Sejumlah penggemar musik Korea di Indonesia melakukan berbagai upaya finansial mulai dari menabung hingga mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi biaya menonton konser idola yang mencapai jutaan rupiah pada Selasa (14/4/2026). Tren pengeluaran besar ini didorong oleh keinginan mendapatkan pengalaman emosional melihat musisi luar negeri secara langsung, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Xena Olivia, seorang penggemar berusia 26 tahun, mengaku harus menambah penghasilan melalui jasa menggambar digital untuk menutupi kekurangan dari gaji pokoknya saat musim konser tiba. Strategi ini diambil karena biaya yang diperlukan tidak hanya untuk tiket, tetapi juga untuk perlengkapan pendukung lainnya.
"Terus kalau mau nonton konser biasanya nabung atau biasanya cari sampingan sih," ungkap Xena Olivia, Penggemar K-Pop.
Xena menjelaskan bahwa dirinya pernah menyiapkan dana hingga Rp4 juta untuk menonton boyband Seventeen, namun akhirnya membeli tiket standar seharga Rp1,8 juta karena persaingan yang ketat. Sisa dana tersebut kemudian dialokasikan untuk membeli tiket hari kedua serta kebutuhan busana agar tampil maksimal saat acara berlangsung.
"Tapi kalau misalkan buat sama printilan baju, apa outfit segala macem mungkin kayak nambah Rp 500.000 - Rp 600.000," sambung Xena Olivia, Penggemar K-Pop.
Yohana Indah, penggemar berusia 27 tahun, menyamakan kegiatan menabung untuk konser dengan orang yang sedang merencanakan perjalanan wisata ke luar negeri. Baginya, menonton konser merupakan daftar keinginan yang harus diusahakan dengan bekerja keras secara konsisten.
"Nabung sih, emang aku punya wishlist atau bucketlist. Sesimpel orang traveling saja, mereka nabung untuk kota atau negara-negara tujuan mereka, aku pun gitu tapi bedanya aku konser," ungkap Yohana Indah, Penggemar K-Pop.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Fiqa dan Zzar yang masing-masing harus menyisihkan dana sekitar Rp5 juta per konser untuk melihat grup seperti BTS dan EXO. Zzar mulai menyesuaikan kategori tiket yang dibeli dari yang termurah saat masih kuliah menjadi kategori lebih mahal setelah memiliki penghasilan sendiri.
"Biasanya aku tiap bulan ada nabung dikit-dikit untuk persiapan konser, jadi kalau EXO ke sini uangnya udah ada," sambung Zzar, Penggemar K-Pop.
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memberikan perspektif bahwa fenomena menabung mati-matian ini terjadi karena konser dianggap sebagai sebuah simbol pencapaian identitas. Hubungan emosional yang kuat antara penggemar dan idola membuat pengorbanan finansial dirasa sepadan.
"Relasi penggemar dengan idolanya sangat emosional dan konser menjadi simbol pencapaian, identitas, dan kebersamaan dengan komunitas penggemar lainnya," ungkap Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Rakhmat menambahkan bahwa K-Pop memiliki daya tarik visual dan kualitas produksi tinggi yang diakses secara masif melalui media sosial. Hal ini menjadikan budaya pop Korea bukan sekadar musik, melainkan wadah ekspresi diri bagi para remaja dalam komunitas global.
"Jadi bagi banyak penggemar, K-Pop itu bukan hanya tentang musik, tapi juga tentang gaya hidup, komunitas, dan identitas sosial gitu ya," sambung Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Pengamat musik Ryan Kampua turut menyoroti perbedaan signifikan kualitas produksi musik Korea yang melibatkan proses pelatihan bertahun-tahun serta keterlibatan produser internasional. Struktur aransemen yang memadukan berbagai genre menjadi alasan utama musik ini sangat diminati di pasar Indonesia.
"Berawal lagu dan performa yang menarik, ditambah kemudahan akses informasi yang begitu masif, akhirnya menciptakan pengaruh dalam diri untuk menjadi bagian dalam budaya komunitas yang aktif," ucap Ryan Kampua, Pengamat Musik.
Ryan menekankan bahwa agensi besar seperti SM Entertainment atau YG mengelola personel dengan sangat detail mulai dari mixing hingga koreografi ikonik. Persiapan yang matang ini menghasilkan paket hiburan yang memanjakan mata dan telinga secara bersamaan.
"Ketika proyek musikal disiapkan menuju global, bisa lebih panjang lagi karena akan melibatkan produser internasional sekelas Grammy," sambung Ryan Kampua, Pengamat Musik.
Kerumitan proses produksi tersebut dianggap menjadi alasan mengapa konser-konser ini terus dinantikan meski memerlukan biaya tinggi.
"Ini paket memanjakan mata dan telinga sekali. Dan hampir dibanyak proyek K-Pop memberikan paket ini," ungkap Ryan Kampua, Pengamat Musik.