PT Pertamina (Persero) mendorong masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah penghematan energi guna menjaga stabilitas pasokan nasional di tengah dinamika global. Upaya efisiensi ini menjadi krusial untuk mengantisipasi keterbatasan stok dan fluktuasi harga energi pada Kamis (7/5/2026).
Ketersediaan energi nasional tetap menjadi fokus utama perusahaan energi plat merah tersebut demi memastikan kebutuhan publik terpenuhi. Langkah bijak dalam konsumsi energi dinilai sebagai kontribusi nyata masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian situasi internasional, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Menurut kami, kita harus sama-sama bijak dalam menggunakan energi. Kita tidak perlu panik, tetapi kami ingin mengajak bapak, ibu, dan teman-teman semua untuk berkontribusi dalam menghemat serta menggunakan energi secara bijak," kata Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Siddik menjelaskan bahwa salah satu metode penghematan yang efektif adalah melalui optimalisasi kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Masyarakat diimbau untuk benar-benar membatasi mobilitas saat jadwal WFH berlangsung guna menekan konsumsi bahan bakar.
"Yang bisa dilakukan adalah memastikan bahwa saat work from home, kita benar-benar bekerja dari rumah. Jika pada hari WFH justru digunakan untuk jalan-jalan atau keluar kota, maka itu tidak membantu penghematan energi," jelas Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Sektor transportasi juga menjadi poin penting dalam narasi penghematan ini melalui penggunaan kendaraan umum dan sistem berbagi kendaraan. Praktik tersebut diklaim mampu mengurangi kemacetan sekaligus menurunkan tingkat polusi udara di area perkotaan.
"Penggunaan transportasi publik yang lebih banyak akan sangat membantu, atau carpooling dengan teman-teman yang mungkin satu kompleks. Kita bisa menggunakan satu mobil bersama ke kantor daripada tiga atau empat mobil," terang Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Selain mobilitas, efisiensi di dapur juga disarankan dengan cara memasak lebih terjadwal agar penggunaan LPG lebih optimal. Penyesuaian kebiasaan memasak dianggap sebagai bagian kecil namun berdampak besar pada penghematan kolektif.
"Jika biasanya memasak tiga kali sehari untuk makan pagi, siang, dan malam, mungkin bisa dipertimbangkan memasak sekali saja di pagi hari untuk kebutuhan siang dan malam. Itu juga bagian dari kontribusi kita dalam menggunakan energi secara bijak," tutur Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Pihak Pertamina juga menyoroti penggunaan listrik di lingkup rumah tangga, seperti pengaturan suhu pendingin ruangan dan mematikan lampu. Hal-hal sederhana ini dianggap tidak akan mengganggu aktivitas rutin namun memberikan dampak efisiensi yang signifikan.
"Banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari. Misalnya, mematikan listrik di ruangan yang tidak digunakan atau mengatur suhu AC tidak di 19 derajat, tetapi di 24 derajat," papar Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Upaya mitigasi ini tetap diperlukan meskipun stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG saat ini masih dalam kondisi tersedia. Langkah preventif dilakukan mengingat adanya ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di wilayah Timur Tengah.
"Hal-hal tersebut bisa kita lakukan bersama. Meskipun BBM dan LPG saat ini masih tersedia, ada baiknya kita tetap memitigasi potensi risiko jika krisis di Timur Tengah tidak segera mereda," tandas Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.