Faktor usia ternyata memegang peranan krusial dalam menentukan kecenderungan seseorang untuk tidak setia dalam hubungan pernikahan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko perselingkuhan pada laki-laki tidak bersifat statis, melainkan mengalami fluktuasi signifikan seiring bertambahnya umur.
Analisis data yang dilakukan oleh Institute for Family Studies (IFS) terhadap survei sosial di Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari Lifestyle, mengungkapkan temuan yang mengejutkan. Puncak kerentanan pria untuk berselingkuh justru berada pada dekade ketujuh kehidupan mereka.
Banyak anggapan umum menyebutkan bahwa masa puber kedua atau krisis paruh baya di usia 40 hingga 50 tahun adalah fase paling rawan. Namun, data IFS menunjukkan bahwa tingkat perselingkuhan paling tinggi justru ditemukan pada kelompok pria berusia 70-an.
Statistik mencatat sekitar 26 persen pria dalam rentang usia 70 hingga 79 tahun mengaku pernah melakukan hubungan di luar nikah. Angka ini melampaui persentase kelompok usia 50 hingga 69 tahun yang berada di angka 24 persen.
Tren ketidaksetiaan ini juga tetap bertahan tinggi pada pria yang sudah menginjak usia 80 tahun ke atas dengan angka sekitar 24 persen. Hal ini membuktikan bahwa dorongan atau risiko perselingkuhan tidak lantas luruh meskipun seseorang telah memasuki usia senja.
Terdapat perbedaan pola yang cukup tajam antara laki-laki dan perempuan terkait perilaku tidak setia ini. Secara kumulatif, pria memang memiliki kecenderungan lebih besar untuk berselingkuh dibandingkan wanita dalam kurun waktu jangka panjang.
Data dari AARP Magazine memperkuat temuan tersebut dengan mencatat bahwa 46 persen pria mengakui pernah berselingkuh, sementara pada wanita jumlahnya hanya 21 persen. Kesenjangan ini mulai terlihat melebar seiring dengan bertambahnya kematangan usia pasangan.
Kondisi berbeda terlihat pada kelompok usia muda di bawah 30 tahun, di mana tingkat perselingkuhan antara pria dan wanita cenderung setara di angka 10 hingga 11 persen. Pengalaman hidup dan durasi hubungan tampaknya menjadi faktor pembeda seiring berjalannya waktu.
Pengaruh Latar Belakang Generasi
Wendy Wang, Direktur Penelitian di IFS, menjelaskan bahwa fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor generasi atau cohort effect. Pria lansia yang saat ini berada di angka perselingkuhan tinggi merupakan mereka yang lahir pada era 1940-an dan 1950-an.
"Efek generasi kemungkinan berkontribusi pada perubahan kesenjangan gender dalam perselingkuhan," kata Wang.
Ia menambahkan bahwa norma sosial di masa lalu turut membentuk perilaku tersebut hingga saat ini.
"Misalnya orang Amerika yang lahir pada 1940-an dan 1950-an melaporkan tingkat hubungan di luar nikah tertinggi, mungkin karena mereka tumbuh saat revolusi seksual terjadi," ujar Wang.
Pemicu Ketidaksetiaan di Usia Lanjut
Beberapa faktor psikologis dan situasional diduga menjadi alasan mengapa risiko tetap tinggi di masa tua. Kejenuhan setelah puluhan tahun menjalani biduk rumah tangga atau adanya perubahan peran dalam keluarga sering kali menjadi pemicu utama.
Faktor-faktor seperti masa pensiun, kondisi kesehatan, hingga perubahan gaya hidup terkadang mendorong seseorang mencari validasi emosional atau pengalaman baru. Meski demikian, kualitas komunikasi dan nilai personal tetap menjadi benteng utama dalam menjaga integritas hubungan pernikahan.