Trans Power Marine Siapkan Strategi Hadapi Pemangkasan Kuota Batubara

Trans Power Marine Siapkan Strategi Hadapi Pemangkasan Kuota Batubara
Foto: Ilustrasi Trans Power Marine Siapkan Strategi Hadapi Pemangkasan Kuota Batubara.

PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) menerapkan strategi efisiensi operasional dan peningkatan utilisasi armada untuk memitigasi dampak pemangkasan kuota produksi batubara nasional pada Selasa (19/5/2026) di Jakarta.

Langkah ini diambil guna menahan laju penurunan kinerja keuangan perusahaan karena sektor pengangkutan batubara menyumbang hingga 80 persen sampai 90 persen dari total pendapatan emiten tersebut.

Dilansir dari Industri, laporan keuangan kuartal I-2026 menunjukkan pendapatan perusahaan relatif stabil di angka US$ 26,37 juta dari sebelumnya US$ 26,48 juta pada periode sama tahun lalu, meski laba bersih tercatat turun menjadi US$ 776.479.

Direktur Trans Power Marine, Rudy Sutiono menjelaskan bahwa kekuatan permintaan komoditas ini di pasar domestik maupun ekspor menjadi pendorong utama optimisme perusahaan dalam melewati sisa tahun ini.

"Peluang-peluang yang ada itu bisa membuat kami bertahan dan bertumbuh. Walau kami tidak bisa menjanjikan berapa performa yang bisa dicapai. Tapi kami yakin bisa mencapai lebih baik lagi apabila ada kesempatan dan kondisi yang memungkinkan," kata Rudy Sutiono, Direktur Trans Power Marine.

Pihak manajemen juga memaksimalkan komunikasi dengan pelanggan agar seluruh kapal tunda dan tongkang tetap membawa muatan penuh, baik saat berangkat maupun kembali dari daerah pengiriman.

"Sampai saat ini, utilisasi cukup menggembirakan, artinya kapal kami tidak ada yang nganggur, semua bekerja. Harapan kami, ke depan sampai akhir tahun harusnya bisa juga kapal-kapal ini tetap bekerja," imbuh Rudy Sutiono, Direktur Trans Power Marine.

Mengenai penambahan kapasitas, TPMA memastikan tidak menganggarkan pembelian baru tahun ini melainkan berfokus menyelesaikan pesanan dari tahun sebelumnya, yakni berupa 7 unit kapal tunda dan 9 unit tongkang senilai US$ 25 juta.

"Kami melihat kondisi yang ada. Jadi kami hanya melanjutkan pada pesanan yang sudah kami lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kami tinggal menunggu kedatangan kapal," tandas Rudy Sutiono, Direktur Trans Power Marine.

Sementara itu, tantangan operasional perseroan semakin bertambah akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membebani pengeluaran ditengah penurunan tarif pengiriman (freight).

Direktur Utama Trans Power Marine, Ronny Kurniawan mengonfirmasi target konservatif emiten untuk membatasi penurunan laba bersih maksimal sebesar 20 persen sepanjang tahun buku 2026.

"Pada 2025 itu kami mendapatkan net profit konsolidasi hampir US$ 20 juta, turun sekitar 30% dari 2024. Pada 2026 kami akan mencoba untuk menjaga penurunannya tidak lebih dari 20%," ungkap Ronny Kurniawan, Direktur Utama Trans Power Marine.

Perusahaan memprioritaskan pengelolaan arus kas yang sehat serta menekan rasio utang guna memperkuat daya saing operasional di tengah ketidakpastian iklim usaha dunia.

"Kunci daripada bisnis ini adalah harus efisien dan low leverage. Salah satu yang membedakan kami dengan perusahaan sejenis adalah biaya bunga. Kalau biaya bunga tinggi, enggak akan bisa bersaing," ujar Ronny Kurniawan, Direktur Utama Trans Power Marine.

Sebagai bentuk komitmen kepada investor, TPMA mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 146,85 miliar atau Rp 42 per saham, yang mencakup 47,5 persen dari total laba bersih tahun buku 2025.

Artikel terkait

Rekomendasi