Alphabet Inc., induk perusahaan Google, mencatatkan pertumbuhan saham bulanan paling signifikan sejak mulai melantai di bursa pada 2004 silam setelah melonjak hampir 34 persen sepanjang April 2026. Performa luar biasa ini dilansir dari Money yang merujuk pada data pergerakan indeks Nasdaq Composite.
Lonjakan tersebut dilaporkan menjadi pilar utama yang menopang reli pasar saham sektor teknologi selama periode satu bulan penuh. Berdasarkan laporan Yahoo Finance pada Sabtu (2/5/2026), saham-saham berkapitalisasi besar kembali mendominasi arah pergerakan pasar di Wall Street.
Penambahan nilai pasar Alphabet tercatat mencapai sekitar 1,2 triliun dollar AS atau setara Rp 20.760 triliun dalam kurun waktu satu bulan dengan asumsi kurs Rp 17.300 per dollar AS. Angka pertumbuhan nilai ini diklaim mencapai 50 kali lipat dari valuasi awal saat Google pertama kali melakukan penawaran umum perdana atau IPO.
Kinerja ini memperkuat posisi Google sebagai perusahaan yang mampu tumbuh konsisten tanpa mengalami koreksi besar setelah masa penawaran perdana, sebuah fenomena yang dianggap jarang terjadi di pasar modal Amerika Serikat. Hal ini didukung oleh analisis mengenai siklus perdagangan saham hasil IPO.
"Sekitar 91 persen saham hasil IPO pada akhirnya jatuh di bawah harga terendah pada hari pertama perdagangan," kata Kathy Donnelly, salah satu penulis buku The Lifecycle Trade.
Donnelly menjelaskan bahwa level harga terendah pada hari pertama merupakan indikator krusial bagi para investor untuk menentukan kelanjutan narasi awal sebuah perusahaan. Jika harga meluncur di bawah titik tersebut, fase penyesuaian biasanya akan menggantikan momentum pertumbuhan awal.
Hingga penutupan April 2026, nilai pasar Alphabet telah menyentuh angka 4,65 triliun dollar AS atau sekitar Rp 80.445 triliun. Angka fantastis tersebut menunjukkan peningkatan lebih dari 200 kali lipat dibandingkan valuasi awal perusahaan sebesar 23 miliar dollar AS saat melantai pada Agustus 2004.
Alphabet saat ini memimpin kelompok saham teknologi Magnificent Seven dengan kenaikan sekitar 22 persen sejak awal tahun 2026. Perusahaan ini bergerak searah dengan Amazon dan Nvidia, sementara Apple mulai membuntuti setelah merilis laporan kinerja keuangan terbarunya.
Rekor harga intraday baru bahkan kembali tercipta pada awal Mei 2026 yang menandai pencapaian rekor keempat sepanjang tahun ini. Perusahaan kini menghadapi tantangan untuk menjaga momentum di tengah pergeseran pasar dari tahap pemulihan menuju fase perburuan rekor harga baru.