Langkah Timnas U17 Indonesia untuk melaju ke putaran final Piala Dunia U17 2027 dipastikan terhenti. Kegagalan ini terjadi setelah skuad Garuda Muda tidak mampu melewati fase grup pada ajang Piala Asia U17 2026.
Berada di Grup B, Indonesia harus mengakui keunggulan rival-rivalnya seperti Jepang, China, dan Qatar. Dilansir dari Bola, catatan ini menjadi poin evaluasi penting bagi arah perkembangan sepak bola nasional ke depan.
Meskipun tersingkir, pengamat sepak bola nasional Kesit B Handoyo melihat ada sisi positif dari tim besutan pelatih Kurniawan Dwi Yulianto tersebut. Ia menganggap performa tim tetap menunjukkan grafik kemajuan sejak awal dibentuk.
"Memang kalau melihat performa secara umum timnas u17 Indonesia ada kemajuan yang terlihat dari tim ini," kata pengamat yang biasa disapa Bung Kesit itu.
"Mulai dari mereka terbentuk, melakukan serangkaian ujicoba mengikuti Piala AFF dan tampil di Piala Asia U17 2026 akhirnya tersingkir. Kalau melihat dari performa ada kemajuan tapi lebih kepada waktu saja ya," imbuhnya.
Faktor waktu dinilai menjadi kendala utama dalam mematangkan skuad usia muda kali ini. Situasi tersebut berbeda dengan pencapaian generasi sebelumnya di bawah arahan pelatih Nova Arianto.
"Artinya, kalau mau kita bandingkan dengan tim yang dibawahi Nova Arianto saat itu memang tim itu persiapannya panjang," kata Kesit B Handoyo itu.
"Kemudian dia menanganinya juga sejak awal sehingga bisa mempunyai waktu yang cukup untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Sehingga itu terlihat lebih siap," lanjutnya.
Timnas U17 Indonesia sebenarnya sempat mencatatkan hasil positif pada periode sebelumnya. Evandra Florasta menjadi pahlawan melalui gol tunggalnya di pengujung laga Piala Asia U17 2025 di Jeddah.
"Baik pada saat bermain di Piala Asia dengan hasil luar biasa tampil sebagai juara grup dan akhirnya Indonesia otomatis tampil di Piala Dunia U17 2025," sambungnya.
Kondisi kontras dialami Kurniawan Dwi Yulianto yang baru memegang kendali tim pada Februari 2026. Persiapan yang sangat sempit membuat proses pematangan tim berjalan kurang maksimal di turnamen resmi.
"Hanya sebentar jadi wajar saja misalkan hasilnya belum bisa optimal, tidak bisa mengukir catatan seperti yang ditorehkan timnas u17 dibawah asuhan Nova Arianto gitu," kata pengamat yang juga Ketua PWI Jaya periode 2024-2029 itu.
Sorotan Terhadap Kompetisi Usia Muda
Selain masalah durasi pemusatan latihan, ketiadaan kompetisi usia muda yang rutin di dalam negeri menjadi persoalan serius. Para pemain dinilai kekurangan jam terbang untuk menghadapi intensitas pertandingan internasional.
"Jadi persiapan yang panjang dan terprogram masih dibutuhkan untuk pemain-pemain di u17 ini. Karena memang mereka jam terbang bermain di kompetisinya sangat minim," ujar Kesit B Handoyo.
"Kalau misalnya kita punya kompetisi khusus U17 atau U16 mereka akan lebih siap dipanggil ke timnas," imbuhnya.
Ketiadaan liga reguler memaksa tim nasional bergantung sepenuhnya pada pemusatan latihan jangka panjang dan uji coba. Pola ini dianggap sebagai kompensasi dari minimnya menit bermain pemain di level klub.
Hasil Pertandingan di Fase Grup
Harapan Indonesia sempat membumbung tinggi saat berhasil menundukkan China 1-0 pada partai pembuka Grup B. Namun, momentum tersebut gagal dipertahankan pada dua pertandingan berikutnya.
Garuda Muda dipaksa menyerah 0-2 saat menghadapi Qatar dan kembali menelan kekalahan 1-3 dari Jepang. Pada laga pamungkas melawan Jepang, gawang Indonesia kebobolan lewat aksi Ryoma Tsuyoneshi dan Takeshi Wada.
Indonesia sempat memperkecil ketertinggalan melalui eksekusi tendangan bebas Peres Tjoe. Namun, Arata Okamoto segera membalas dan mengunci kemenangan Jepang, yang sekaligus menyingkirkan Indonesia akibat kalah selisih gol.
"Saat ini kita gagal di Piala AFF, Piala Asia dan ke Piala Dunia U17 2026. Artinya tradisi tampil di Piala dunia kali ini tidak bisa dipertahankan," pungkasnya.