Risiko kolaps hingga kematian mendadak kini mengintai para penggemar olahraga padel akibat gangguan jantung yang sering kali tidak terdeteksi oleh para pemainnya. Fenomena medis ini dipicu oleh dehidrasi hingga serangan jantung mendadak yang bermula dari keberadaan plak tersembunyi pada pembuluh darah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian medis karena olahraga asal Meksiko ini tengah digemari masyarakat karena dianggap memiliki intensitas aktivitas fisik yang lebih ringan. Namun, dilansir dari Detik Health, penyempitan pembuluh darah akibat plak yang tidak disadari dapat berakibat fatal saat seseorang melakukan aktivitas fisik berat.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Siloam Hospitals Lippo Village, Dr dr Sunanto, SpJP(K), menjelaskan bahwa penyempitan pembuluh darah terjadi karena tumpukan plak. Masalah besar muncul ketika plak tersebut pecah dan merangsang pembekuan darah yang menyumbat aliran darah secara total.
"Jadi proses serangan jantung itu karena ada plak yang pecah, terjadi bekuan darah sehingga darah di dalam pembuluh itu berhenti total. Itu kalau di jantung, kami sebutnya serangan jantung. Kalau di otak, kami sebutnya stroke," kata dr Sunanto.
Penjelasan medis menunjukkan bahwa serangan jantung tersebut memang terjadi secara tiba-tiba, namun tubuh sebenarnya memberikan sinyal peringatan. Gejala awal yang sering muncul meliputi rasa berat di dada atau sesak napas saat melakukan aktivitas rutin seperti naik tangga.
"Biasanya gejalanya sakit dada pada saat aktivitas. Misalnya jalan naik tangga dua lantai, dia akan merasa berat dadanya, napasnya berat. Tarik napas kok kayak kurang oksigen. Nah, itu gejala-gejala awal," terang dr Sunanto.
Bahaya lebih besar justru mengancam kelompok pasien yang tidak merasakan gejala sama sekali meski memiliki penyempitan pembuluh darah. Menurut catatan medis, sekitar 30 persen pasien berada dalam kondisi tanpa gejala ini sehingga mereka tetap merasa bugar untuk berolahraga berat sebelum akhirnya kolaps.
"Tapi pada sekitar 30 persen, pasien ini ada penyempitan tapi nggak ada gejala, itu yang berat. Itu orang masih bisa main padel, masih bisa bulutangkis, tiba-tiba serangan. Nggak ada gejala tadinya," sambung dr Sunanto.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau melakukan skrining kesehatan jantung menyeluruh seperti EKG, treadmill test, hingga CT Angiografi untuk mendeteksi potensi penyempitan. Pemilihan metode pemeriksaan harus disesuaikan dengan profil risiko dan usia pasien.
"Konsultasikan dengan dokter, untuk memilih metode paling tepat, sesuai umur Anda, sesuai faktor risiko, dan lain-lain," tutup dr Sunanto.