Pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, Rahmi Hidayati, memaparkan sejarah serta aturan dasar busana kebaya dalam diskusi Cerita Kebaya di Depok, Jawa Barat, pada Rabu, 22 April 2026. Penjelasan tersebut bertujuan meluruskan pemahaman masyarakat, terutama generasi muda, mengenai identitas asli kebaya yang berakar dari budaya keraton dan syiar Islam.
Evolusi kebaya di Nusantara berkaitan erat dengan proses masuknya ajaran Islam yang memperkenalkan konsep menutup aurat bagi penduduk kepulauan. Dilansir dari Detik Travel, kajian akademis Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa nenek moyang Indonesia awalnya menggunakan kain selendang untuk menutupi bagian bahu dan dada.
"Ini adalah sesuatu yang penting, karena kalau nggak sharing, orang-kadang mikir 'ah ribet pakai kebaya, ngapain sih'. Apalagi anak-anak muda, tapi yang datang hari ini ternyata anak-anak muda, senang banget!" ujar Rahmi.
Rahmi menjelaskan bahwa teknik melilitkan selendang panjang untuk menutup bagian atas tubuh menjadi awal mula terciptanya bentuk fisik kebaya. Transformasi busana ini dilakukan demi menyesuaikan gaya berpakaian masyarakat lokal dengan prinsip-prinsip ajaran agama yang baru masuk saat itu.
"Jadi harus berlengan bajunya. Untuk menyesuaikan dengan ajaran agama, nenek moyang kita menggunakan selendang panjang untuk menutupi bagian atas tubuh. Dari lilitan selendang inilah, cikal bakal bentuk kebaya mulai tercipta," kata Rahmi.
Terdapat tiga esensi dasar atau pakem yang menentukan sebuah busana dapat disebut kebaya, yakni memiliki bukaan di bagian depan, potongan simetris, dan berlengan. Rahmi menegaskan bahwa pakaian dengan ritsleting di belakang atau kerah tertutup secara teknis tidak termasuk dalam kategori kebaya otentik.
Dalam perkembangannya, muncul berbagai jenis kebaya seperti Kebaya Kartini yang identik dengan kancing di tengah dada serta Kebaya Kutu Baru yang memiliki tambahan kain persegi di bagian tengah. Rahmi menyebutkan bahwa model Kartini sebenarnya telah digunakan luas di berbagai daerah sebelum menjadi identik dengan sang pahlawan nasional.
"di Lombok, di Batak, Jogja, eh itu di Kudus, tempatnya Kartini, di mana-mana dipakai gitu. Nah, model kebaya Kartini itu bukan berarti dia muncul karena Kartini, tapi kebaya model itulah yang selalu dipakai sama Kartini, makanya disebutnya kebaya Kartini," ujar Rahmi.
Selain itu, terdapat Kebaya Encim yang merupakan hasil akulturasi budaya dengan masyarakat Tionghoa melalui penambahan detail bordir tangan bermotif floral. Model lain meliputi Kebaya Labuh dari Melayu dengan potongan panjang, Kebaya Sunda berkerah V, hingga Kebaya Basiba dari Sumatera Barat.
"Aslinya dari kita, tapi mereka buat menjadi lebih bagus dan cantik dengan bordir-bordir buatan tangan," kata Rahmi.
Adapun model yang sedang populer saat ini adalah Kebaya Janggan yang memiliki ciri khas kerah tinggi dan kancing asimetris yang melintang dari kanan ke kiri. Gaya ini secara historis banyak digunakan oleh para Abdi Dalem di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta.
"Dari dulu ini dipakai di keraton-keraton seperti Yogyakarta dan Solo, biasanya dikenakan oleh para Abdi Dalem," kata Rahmi.