Kawasan Kramat di Senen, Jakarta Pusat, terus berdenyut sebagai pusat perdagangan atribut dinas dan keamanan. Seperti dilansir dari Megapolitan, deru mesin bordir dan aktivitas transaksi masih mewarnai lorong-lorong pertokoan semi permanen tersebut.
Kawasan yang meliputi Jalan Kramat Pulo hingga Jalan Sedap Malam ini menyediakan beragam kebutuhan mulai dari seragam satpam, pakaian PDH-PDL, sepatu dinas, topi, hingga jasa bordir komputer custom.
Meski demikian, pola transaksi di sentra ini mengalami pergeseran semenjak merebaknya perdagangan digital dan perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih kepraktisan.
"Dulu sebelum pandemi ramai, sekarang jauh berkurang," kata Rio (23), pemilik toko perlengkapan dinas di Jalan Kramat Pulo saat ditemui Kompas.com di tokonya, Selasa.
Rio yang sudah berdagang selama 10 tahun menjelaskan bahwa maraknya penjualan online menjadi tantangan terbesar bagi toko konvensional saat ini.
"Kebanyakan karena online sih. Orang sekarang lebih praktis, daripada keluar rumah mending beli online," ujar dia.
Guna menyiasati tantangan tersebut, Rio kini mengadopsi sistem penjualan hibrida dengan mempertahankan toko fisik sekaligus membuka lapak daring di marketplace.
"Kurang lebih sama sih," kata Rio mengenai porsi penjualan daring dan luringnya yang kini relatif seimbang.
Tekanan serupa juga dirasakan oleh Dede Rosita (27), seorang penjaga toko yang telah bekerja di kawasan tersebut selama delapan tahun.
Menurut Dede, aktivitas belanja langsung kini cenderung bergantung pada momen-momen tertentu seperti musim penerimaan institusi keamanan.
"Kalau lagi musim pendidikan TNI, barang-barang TNI yang ramai keluar," kata Dede.
Di toko tempatnya bekerja, satu set seragam satpam berbahan drill dipatok Rp 250.000, sementara seragam loreng TNI berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 600.000, dan sepatu dinas premium mencapai di atas Rp 1 juta.
"Kalau datang langsung kan pembeli bisa lihat dan pegang barangnya langsung. Jadi lebih minim kecewa dibanding beli online," ujar dia.
Bagi pedagang senior seperti Ando (42) yang sudah bertahan selama 15 tahun, keberadaan pelanggan setia dari perusahaan penyedia jasa pengamanan menjadi penyelamat bisnisnya.
"Pelanggan lama itu yang paling penting dijaga karena mereka sering balik lagi dan kadang merekomendasikan ke orang lain," kata Ando.
Ando menjual seragam satpam berkisar Rp 300.000 hingga Rp 450.000 per set untuk pesanan partai besar, di samping menerima pesanan jahitan khusus non-stok.
"Kalau lagi ada rekrutmen satpam biasanya order lumayan besar," ujar dia.
"Jadi nggak cuma jual barang jadi," tutur dia mengenai diversifikasi layanan jasanya.
Keunggulan mencoba ukuran dan melihat kualitas bahan secara langsung diakui oleh Ilham (29), seorang petugas keamanan perusahaan logistik yang kapok belanja online.
"Pernah beli online ternyata ukurannya kekecilan dan bahannya beda sama foto," ujar Ilham.
"Mau cari atribut kecil sampai seragam lengkap ada semua," kata dia menambahkan argumen mengenai kelengkapan komoditas di Kramat.
Kepastian kualitas juga mendasari Sutan Mahesa (35), staf operasional perusahaan outsourcing, untuk tetap bertransaksi langsung di toko fisik.
"Kalau kebutuhan perusahaan lebih aman lihat langsung barangnya. Karena kita beli banyak, jadi harus pastikan warna, bahan, dan ukuran sesuai standar perusahaan," ujarnya.
Di sisi lain, konsumen baru seperti Fahrezi Akbar (24) memanfaatkan teknologi digital seperti TikTok dan Google Maps untuk menemukan lokasi sentra fisik ini.
"Kalau beli online takut salah. Lagian di sini bisa langsung dicoba," kata Fahrezi.
Menanggapi fenomena ini, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai e-commerce tidak mematikan sentra tradisional melainkan mengubah fungsinya.
"Marketplace tidak mematikan sentra ini, melainkan mengikis fungsi lamanya sebagai tempat kulakan barang standar," ujar Adrian saat dihubungi.
Barang standar seperti peluit atau kopel kini mudah dibeli online, tetapi segmen pesanan khusus atau bespoke tetap membutuhkan kehadiran toko fisik.
"Segmen bespoke atau pesanan khusus ini tidak bisa dengan mudah dipindahkan ke transaksi online biasa," kata dia.
Adrian mengamati pembeli kini datang dengan referensi harga dari ponsel, sehingga margin keuntungan pedagang offline menjadi lebih ketat.
"Top of mind mereka sekarang aplikasi," ujarnya.
"Pedagang offline kehilangan sebagian ruang untuk mengambil margin dari ketidaktahuan konsumen," kata Adrian.
Kendati biaya operasional tinggi, Adrian optimis toko fisik tetap kokoh jika mengedepankan aspek kepercayaan dan layanan personalisasi.
"Nilai tambah toko fisik tinggal kuat kalau mereka bisa menawarkan konsultasi, ketepatan spesifikasi, jahit atau bordir, penyesuaian ukuran, dan kepercayaan," ucap dia.
Langkah adaptasi terbaik bagi para pelaku usaha di Kramat adalah mengintegrasikan marketplace sebagai katalog produk dan toko fisik sebagai pusat layanan presisi.
"Adaptasi yang paling masuk akal bukan memilih online atau offline, melainkan menggabungkan keduanya," kata Adrian.
Rencana pembangunan proyek infrastruktur seperti jalur layang MRT juga menjadi perhatian para pedagang karena berpotensi mengubah arus lalu lintas konsumen.
"Kalau jadi jalur layang, orang mungkin enggak lewat bawah lagi," kata Rio mengkhawatirkan aksesibilitas tokonya di masa depan.