Sosiolog UNJ Soroti Fenomena Joki Tiket Konser di Era Digital

Sosiolog UNJ Soroti Fenomena Joki Tiket Konser di Era Digital
Foto: Ilustrasi Sosiolog UNJ Soroti Fenomena Joki Tiket Konser di Era Digital.

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menyoroti tren joki tiket konser yang semakin marak di tengah masyarakat digital pada Rabu (15/4/2026). Fenomena ini dianggap sebagai dampak dari sistem penjualan daring yang sangat kompetitif dengan ketersediaan kuota yang terbatas.

Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, ketergantungan penggemar terhadap jasa pihak ketiga muncul karena adanya ambisi untuk mendapatkan kepastian akses terhadap pengalaman hiburan tertentu. Konsumen saat ini cenderung lebih pragmatis dan bersedia mengeluarkan biaya tambahan demi menghindari kegagalan saat proses pembelian mandiri.

"Fenomena ini sangat mencerminkan perubahan perilaku konsumen di era masyarakat digital, di mana konsumen tidak hanya mengejar barang atau jasa, tapi juga memperjuangkan akses terhadap barang atau pengalaman tertentu seperti konser," ungkap Rakhmat, Sosiolog UNJ.

Rakhmat menjelaskan bahwa praktik ini menunjukkan adanya pembagian kerja baru dalam ekosistem digital. Kelompok yang memiliki penguasaan teknologi lebih baik memanfaatkan kemampuannya untuk menawarkan jasa kepada mereka yang memiliki keterbatasan keterampilan teknis.

"Menurut saya, praktik ini juga mencerminkan pembagian pekerjaan atau division of labor, di mana satu kelompok memperoleh keuntungan dari penguasaan aplikasi atau platform digital, sementara kelompok lain bergantung pada pihak ketiga untuk mendapatkan akses itu," sambung Rakhmat.

Munculnya perantara dalam transaksi tiket ini juga dinilai sebagai bentuk adaptasi terhadap ketidakadilan sistem. Kecepatan dan akses informasi yang tidak merata menciptakan kesenjangan sosial yang termanifestasi dalam bentuk stratifikasi penguasaan teknologi.

"Masyarakat yang kurang memiliki keterampilan teknis atau kecepatan dalam berburu tiket, beradaptasi dengan mengandalkan pihak ketiga (joki) yang dapat menembus batas-batas sistem itu," ungkap Rakhmat.

Faktor lain yang memperkuat keberadaan joki adalah tingginya permintaan terhadap pertunjukan musisi papan atas dunia di Indonesia. Namun, kapasitas lokasi acara yang tetap terbatas menciptakan ketidakpastian yang mendorong orang mencari jalan pintas untuk mendapatkan akses masuk.

"Selain itu, saya melihat juga bahwa ada ketidakpastian dan ketidakadilan dalam proses pembelian tiket online yang juga memotivasi orang untuk mencari jalan pintas seperti menggunakan jasa joki," tutur Rakhmat.

Rakhmat menambahkan bahwa bagi para penggemar fanatik, menonton konser bukan sekadar hiburan biasa. Aktivitas tersebut telah bergeser menjadi simbol pencapaian identitas dan keterikatan emosional yang kuat dengan figur idola.

"Kita lihat penggemar rela berkorban finansial, termasuk menabung dalam waktu yang lama untuk bisa merasakan pengalaman langka ini," ungkap Rakhmat.

Daya tarik budaya populer seperti K-Pop dinilai berhasil menyatukan elemen global dan lokal. Hal ini menciptakan hubungan yang mendalam antara remaja di Indonesia dengan komunitas global melalui minat yang sama di media sosial.

"Nah, K-pop itu memiliki daya tarik yang kuat karena berhasil menggabungkan elemen-elemen global dan lokal dalam musik dan budaya pop," tutur Rakhmat.

Kehadiran idola juga memberikan dampak psikologis sebagai pelarian dari tekanan kehidupan sehari-hari. Gambaran kesempurnaan yang ditampilkan para idola dianggap mampu memenuhi kebutuhan emosional para penggemarnya.

"K-pop memberikan platform bagi penggemar untuk mengekspresikan diri dan menjadi bagian dari komunitas global yang terhubung melalui minat yang sama," jelas Rakhmat.

Interaksi yang intens dengan budaya luar ini pada akhirnya membentuk identitas baru bagi generasi muda. Meskipun ada tantangan dalam menyeimbangkan budaya lokal, pengaruh ini memperluas wawasan dan koneksi internasional mereka.

"Di mana penggemar mereka merasa lebih terhubung secara emosional dengan sosok idola yang mereka idolakan," ungkap Rakhmat.

Pengaruh budaya Korea tersebut terlihat nyata dalam gaya berpakaian dan pola interaksi sosial di kalangan remaja. Fenomena ini menjadi bagian dari arus globalisasi yang membuat nilai-nilai lintas negara terintegrasi dalam keseharian masyarakat Indonesia.

"K-pop memungkinkan remaja untuk merasakan koneksi global, sehingga memperluas horison identitas mereka atau memperluas cakrawala pengetahuan, dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar identitas lokal," tutur Rakhmat.

Artikel terkait

Rekomendasi