Ahli Jelaskan Rahasia Fermentasi Mi Instan Menjadi Tempe Unik

Ahli Jelaskan Rahasia Fermentasi Mi Instan Menjadi Tempe Unik
Foto: Ilustrasi Ahli Jelaskan Rahasia Fermentasi Mi Instan Menjadi Tempe Unik.

Inovasi pangan terus berkembang dengan memanfaatkan berbagai bahan baku di sekitar kita. Selain menggunakan kacang kedelai yang umum ditemui, mi instan kini dapat diolah menjadi tempe melalui proses fermentasi yang unik.

Dilansir dari Detik Health, mi instan yang tergolong sebagai Ultra Processed Food tetap memiliki kandungan bahan alami yang memungkinkan untuk ditumbuhi kapang tempe. Hal ini dijelaskan oleh Wida Winarno, Co Founder Indonesia Tempe Movement sekaligus pegiat fermentasi pangan.

Secara ilmiah, pembuatan tempe merupakan metode membudidayakan kapang Rhizopus agar tumbuh secara optimal. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada ketersediaan nutrisi, kualitas ragi, suhu yang tepat, serta suplai oksigen yang cukup bagi mikroorganisme.

Rhizopus membutuhkan lingkungan yang mendukung agar bisa berkembang dengan stabil. Bahan baku harus menyediakan sumber makanan berupa karbohidrat dan protein yang akan diuraikan selama masa fermentasi berlangsung.

Karena kapang tempe bersifat aerob, bahan baku harus dibungkus dengan media yang memiliki lubang udara, seperti daun atau plastik berlubang. Selain itu, kebersihan proses sangat krusial untuk mencegah dominasi bakteri atau jamur lain yang dapat merusak pembentukan tempe.

Komposisi mi instan yang didominasi tepung terigu dari gandum mengandung pati dan gluten. Kedua komponen inilah yang dimanfaatkan oleh kapang sebagai sumber energi untuk tumbuh menyatukan untaian mi menjadi satu kesatuan.

Kandungan Alami dalam Mi Instan

Wida Winarno menjelaskan bahwa meskipun mi instan sering dianggap sebagai makanan olahan berat, komponen dasarnya masih berbasis bahan alami. Bagian mi itu sendiri mengandung nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme ragi.

"Kalau kita bedah lagi, mi instan itu komponennya banyak tepung terigu dari gandum. Mungkin yang ultra processed itu bisa di bumbu atau tambahan lainnya. Tapi mienya sendiri sebetulnya masih berbasis bahan alami dari gandum," kata Wida Winarno.

Proses ini juga berfungsi sebagai penyaringan biologis atau biological screening. Jika suatu bahan mengandung zat yang meracuni atau tidak mendukung kehidupan, maka ragi tempe secara alami tidak akan mau tumbuh pada media tersebut.

"Kalau ada bahan yang bersifat meracuni, raginya tidak mau tumbuh. Jadi itu seperti screening. Dan ternyata di mi instan dia mau tumbuh," ujar pemilik nama asli Ignatia Widya Kristiari tersebut.

Karakteristik dan Nilai Gizi Tempe Mi Instan

Hasil akhir dari fermentasi ini memiliki tekstur yang berbeda jauh dibandingkan tempe kedelai konvensional. Tempe mi instan cenderung lebih lembut dan tidak sepadat tempe biasa, dengan bentuk yang menyerupai olahan pangan lain.

"Jadinya itu seperti puding, bukan puding ya, lebih seperti perkedel mi," tutur lulusan IPB University tersebut.

Dari aspek nutrisi, tempe jenis ini tidak bisa menggantikan peran tempe kedelai sebagai sumber protein utama. Hal ini dikarenakan mi instan tetap didominasi oleh karbohidrat, sementara kedelai memiliki profil asam amino yang jauh lebih lengkap.

Proses pembuatannya relatif sederhana, yakni dengan merebus mi hingga matang lalu meniriskan dan mendinginkannya. Setelah itu, mi dicampur ragi tempe dan didiamkan selama 1,5 hingga 2 hari sampai kapang tumbuh merata.

Variasi Bahan Baku Selain Kedelai

Fleksibilitas pembuatan tempe memungkinkan penggunaan berbagai jenis kacang-kacangan dan serealia lainnya. Beberapa bahan seperti kacang koro, kacang arab (chickpea), hingga lupin telah terbukti dapat menghasilkan tempe berkualitas gizi baik.

Bahan lain seperti quinoa dan barley juga menunjukkan potensi besar karena kandungan serat dan antioksidannya. Proses fermentasi bahkan diketahui mampu mengurangi senyawa anti-gizi yang terkadang ditemukan pada biji-bijian mentah.

Meski eksperimen dengan mi instan menarik untuk dicoba sebagai variasi unik, penggunaan bahan dari kelompok kacang-kacangan tetap lebih direkomendasikan. Hal ini bertujuan agar manfaat tempe sebagai superfood yang kaya protein tetap dapat dirasakan secara optimal.

Artikel terkait

Rekomendasi