Uma Hapsari Bagikan Strategi Bangun Ekosistem Bisnis Lewat Riset Pasar

Uma Hapsari Bagikan Strategi Bangun Ekosistem Bisnis Lewat Riset Pasar
Foto: Ilustrasi Uma Hapsari Bagikan Strategi Bangun Ekosistem Bisnis Lewat Riset Pasar.

Pengusaha Uma Hapsari menerapkan strategi berbasis pasar dan kolaborasi untuk mengembangkan berbagai unit bisnis di bidang ritel serta gaya hidup. Perjalanan kewirausahaan yang berawal dari berjualan kertas surat ini kini berkembang menjadi ekosistem usaha yang mencakup sektor alas kaki hingga fasilitas olahraga di Bali.

Kisah sukses ini berawal dari latar belakang keluarga pedagang di Bantul, Yogyakarta, yang mengasah insting bisnisnya sejak usia dini. Dilansir dari Wolipop, Uma memiliki pandangan tegas terkait perbedaan mendasar antara aktivitas kegemaran dengan upaya komersial yang berorientasi pada keuntungan.

"Jadi kalau bisnis tidak menghasilkan, itu bukan bisnis. Itu namanya hobi," tegas Uma saat berbincang dengan Wolipop di program Kartini di Cartini.

Prinsip tersebut menuntut adanya nilai yang ditawarkan kepada konsumen dalam setiap transaksi. Tanpa adanya nilai yang sebanding, sebuah usaha tidak akan memiliki keberlanjutan secara finansial.

"Kalau kita mau bisnis, berarti kan harus ada pertukaran nilai. Ada exchange of value, antara orang yang mau bayar dengan apa yang kita jual," tambah Uma.

Langkah profesional Uma di dunia digital dimulai pada tahun 2016 melalui peluncuran brand sepatu Amazara saat ia berusia 24 tahun. Merek ini menjadi sarana belajar intensif mengenai operasional, kepemimpinan, hingga manajemen tim di tengah tren media sosial yang sedang berkembang.

"Jadi itu waktu itu aku umur 24. Dulu belum kayak begini jualan online. Jadi my first business, my first love. Itu namanya Amazara, jualan sepatu online. Dulu tahun 2016. Waktu itu. Aku coba-coba jualan-jualan," tutur Uma.

Pemanfaatan Instagram menjadi kunci pertumbuhan Amazara, terutama dengan menggandeng para pemengaruh yang sering mengunggah konten penampilan harian. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan visibilitas produk di mata konsumen potensial.

"Ada tuh kan momentum di mana banyak selebgram, hijabers yang suka OOTD. Mereka jadi suka OOTD pake sepatu-sepatu gitu. Terus marketingnya dari situ berjalan aja," lanjut Uma.

Meski bisnis pertamanya sempat menghadapi kegagalan dan kebangkrutan saat ia menginjak usia 29 tahun, Uma tidak menganggap hal tersebut sebagai kerugian mutlak. Pengalaman pahit itu justru dinilai sebagai proses pembelajaran krusial dalam membangun fundamental bisnis yang lebih kuat.

"Aku belajar banyak banget dari Amazara itu. Jualan online, dealing sama partner, bikin sepatu. Dari bisnis itu, aku belajar leadership, belajar bikin tim seperti apa, belajar manage operation Seperti apa ," tutur Uma.

Ia mendorong para pengusaha muda untuk memanfaatkan waktu guna mengeksplorasi berbagai sektor industri. Minimnya tanggungan di masa muda memberikan ruang yang lebih luas untuk melakukan percobaan dan inovasi.

"Kalau muda, try as many as you want, try as many as possible. Karena ketika kita masih muda, mungkin belum punya anak atau banyak tanggungan, jadi kita punya ruang yang lebih besar untuk explore berbagai macam industri," jelas Uma.

Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan pemula adalah terlalu fokus pada kesempurnaan produk tanpa melihat kebutuhan pasar. Uma menyarankan untuk memprioritaskan pasar terlebih dahulu sebelum menciptakan nilai tambah melalui produk tersebut.

"Karena kita harus cari marketnya dulu. Bukan produknya dulu. Misalnya deh kita mau jualan hotdog gitu. Banyak kan orang mikirnya kita harus bikin hotdog yang paling enak biar laku. Padahal hotdog nggak enak pun kalau dia dijual di tempat yang memang ramai gitu, orang kelaperan di situ, orang beli juga kan. Jadi meskipun orang bilang aduh hotdognya nggak enak, tapi beli kan. Jadi menurutku yang paling penting kita mulai dari marketnya dulu. Setelah itu kita create value. Apa yang kita bisa kasih ke mereka," tutur Uma panjang lebar.

Setelah fase Amazara, Uma melebarkan sayap ke berbagai sektor mulai dari kacamata melalui Maison Y hingga fasilitas gaya hidup seperti gym dan kuliner di Bali. Pengelolaan risiko yang terukur menjadi landasan utamanya dalam melakukan ekspansi ke lini bisnis yang berbeda-beda.

"Kalo aku, aku nyaman dengan risiko. Kalau nggak taking a risk aku ngerasa nggak hidup sih. Cuma risiko itu harus dikalkulasi. Jangan risiko diambil gitu aja brutal, diihitung, dikalkulasi. Oke, ini risiko ini aku bisa tanggung nggak. Kalo sampe kehilangan ini nih kayak gimana. Kalau kehilangan ya jadi uang belajar aja. Cuma setelah jadi uang belajar harus menghasilkan sesuatu yang lain lagi kan. Jadi I think it's just keep evolving," terang Uma.

Strategi terakhir yang diterapkan Uma adalah skema kolaborasi dengan mitra yang memiliki keahlian pelengkap. Hal ini terlihat pada bisnis kuliner yang ia jalankan bersama partner yang ahli dalam mengkurasi rasa dan memahami selera pasar.

"Aku ini nggak bisa masak sama sekali. Tapi partnerku sangat jago melihat market dan punya taste bud bagus. Keunggulannya dia ditanamkan di bisnis kita, sedangkan keunggulanku di manajemen, dijadikan satu," jelas Uma.

Artikel terkait

Rekomendasi