PT Cikarang Listrindo Tbk menjadi salah satu emiten utilitas yang dikenal rutin membagikan dividen dengan yield relatif tinggi. Perusahaan dengan kode saham POWR ini bergerak di sektor ketenagalistrikan.
Dikutip dari Stocksetup, perusahaan ini memasok listrik bagi kawasan industri di Cikarang serta sejumlah pelanggan industri lainnya di Indonesia. Konsistensi pembagian dividen tunai membuat POWR kerap masuk radar investor.
Untuk periode terbaru pada Juni 2026, POWR tercatat memiliki nilai dividen Rp49,52 per saham. Total keseluruhan alokasi tersebut mencapai sekitar Rp785 billion.
Proses administrasi dan perdagangan terkait hak dividen ini terbagi dalam beberapa tahapan penting. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 20 Mei 2026.
Selanjutnya, ex dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 21 Mei 2026. Sementara itu, untuk pasar tunai, cum dividen ditetapkan pada 22 Mei 2026.
Tahap ex dividen di pasar tunai akan berlangsung pada 25 Mei 2026. Hak kepemilikan ditentukan saat recording date atau tanggal daftar pemegang saham pada 22 Mei 2026.
Pencairan dana atau tanggal pembayaran dividen tunai POWR dijadwalkan pada 5 Juni 2026. Di pasar modal, saham perusahaan mencatatkan kenaikan Rp30,00 atau sekitar 4,03% dalam sepekan terakhir ke level Rp775 per saham.
Operasional dan Lini Usaha Perseroan
Kegiatan utama POWR meliputi pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga listrik untuk pelanggan industri. Operasional ini ditopang oleh pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batu bara.
Total kapasitas terpasang dari fasilitas pembangkit tersebut mencapai lebih dari 1.100 MW. Selain lini konvensional, perusahaan mulai mengembangkan bisnis energi baru terbarukan.
Proyek hijau yang berjalan mencakup pemasangan PLTS atap dan penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Langkah ini memperluas portofolio layanan energi bersih perseroan.
Basis pelanggan utama mereka berada di kawasan industri Cikarang, Bekasi. Sektornya mencakup industri otomotif, elektronik, makanan dan minuman, kimia, plastik, hingga pusat data.
Model bisnis ini menghasilkan permintaan listrik yang cenderung stabil. Hal ini terjadi karena pasokan ditopang langsung oleh aktivitas sektor manufaktur.
Struktur Manajemen Perusahaan
Operasional POWR dikendalikan oleh jajaran direksi dan komisaris yang berpengalaman di sektor energi. Fokus utama manajemen adalah menjaga efisiensi pembangkit dan memperluas jaringan pelayanan.
| Nama | Posisi | Terafiliasi |
|---|---|---|
| Andrew Kukkutahlie Labbaika | Direktur Utama | Ya |
| Png Ewe Chai | Wakil Direktur Utama | Ya |
| Richard Noel Flynn | Direktur | Ya |
| Christanto Pranata | Direktur | Ya |
| Yudho Pratikto | Direktur | Ya |
| Nama | Posisi | Independen |
|---|---|---|
| Komisaris Utama | Tidak | Komisaris |
| Tidak | Komisaris | Tidak |
| Komisaris | Tidak | Komisaris |
| Ya | Komisaris | Ya |
Kinerja Keuangan dan Valuasi Terbaru
Pada kuartal I 2026, POWR membukukan pendapatan sebesar Rp2,15 triliun. Angka ini mengalami penurunan sekitar 3,9% secara year on year dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,24 triliun.
Walaupun pendapatan terkoreksi, laba bersih perusahaan justru mengalami pertumbuhan. Angka laba bersih naik menjadi Rp295,5 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp280,9 miliar.
Melihat performa sepanjang tahun buku 2025, total pendapatan emiten mencapai sekitar US$553,5 juta atau tumbuh 1,18% dibanding tahun 2024. Namun, laba bersih turun 4,36% ke angka US$72,06 juta.
Nilai EBITDA tercatat berada di level US$165,8 juta dengan margin EBITDA sekitar 29,9%. Dari aspek penilaian saham, POWR diperdagangkan pada price to earnings ratio sekitar 9 kali.
Kapitalisasi pasar atau market cap emiten berada di angka Rp11,7 triliun. Manajemen keuangan menunjukkan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 0,64 kali pada kuartal I 2026.
Kondisi bisnis utilitas yang stabil menempatkan saham ini sebagai opsi untuk memburu imbal hasil rutin. Evaluasi investor tetap bertumpu pada dinamika sektor manufaktur dan kebutuhan belanja modal ke depan.