Penulis : Achmad Deni Daruri *) 19 Mei 2026 | 13:57 WIB
Achmad Deni Daruri, Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC). (Ist.)
JAKARTA, Investor.id ÔÇö
Pertumbuhan 5,61% Q1 2026 ÔÇô Angka yang Menenangkan, Fondasi yang Mengkhawatirkan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 sebesar 5,61% memberi kesan stabilitas. Angka ini menenangkan publik dan pasar, seolah menegaskan bahwa ekonomi nasional masih berada di jalur aman. Namun, di balik headline yang indah, fondasi pertumbuhan masih rapuh.
Pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah dan sektor hospitality, sementara transformasi struktural belum terlihat nyata. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah.
Konsumsi Pemerintah dan ICOR Tinggi
Pendorong utama pertumbuhan adalah lonjakan konsumsi pemerintah sebesar 21,81%. Namun, efisiensi investasi masih rendah, tercermin dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang tinggi. Infrastruktur dibangun, tetapi output yang dihasilkan relatif kecil dibandingkan input. Artinya, belanja fiskal belum menghasilkan produktivitas jangka panjang. Rekomendasi kebijakan jelas: alihkan sebagian belanja fiskal ke human capital ÔÇöprogram nutrisi, pendidikan, dan vokasi ÔÇöagar investasi menghasilkan tenaga kerja produktif dan daya saing berkelanjutan.
Hospitality: Pertumbuhan Semu
Sektor akomodasi dan makanan tumbuh 13,14%, didorong rebound pariwisata dan konsumsi domestik. Namun, sektor ini bersifat low value-added dan rentan terhadap guncangan eksternal. Pertumbuhan semacam ini tidak cukup untuk membawa Indonesia keluar dari middle-income trap. Tanpa diversifikasi ke sektor bernilai tambah tinggi, pertumbuhan hospitality hanya menjadi ilusi stabilitas.
Ketimpangan Regional
Dominasi Jawa tetap kuat dengan kontribusi 57,24% terhadap PDB. Sementara itu, wilayah luar Jawa masih tertinggal. Ketimpangan ini berpotensi memperlebar jurang sosial-ekonomi dan menimbulkan ketidakstabilan politik. Pertumbuhan yang tidak inklusif akan menjadi bom waktu bagi pembangunan nasional.
Risiko Eksternal: Energi dan Geopolitik
Harga minyak dunia melonjak akibat konflik Iran. Dampaknya jelas: biaya produksi naik, inflasi energi meningkat, dan risiko defisit fiskal membesar. Indonesia harus segera mempercepat diversifikasi energi ÔÇömemanfaatkan gas domestik dan energi terbarukan ÔÇöagar tidak terus bergantung pada minyak impor.
Subsidi EV: Antara Harapan dan Greenwashing
Pemerintah mendorong subsidi kendaraan listrik (EV). Namun, tanpa integrasi dengan kebijakan downstreaming baterai, TKDN, dan transfer teknologi, subsidi ini berisiko menjadi fiscal greenwashing. Alih-alih memperkuat industri nasional, subsidi bisa sekadar menguntungkan produsen asing. Kebijakan harus diarahkan agar EV menjadi bagian dari strategi industrialisasi, bukan sekadar simbol hijau.
Narasi yang sering muncul adalah bahwa pelemahan rupiah mencerminkan kelemahan ekonomi. Pandangan ini keliru. Depresiasi rupiah justru harus dibaca sebagai restrukturisasi ekonomi menuju daya saing lebih tinggi.
- Konteks global: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) yang baru, jika mengikuti arahan Presiden Donald Trump untuk menurunkan suku bunga, akan melemahkan dolar.
- Implikasi jangka menengah-panjang: Setelah fase depresiasi, rupiah akan lebih stabil terhadap dolar.
- Daya saing relatif: Produk Indonesia akan makin kompetitif, bahkan jika AS menerapkan tarif impor. Harga relatif produk Indonesia tetap menarik di pasar global.
Dengan kata lain, depresiasi rupiah adalah strategi penyesuaian struktural. Ia membuka ruang bagi ekspor, memperkuat industri domestik, dan menekan ketergantungan pada impor. Tugas pemerintah adalah memastikan pelemahan rupiah tidak sekadar menjadi gejolak pasar, melainkan momentum transformasi.
Human Capital: Kunci Daya Saing
China masih mendominasi ekspor padat karya. Indonesia berisiko tertinggal jika tidak segera meningkatkan kualitas tenaga kerja. Fokus strategis harus diarahkan pada:
- Vokasi untuk sektor padat karya.
- Digital skills & automation untuk industri bernilai tambah tinggi.
- Nutrisi & kesehatan untuk produktivitas jangka panjang.
Tanpa investasi pada manusia, pertumbuhan hanya akan menjadi angka tanpa makna.
Kesimpulan
Pertumbuhan Q1 2026 sebesar 5,61% memang menenangkan, tetapi fondasinya rapuh. Namun, jika depresiasi rupiah diposisikan sebagai restrukturisasi ekonomi, Indonesia memiliki momentum untuk memperkuat ekspor dan daya saing. Kebijakan fiskal dan moneter harus diarahkan agar pelemahan rupiah menjadi transformasi struktural, bukan sekadar gejolak pasar. Indonesia dapat keluar dari middle-income trap dengan kombinasi kebijakan:
1. Human capital investment  tenaga kerja produktif dan kompetitif.
2. Diversifikasi energi  mengurangi risiko eksternal.
3. Integrasi EV industrial policy  memperkuat industri nasional.
4. Narasi baru depresiasi rupiah  sebagai strategi restrukturisasi, bukan kelemahan.
Dengan langkah-langkah ini, pertumbuhan tidak hanya menenangkan, tetapi juga berkelanjutan, inklusif, dan kompetitif di panggung global.
*) Presiden Direktur Centre for Banking Crisis
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Komisi XI DPR : Pelemahan Rupiah akan Berimbas ke Daya Beli Masyarakat
Tekanan Kombinasi, BI dan Pemerintah Optimalkan Instrumen Jaga Rupiah
Bea dan Cukai Sebagai Salah Satu Garda Depan Pertumbuhan Ekonomi
Top Berita Ekonomi Hari Ini, Kamis 7 Mei 2026
Purbaya Siapkan Stimulus Tambahan di Kuartal II-2026
Market 24 menit yang lalu Saratoga (SRTG) Bagi Dividen Tunai Rp 1,4 Triliun Emiten afiliasi Sandiaga Uno, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) berencana membagikan dividen tunai final sebesar Rp 1,4 triliun.
Business 28 menit yang lalu Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas Geopolitik Timur Tengah mendorong krisis energi global yang berdampak langsung terhadap harga energi dunia termasuk LNG.
Macroeconomy 38 menit yang lalu Kemenkeu: Menunda Belanja Berarti Menahan Pertumbuhan Ekonomi Kemenkeu menilai menunda belanja pemerintah sama dengan menahan pertumbuhan ekonomi dan efek berganda ke masyarakat.
Market 42 menit yang lalu IPOT Perkenalkan Pengalaman Trading AI Real Time untuk Gen Z IPOT perkenalkan pengalaman trading AI real time dengan UI/UX dinamis untuk Gen Z, lebih cepat, adaptif, dan berbasis risiko.
Market 47 menit yang lalu Potensi Harga Bitcoin (BTC) ke US$ 100.000 Akhir 2026 Beberapa ahli memperkirakan US$ 100.000 sebagai target realistis harga bitcoin (BTC) untuk tahun 2026.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Senin 18 Mei 2026: Terpukul Lagi