaca baru yang berbeda dari pembaca buku tradisional.
  • Konten zine yang lebih spesifik atau niche dianggap lebih relevan dengan minat personal masing-masing individu di masa sekarang.
  • Variasi topik yang sangat luas dalam zine memberikan kebebasan bagi pembaca untuk memilih sesuatu yang benar-benar sesuai dengan jati diri mereka.

Masato Sugiura dari Sanseido menjelaskan bahwa setiap orang saat ini cenderung mencari sesuatu yang terasa sangat personal dan otentik. Hal inilah yang membuat zine mendapatkan tempat di hati para pembaca modern yang jenuh dengan konten arus utama.

Watashi Kishino, seorang pembuat zine lainnya, tetap menyimpan harapan besar bahwa buku dan majalah fisik tidak akan pernah benar-benar punah. Ia percaya bahwa ada kehangatan dan rasa nyaman yang hanya bisa didapatkan dari sebuah kertas fisik.

Kishino yakin bahwa di tengah dinginnya teknologi digital, akan selalu ada orang-orang yang merindukan sentuhan nyata dari sebuah media cetak. Fenomena ini juga menjadi sorotan tajam di tengah kekhawatiran mengenai masa senjakala media cetak di seluruh dunia.

Jepang mencatatkan penurunan yang cukup drastis dalam industri media cetak selama beberapa dekade terakhir. Penjualan buku dan majalah di sana menyusut hingga hanya tersisa sekitar 40 persen dibandingkan masa kejayaannya pada tahun 1996 silam.

Berdasarkan data resmi, sirkulasi media cetak di Jepang mencapai puncaknya pada tahun 1997 dengan angka sekitar 53,76 juta eksemplar. Namun, memasuki tahun 2025, angka tersebut merosot tajam hingga berkurang lebih dari setengahnya.

Kekhawatiran mengenai dominasi kecerdasan buatan juga menyelimuti para penulis dan penerbit di berbagai belahan dunia. Sebuah studi di Inggris pada tahun 2025 bahkan menunjukkan bahwa separuh dari novelis merasa posisi mereka terancam akan digantikan oleh teknologi AI.

Akan tetapi, di tengah kecemasan tersebut, generasi baru justru menghidupkan kembali semangat media cetak melalui tren zine ini. Pasar penerbitan independen di Jepang pun menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berikut adalah ringkasan data mengenai pertumbuhan pasar penerbitan independen dan zine di Jepang:

Kategori Data Keterangan Statistik
Proyeksi Nilai Pasar 2026 Mencapai 150 miliar yen
Pertumbuhan Ekonomi Meningkat hampir dua kali lipat dalam empat tahun
Puncak Sirkulasi Media (1997) Sekitar 53,76 juta eksemplar
Target Audiens Utama Generasi Z dan kaum muda di wilayah perkotaan

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun media cetak arus utama menurun, minat terhadap karya independen justru meroket tajam. Hal ini membuktikan adanya pergeseran pola konsumsi media dari produk massal menuju produk yang lebih eksklusif dan personal.

Pameran zine kini menjadi agenda rutin yang sangat dinantikan di Tokyo, menarik antusiasme besar dari pengunjung yang didominasi anak muda. Mereka rela berdesakan untuk melihat beragam majalah buatan tangan yang hadir dengan format unik dan desain kreatif.

Karya-karya yang dipamerkan sangat bervariasi, mulai dari desain grafis abstrak, kumpulan fotografi estetik, hingga catatan harian personal yang mendalam. Harumi Kikuchi, seorang pengunjung berusia 22 tahun, memberikan pandangannya mengenai perbedaan zine dengan konten digital.

Menurut Kikuchi, teknologi AI dan media sosial seringkali membatasi pandangan manusia melalui sistem algoritma yang kaku. Algoritma tersebut hanya memberikan apa yang kita sukai atau apa yang dianggap sesuai oleh sistem komputer.

Sebaliknya, keberadaan para pembuat zine menunjukkan bahwa masih ada begitu banyak sudut pandang dunia yang beragam dan tidak seragam. Hal ini memberikan kesegaran bagi pikiran anak muda yang ingin melepaskan diri dari batasan-batasan teknologi.

Watashi Kishino juga menambahkan bahwa meskipun teknologi digital mampu menciptakan banyak hal dengan mudah, benda fisik tetap memiliki pesona yang tak tergantikan. Memegang karya seni secara langsung memberikan kepuasan batin yang berbeda bagi pemiliknya.

Kishino lantas menunjukkan karyanya yang berisi ilustrasi hitam-putih mengenai kehidupan sehari-hari yang digambar sepenuhnya dengan tangan. Ia bangga karena meskipun sederhana, karyanya memiliki bentuk fisik yang nyata dan dapat disimpan selamanya sebagai kenang-kenangan.

Artikel terkait

Rekomendasi