Dunia sinema Indonesia kembali kedatangan karya menyentuh melalui film terbaru arahan Hanung Bramantyo berjudul Children of Heaven (2026). Film yang diproduksi oleh MD Pictures ini telah resmi menyapa para penonton di bioskop tanah air sejak 27 Mei 2026.
Karya ini merupakan sebuah adaptasi resmi dari film legendaris asal Iran dengan judul serupa yang dirilis pada tahun 1997. Versi aslinya, yang merupakan buah karya sutradara ternama Majid Majidi, dikenal sebagai film penuh prestasi dan sukses secara komersial di kancah internasional.
Pencapaian luar biasa film aslinya terbukti saat berhasil menembus nominasi Best Foreign Language dalam ajang bergengsi Piala Oscar pada tahun 1998. Kini, Hanung mencoba menghidupkan kembali nyawa cerita tersebut dengan latar belakang dan nuansa lokal Indonesia yang kental.
Alur Cerita dan Sinopsis Children of Heaven Versi Indonesia
Cerita dalam versi Indonesia ini berpusat pada kehidupan Ali yang diperankan oleh aktor muda berbakat, Jared Ali. Ali adalah anak sulung dari tiga bersaudara yang hidup di tengah kesederhanaan bersama keluarganya.
Ia tinggal bersama dua adiknya, yakni Zahra (Humaira Jahra) dan si bungsu Ahmad. Kehidupan mereka tidaklah mudah, mengingat mereka tinggal di pemukiman pinggir sungai di Kota Semarang dengan latar waktu tahun 1988.
Sebagai anak tertua di keluarga miskin, Ali memikul tanggung jawab besar untuk membantu orang tuanya. Kesehariannya diisi dengan kesibukan belajar di sekolah sekaligus menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah untuk meringankan beban keluarga.
Konflik utama dimulai saat Ali membawa sepatu milik adiknya, Zahra, ke seorang tukang sepatu di pasar karena mengalami kerusakan. Setelah membayar jasa servis dengan uang pas-pasan, ia mampir ke sebuah kios sayuran untuk membeli kentang pesanan ibunya.
Ali yang berniat menghemat uang pun sibuk memilih pisang dengan kualitas rendah demi mendapatkan harga yang jauh lebih murah. Sayangnya, saat sedang fokus berbelanja, satu-satunya pasang sepatu milik Zahra raib tanpa jejak.
Situasi semakin runyam ketika Ali justru diusir oleh pemilik toko karena dianggap membuat kekacauan saat berusaha mencari sepatu adiknya yang hilang. Dengan perasaan bersalah yang mendalam, Ali pulang dan menceritakan kejadian pahit itu kepada Zahra.
Saat itu, Zahra sedang sibuk membantu ibu mereka yang jatuh sakit dalam lima hari terakhir sambil menjaga Ahmad yang sedang terlelap. Kabar hilangnya sepatu kesayangannya tersebut tentu saja membuat Zahra merasa sangat sedih dan terpukul.
Zahra pada awalnya berniat untuk melaporkan kecerobohan abangnya tersebut kepada ayah mereka. Namun, Ali dengan cepat memohon agar adiknya merahasiakan hal itu agar sang ayah tidak semakin terbebani pikiran.
Ali sadar betul bahwa ayahnya yang hanya bekerja serabutan tidak memiliki sisa uang untuk membeli sepatu baru. Belum lagi beban utang keluarga yang terus menumpuk membuat kondisi ekonomi mereka berada di titik yang sulit.
Sebagai solusi sementara, Ali menawarkan sebuah ide agar mereka menggunakan sepatu milik Ali secara bergantian untuk bersekolah. Zahra memakai sepatu tersebut pada pagi hari, lalu menyerahkannya kepada Ali yang masuk sekolah pada siang hari.
Daftar kesulitan yang dihadapi Ali dan Zahra akibat bertukar sepatu :
- Zahra terpaksa harus berlari secepat mungkin setiap pulang sekolah agar tidak terlambat menyerahkan sepatu kepada Ali.
- Ali sering kali datang terlambat ke sekolah karena harus menunggu kedatangan Zahra di titik pertemuan mereka.
- Keterlambatan yang berulang membuat Ali hampir mendapatkan hukuman dari pihak sekolah karena dianggap tidak disiplin.
- Sepatu milik Ali yang sudah dalam kondisi usang dan kebesaran membuat Zahra merasa tidak nyaman selama beraktivitas.
Perjuangan kedua bersaudara ini terus berlanjut hingga akhirnya Ali menemukan sebuah peluang untuk mendapatkan sepatu baru bagi adiknya. Ia bertekad mendapatkan sepatu tersebut tanpa harus meminta uang kepada sang ayah, meski ia harus melakukan pengorbanan besar.
Detail Produksi dan Jajaran Pemeran
Naskah untuk versi adaptasi ini digarap oleh kolaborasi penulis Oka Aurora dan Hanan Novianti. Oka Aurora sendiri sebelumnya telah sukses lewat karya populer seperti Layangan Putus dan film drama Ipar adalah Maut.
Hanung Bramantyo tidak hanya duduk di kursi sutradara, namun juga terlibat sebagai associate producer dalam proyek ini. Selain itu, film ini didukung oleh tim produksi yang solid di bawah bendera MD Pictures.
Berikut adalah tim produksi di balik layar film Children of Heaven (2026) :
| Posisi | Nama Nama Tokoh |
|---|---|
| Produser Utama | Manoj Punjabi dan Shania Punjabi |
| Creative Producer | M. Ali Ghifari |
| Co-Producer | Mahran Haydar |
| Line Producer | Sagar Mahtani dan Wulan Maylani |
Selain Jared Ali dan Humaira Jahra yang menjadi fokus utama, film ini juga dimeriahkan oleh sederet aktor senior dan komika ternama. Nama-nama seperti Andri Mashadi, Faradina Mufti, Slamet Rahardjo, hingga Reza Nangin turut memberikan akting terbaik mereka.
Kehadiran komika seperti Dodit Mulyanto, Oki Rengga, Muhadkly Acho, serta Lolox juga memberikan warna tersendiri dalam film ini. Unsur komedi yang mereka bawakan diharapkan bisa memberikan keseimbangan di tengah alur cerita yang mengharukan.
Manoj Punjabi selaku produser mengungkapkan bahwa terdapat beberapa penyesuaian gaya penceritaan dan akhir cerita dibandingkan versi aslinya. Langkah ini diambil untuk memastikan pesan utama mengenai nilai kemanusiaan dapat diterima dengan lebih kuat.
Manoj menegaskan bahwa meskipun ada perbedaan pada bagian akhir, esensi atau pesan yang ingin disampaikan tetap selaras dengan versi aslinya. Perubahan ini dilakukan agar film terasa lebih komunikatif dan dekat dengan keseharian penonton di Indonesia.
Meskipun versi aslinya memiliki nada yang lebih serius dan berat, versi Hanung Bramantyo ini dirancang agar lebih mudah dicerna oleh masyarakat luas. Namun, nilai-nilai moral yang ada tetap dipertahankan dengan porsi yang tepat dan menyentuh hati.
Film Children of Heaven (2026) telah mendapatkan klasifikasi rating Semua Umur (SU) dari Lembaga Sensor Film. Hal ini menjadikan film tersebut sangat layak menjadi pilihan tontonan keluarga yang edukatif dan penuh makna di seluruh bioskop Indonesia.