Bisakah kita tetap menikmati tradisi berburu takjil di bulan Ramadan tanpa menambah tumpukan sampah plastik?
Mungkinkah kebiasaan sederhana seperti membawa wadah sendiri dari rumah menjadi langkah kecil yang berdampak bagi lingkungan?
Berburu takjil hampir selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana Ramadan. Pada bulan ini, pemandangan penjaja makanan dan minuman yang berderet di sepanjang bahu jalan menjadi hal yang akrab.
Beragam menu pembuka puasa ditawarkan: mulai dari kolak, es buah, es kelapa, gorengan, lontong, hingga berbagai jajanan modern seperti dimsum mentai dan dimsum keju. Tak jarang pula sayuran dan makanan berat turut melengkapi pilihan.
Saya termasuk orang yang tidak pernah melewatkan momen berburu takjil. Biasanya, pada akhir pekan saya bersama adik menyusuri kompleks dekat rumah, tempat para penjaja takjil berjejer hampir tanpa jeda.
Seperti pada Sabtu lalu, kami berangkat dengan sepeda untuk mencari takjil. Kami sengaja berangkat lebih awal, sebelum waktu berbuka terlalu dekat, agar bisa memilih dengan santai tanpa terburu-buru. Sepeda juga sengaja kami pilih alih-alih motorÔÇösekadar membakar sedikit kalori sebelum nantinya kembali diisi dengan takjil yang menggugah selera.
Namun sebelum berangkat, ada satu kebiasaan kecil yang kini selalu saya lakukan. Saya menyiapkan beberapa wadah dari rumah: kotak makan, botol kosong, serta tas kain atau totebag untuk membawa semuanya. Tujuannya sederhana agar tidak perlu menggunakan kantong plastik sekali pakai.
Ramadan adalah bulan penuh berkah. Rasanya kurang tepat jika kebahagiaan itu justru diiringi dengan bertambahnya sampah yang mencemari lingkungan.
Takjil Tanpa Sampah? Tentu Bisa
Sebenarnya, menikmati takjil tanpa menambah sampah bukanlah hal yang sulit. Langkahnya cukup sederhana: membawa wadah sendiri dari rumah.
Coba periksa kembali lemari dapur kita. Mungkin ada thinwall, kotak makan bekal, atau bahkan wadah bekas es krim yang biasa digunakan ulang untuk menyimpan lauk. Semua itu bisa dimanfaatkan sebagai tempat membeli takjil.
Selain itu, membawa tumbler, botol minum kosong, atau gelas bertutup juga sangat membantu untuk menampung minuman dingin seperti es buah atau es kelapa. Jangan lupa membawa tas lipat atau totebag untuk menggantikan kantong plastik.
Dengan cara ini, kita tetap bisa menikmati tradisi berburu takjil tanpa harus menambah sampah plastik.
Namun sering kali muncul pertanyaan lain: bagaimana cara menyampaikan kepada penjual bahwa kita membawa wadah sendiri?
Sebagian orang mungkin merasa sedikit canggung atau malu. Hal itu wajar, terutama jika melakukannya untuk pertama kali. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa para penjual umumnya tetap melayani dengan ramah.
Bahkan, membawa wadah sendiri sebenarnya juga membantu mereka. Penjual dapat menghemat penggunaan gelas plastik, kantong plastik, sedotan, atau karet yang biasanya digunakan untuk membungkus minuman dan makanan.
Bagaimana Rasanya Berburu Takjil Tanpa Sampah?
Pengalaman pertama mungkin terasa sedikit merepotkan. Kita perlu menyiapkan berbagai wadah sebelum berangkat.
Namun setelah melakukannya beberapa kali, kebiasaan itu justru terasa alami. Bahkan, kini saya sering merasa tidak nyaman jika lupa membawa wadah sendiri saat hendak membeli takjil.
Ada rasa lega yang sulit dijelaskan ketika berhasil membeli makanan tanpa menambah sampah plastik. Sebaliknya, muncul sedikit rasa bersalah ketika harus menggunakan plastik yang pada akhirnya akan menjadi limbah.
Kita semua tahu bahwa plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk teruraiÔÇöbahkan bisa mencapai ratusan tahun. Banyak di antaranya berakhir berserakan di pinggir jalan, menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), terbawa arus sungai, hingga akhirnya mengapung di lautan.
Data dari National Geographic menyebutkan bahwa sekitar 5,25 triliun potongan plastik saat ini memenuhi lautan. Dari jumlah tersebut, sekitar 269.000 ton mengapung di permukaan laut, sementara miliaran partikel lainnya hadir dalam bentuk mikroplastik di kedalaman laut.
Kondisi ini tentu mengancam kehidupan berbagai biota laut. Penyu, burung laut, dan ikan sering kali terjerat atau bahkan menelan potongan plastik yang mereka kira makanan.
Pada akhirnya, ketika ikan-ikan tersebut dikonsumsi manusia, mikroplastik itu berpotensi kembali masuk ke dalam tubuh kita dan menimbulkan berbagai dampak kesehatan.
Ramadan Berkah Tanpa Menambah Sampah
Ramadan adalah bulan yang identik dengan berbagai bentuk kebaikan. Tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam dan makhluk hidup lain yang berbagi bumi dengan kita.
Membawa wadah dari rumah untuk membeli takjil mungkin terlihat seperti langkah kecil. Namun jika dilakukan bersama-sama oleh banyak orang, dampaknya bisa menjadi besar bagi lingkungan.
Apalagi kebiasaan ini sebenarnya tidak membutuhkan biaya tambahan. Ia hanya memerlukan sedikit niat dan kemauan untuk memulai.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam Q.S. Al-Zalzalah ayat 7: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Karena itu, berburu takjil tetap bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, sekaligus menjadi kesempatan untuk berbuat baik kepada bumi.
Selamat berburu takjil dapat ikut menjaga kelestarian lingkungan. Salam lestari.