Spirit Airlines Berhenti Beroperasi Setelah 34 Tahun Mengudara

Spirit Airlines Berhenti Beroperasi Setelah 34 Tahun Mengudara
Foto: Ilustrasi Spirit Airlines Berhenti Beroperasi Setelah 34 Tahun Mengudara.

Maskapai penerbangan berbiaya rendah Spirit Airlines secara resmi menghentikan seluruh operasionalnya pada Minggu (3/5/2026) setelah berkiprah selama 34 tahun. Penerbangan terakhir maskapai tersebut dilaporkan telah mendarat dengan selamat di Dallas setelah lepas landas dari Detroit, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Keputusan penutupan ini diambil setelah manajemen perusahaan mengajukan perlindungan kebangkrutan sebanyak dua kali dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Meskipun telah melakukan berbagai efisiensi, tekanan finansial akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat yang dipicu konflik global membuat krisis kas perusahaan tidak terbendung.

"Selama lebih dari 30 tahun, Spirit Airlines telah memainkan peran perintis dalam membuat perjalanan lebih terjangkau dan mempertemukan banyak orang sekaligus mendorong harga yang lebih murah di industri," kata CEO Dave Davis dalam sebuah pernyataan.

Davis mengakui bahwa penghentian operasional ini merupakan langkah berat yang harus diambil oleh manajemen perusahaan di tengah situasi industri yang menantang.

"Ini sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan oleh siapa pun dari kita," dia menambahkan.

Dampak dari penutupan ini sangat signifikan bagi tenaga kerja perusahaan, di mana sekitar 17.000 karyawan kehilangan pekerjaan mereka. Pada hari terakhir operasionalnya, Spirit Airlines diketahui masih melayani lebih dari 50.000 penumpang dan berupaya memulangkan 1.300 awak kabin ke domisili masing-masing.

"Selama ini banyak orang menjadikan Spirit bahan lelucon, tetapi kami telah membangun kekuatan bersama yang mampu menghadapi apa pun. Dan, itu bukan lelucon," tulis serikat pramugari dalam memo internal mereka.

Di sisi konsumen, hilangnya maskapai yang didirikan sebagai Charter One Airlines pada awal 1980-an ini berarti berkurangnya opsi penerbangan murah di Amerika Serikat. Para penumpang, seperti Kendria Talton, mengungkapkan rasa kehilangan atas hilangnya pilihan transportasi yang terjangkau bagi masyarakat luas.

"Saya merasa Spirit itu terjangkau, sederhana, tidak mewah. Rasanya seperti rumah," ujar Angelina Deruelle, mahasiswa yang terdampak pembatalan penerbangan.

Warisan Spirit Airlines dalam industri dirasakan melalui model bisnis "unbundled fares" yang memisahkan harga tiket dasar dengan layanan tambahan. Strategi yang sempat dipopulerkan oleh mantan pimpinan Ben Baldanza ini pada akhirnya diadopsi oleh banyak maskapai besar lainnya untuk bersaing di pasar tiket murah.

Artikel terkait

Rekomendasi