PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) membukukan lonjakan pendapatan premi asuransi kendaraan listrik sebesar 124 persen secara tahunan pada kuartal I/2026. Pertumbuhan signifikan ini dipicu oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap adopsi kendaraan ramah lingkungan di pasar domestik.
Kenaikan premi tersebut berjalan selaras dengan data penjualan mobil listrik nasional yang dilaporkan melambung hingga 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga Mei 2026, total penjualan kendaraan listrik di Indonesia tercatat berada pada level 16.926 unit sebagaimana dilansir dari Finansial.
"Hal ini sejalan dengan data penjualan mobil listrik nasional di mana terjadi lonjakan signifikan sebesar 95,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 16.926 unit," jelas Linggawati Tok, Marketing Director GEGI kepada Bisnis pada Minggu (3/5/2026).
Linggawati menjelaskan bahwa sebagian besar pemegang polis asuransi kendaraan listrik perusahaan saat ini masih berdomisili di wilayah Jabodetabek. Konsumen tersebut didominasi oleh kelompok masyarakat dengan profil pendapatan menengah ke atas.
"Hal ini sejalan dengan data penjualan mobil listrik nasional di mana terjadi lonjakan signifikan sebesar 95,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 16.926 unit," jelas Linggawati Tok, Marketing Director GEGI.
Meskipun mencatat pertumbuhan positif, perusahaan asuransi masih menghadapi tantangan operasional terkait keterbatasan jaringan bengkel resmi dan ketersediaan suku cadang. Selain itu, minimnya data historis klaim menjadi kendala dalam memetakan pola risiko kendaraan listrik secara akurat.
"Sehubungan dengan kendala tersebut, perusahaan berusaha memperluas jaringan kerja sama bengkel rekanan, dan perusahaan fokus hanya pada kendaraan listrik di kota besar dan fleet," kata Linggawati Tok.
Pihak manajemen mengungkapkan bahwa biaya per kejadian klaim pada kendaraan listrik cenderung lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. Tingginya nilai klaim ini terutama disebabkan oleh komponen baterai yang sangat krusial dan mahal.
"Posisi baterai yang umumnya berada di bagian bawah kendaraan membuatnya rentan terhadap benturan atau genangan, dan demi alasan keselamatan, bengkel sering memilih penggantian modul besar atau seluruh baterai daripada perbaikan parsial," terang Linggawati Tok.
Baterai kendaraan listrik dapat mencakup sekitar 50 hingga 60 persen dari total nilai kendaraan secara keseluruhan. Kondisi ini membuat kerusakan pada komponen baterai sering kali berujung pada status kerugian total atau total loss demi keamanan pengguna.
"Kombinasi mahalnya baterai, kompleksitas elektronik, dan keterbatasan repairability ini membuat kendaraan listrik lebih cepat mencapai total loss secara ekonomis dibanding kendaraan konvensional," pungkas Linggawati Tok.