Banyak Perusahaan Pecat Karyawan Gen Z Akibat Ketidakselarasan Nilai Kerja

Banyak Perusahaan Pecat Karyawan Gen Z Akibat Ketidakselarasan Nilai Kerja
Foto: Ilustrasi Banyak Perusahaan Pecat Karyawan Gen Z Akibat Ketidakselarasan Nilai Kerja.

Fenomena pemecatan karyawan dari generasi Z kembali memicu diskusi hangat mengenai kesiapan kerja mereka di industri modern. Berdasarkan data yang dihimpun, banyak perusahaan memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak pekerja muda tersebut meski baru bekerja dalam waktu singkat.

Dikutip dari Wolipop, angka pengangguran di kalangan lulusan baru perguruan tinggi menyentuh 5,7% pada pengujung tahun 2025 menurut laporan Federal Reserve Bank of New York. Persentase ini tercatat 1,5 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok usia produktif lainnya.

Survei dari Intelligent.com memperkuat temuan tersebut dengan melaporkan bahwa 60% perusahaan telah membiarkan karyawan Gen Z berhenti bekerja. Keputusan ini sering kali diambil hanya dalam hitungan bulan setelah mereka resmi bergabung dengan organisasi.

Penyebab utama pemberhentian kerja ini berakar pada masalah profesionalisme, komunikasi, dan kesiapan mental dalam menghadapi lingkungan kantor. Profesor Stern School of Business NYU, Suzy Welch, menilai ada ketidakselarasan mendasar antara pekerja muda dan manajemen perusahaan.

"Aku melakukan survei kedua yang mewawancarai manajer perekrutan, 25.000 manajer perekrutan, berusia di atas 40 tahun. Dan kami bertanya kepada mereka, nilai apa yang kalian cari dari generasi Z? Dan kemudian aku melakukan referensi silang terhadap data tersebut. Dan hal ini menunjukkan bahwa hanya 2% dari Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Mengejutkan," kata Suzy.

"Jadi yang terjadi adalah mereka mengajak gen Z masuk, mereka melihat apakah mereka bisa mengubahnya. Ketika mereka tidak mengubah, gen Z berkata, 'Aku sudah muak dengan ini'" lanjutnya.

Perbedaan Prioritas Antara Karyawan dan Perusahaan

Ketidakcocokan ini dipicu oleh perbedaan prioritas nilai kehidupan. Generasi Z cenderung mengutamakan aspek self-care atau perkembangan pribadi, kebebasan berekspresi, serta keinginan untuk menolong sesama dalam lingkungan kerja mereka.

Sebaliknya, para manajer memiliki ekspektasi yang sangat berbeda terhadap bawahannya. Bagi pemberi kerja, nilai utama yang dicari adalah prestasi untuk menang, etos kerja yang kuat, serta keinginan untuk terus belajar dan berpetualang dalam lingkup profesi.

"Jadi itu adalah ketidaksesuaian nilai yang sangat besar, dan itulah yang kita lihat terjadi. Dan karena pasar lebih memihak pembeli, maka saat ini pemberi kerja berkata: Aku tidak suka ini. Aku akan mengembalikannya ke toko dan aku akan mencari model yang lebih aku sukai," jelas Suzy.

Saran Adaptasi bagi Gen Z dan Pengusaha

Menghadapi situasi ini, pakar menyarankan agar para lulusan baru mulai menurunkan ekspektasi saat pertama kali meniti karier. Memahami konsekuensi dari nilai-nilai pribadi sangat penting agar mereka tidak kehilangan peluang kerja yang sesuai dengan gelar sarjananya.

"Aku tidak menyarankan siapa pun mencoba mengubah nilai-nilai mereka. Menurutku yang perlu gen Z lakukan bukan hanya ekspektasi tentang di mana mereka akan bekerja. Mereka harus memahami konsekuensinya dan mereka mungkin tidak mendapatkan pekerjaan sesuai gelar sarjana," ujar Suzy.

Di sisi lain, perusahaan juga dihadapkan pada pilihan sulit antara bersaing mendapatkan 2% talenta yang sesuai atau mulai melakukan penyesuaian budaya organisasi. Hal ini menjadi tantangan besar mengingat sulitnya menyelesaikan target pekerjaan jika karyawan tidak memiliki ketertarikan pada persaingan dan etos kerja konvensional.

Artikel terkait

Rekomendasi