Sejumlah pengemudi ojek online di Kota Bekasi menyambut positif langkah Gojek dan Grab yang resmi menghentikan program langganan akses layanan Hemat bagi mitra pengemudi pada Selasa (19/5/2026), meskipun mereka juga mengkhawatirkan potensi munculnya potongan baru yang membebani.
Kebijakan penghentian program sistem berbayar langganan tarif tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut arahan pemerintah demi meningkatkan kesejahteraan para pengemudi. Berdasarkan laporan dari Megapolitan, penyesuaian ini juga diikuti dengan rencana penurunan potongan komisi aplikasi Gojek menjadi 8 persen dari yang sebelumnya mencapai 20 persen per perjalanan.
Kendati demikian, layanan transportasi tarif rendah seperti GrabBike Hemat dan GoRide Hemat akan tetap tersedia bagi konsumen lewat sejumlah penyesuaian tarif, sembari menunggu penerbitan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 mengenai ekosistem transportasi online.
Respons terhadap kebijakan baru ini datang dari Edi Prayitno (40), seorang pengemudi Gojek di Stasiun Bekasi yang sudah bekerja sejak tahun 2015.
"Kalau misalnya penghapusan itu terjadi, bagus ya buat para driver. Pokoknya kami senang lah. Cuma kalau benar terjadi, jangan sampai ada hal lainnya yang dinaikkan," ujar Edi Prayitno.
Ia merasa khawatir apabila penurunan potongan komisi menjadi 8 persen justru memicu penghapusan fasilitas promo gratis isi nitrogen atau diskon makanan bagi mitra.
"Takutnya imbas ke gratis isi nitrogen. Sama kalau beli makan kan biasanya dapat potongan, itu yang dihilangin. Jadi ada yang diturunin, ada juga yang dinaikin," kata Edi Prayitno.
Edi menjelaskan bahwa program GoRide Hemat sebenarnya cukup membantu menambah pesanan, tetapi pendapatan bersih yang diterima pengemudi menjadi lebih rendah daripada tarif reguler.
"Menurut saya GoRide Hemat ini cukup membantu juga. Tapi di satu sisi berat juga. Misalnya ongkos Rp 10.500 itu jadi Rp 8.800 untuk paket hemat," ujar Edi Prayitno.
Edi menyatakan tetap bertahan menjadi pengemudi ojol demi menghidupi keluarganya setelah sempat diberhentikan dari vendor perusahaan sepeda motor, dengan pendapatan harian sekitar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 dari 15 sampai 20 pesanan.
"Kalau sekarang driver itu bukan masalah nominal lagi. Satu hari dapat order lancar saja sudah alhamdulillah," ujar Edi Prayitno.
Tanggapan lain disampaikan oleh Faris (32), seorang pengemudi GrabBike yang telah menjalani pekerjaan sebagai driver ojol selama dua tahun.
"Program ini memang harusnya dihapus. Tapi asal potongannya enggak berbayar," ujar Faris.
Faris menilai skema hemat tersebut memberatkan, namun ia juga mencemaskan penurunan tarif dasar minimum perjalanan seiring mengecilnya potongan aplikasi.
"Takutnya potongan lebih kecil, harganya jadi tambah kecil. Takutnya nanti harga terendahnya Rp 10.000, kami terimanya cuma Rp 9.000 atau Rp 8.000," kata Faris.
Faris menambahkan bahwa pendapatan harian tertingginya saat ini berada di angka Rp 240.000, dan jumlah tersebut belakangan menurun akibat seringnya aksi demonstrasi.
"Sehari paling banyak Rp 240.000. Paling sedikit ya kayak sekarang ini didemo melulu jadi turun," ujar Faris.