Starbucks Hentikan Penggunaan AI Penghitung Inventaris di Amerika Utara

Starbucks Hentikan Penggunaan AI Penghitung Inventaris di Amerika Utara
Foto: Ilustrasi Starbucks Hentikan Penggunaan AI Penghitung Inventaris di Amerika Utara.

Rantai kedai kopi global Starbucks resmi menghentikan penggunaan program kecerdasan buatan atau AI yang berfungsi mengotomatiskan penghitungan inventaris di gerai-gerai wilayah Amerika Utara, dilansir dari Internasional pada Kamis (21/5).

Langkah ini diambil setelah sembilan bulan teknologi tersebut diterapkan secara luas guna mengatasi kendala kekurangan stok produk.

Aplikasi otomatis ini kerap mengalami kesalahan penghitungan serta pelabelan jenis produk di lapangan, seperti mencampuradukkan varian susu yang serupa hingga gagal mendeteksi produk sama sekali.

Manajemen perusahaan menyampaikan pengumuman penghentian operasional sistem tersebut melalui sebuah buletin internal resmi yang diedarkan kepada seluruh jaringan gerai.

"Mulai hari ini, Automated Counting akan dihentikan," tulis buletin internal perusahaan.

Pihak manajemen kemudian menjelaskan bahwa proses pendataan barang akan dikembalikan ke metode konvensional yang berlaku untuk pemantauan pasokan komoditas lainnya.

"Komponen minuman dan susu kini akan dihitung dengan cara yang sama seperti kategori inventaris lainnya di kedai kopi," tambah pernyataan tersebut.

Keputusan pembatalan ini menandai perubahan taktik di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer Brian Niccol yang semula mengandalkan AI sebagai bagian transformasi bisnis.

Perwakilan Starbucks mengonfirmasi bahwa penghentian dilakukan demi menyelaraskan standardisasi operasional logistik di seluruh jaringan kedai kopi mereka.

"Tujuan kami sederhana ÔÇö jika ada di menu, pelanggan harus bisa memesannya," kata perusahaan.

Para pekerja retail menyambut baik pembatalan sistem otomatis ini karena implementasi di lapangan dinilai memicu kendala teknis yang rumit.

"Terima kasih karena menghentikan Automatic Counting! Ide di baliknya memang bagus, tetapi pelaksanaannya terbukti sulit," tulis salah satu karyawan.

Sistem inventaris yang dikembangkan oleh perusahaan NomadGo ini sebelumnya beroperasi dengan memindai rak produk menggunakan teknologi LIDAR serta kamera tablet.

Meskipun kemitraan ini dihentikan, vendor penyedia perangkat lunak tersebut menyatakan tetap berkomitmen untuk terus memperbarui sistem navigasi produk mereka.

"tenggelam terus belajar dari masukan pelanggan dan pengguna" kata pihak NomadGo.

Hingga saat ini, Starbucks terus melakukan pembenahan manajemen rantai pasok dengan meningkatkan frekuensi pengiriman logistik harian ke setiap gerai.

Artikel terkait

Rekomendasi