Pemprov DKI Jakarta Gandeng Danantara dan Swasta Kelola PLTSa

Pemprov DKI Jakarta Gandeng Danantara dan Swasta Kelola PLTSa
Foto: Ilustrasi Pemprov DKI Jakarta Gandeng Danantara dan Swasta Kelola PLTSa.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah merumuskan skema kerja sama pengolahan sampah menjadi energi bersih dengan menggandeng badan pengelola investasi Danantara serta sektor swasta pada Rabu (20/5/2026).

Langkah kolaboratif ini disiapkan untuk mengoptimalkan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di ibu kota. Rencana tersebut mencakup pembagian tanggung jawab tata kelola antara ketiga pihak yang terlibat demi mengatasi persoalan volume sampah Jakarta, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

"Sebentar lagi akan dirumuskan antara Danantara, pelaku PLTSa yang ada, dan tentunya dengan Pemerintah DKI Jakarta. Tiga pihak itu yang bertanggung jawab untuk memanage persoalan yang menyangkut PLTSa," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Proses pengkajian kerja sama ini memuat regulasi tarif listrik dari pemerintah sebesar 20 sen per kilowatt hour (kWh) sebagai basis perhitungan awal penjualan daya. Meskipun acuan biaya ini sudah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah, angka finalnya masih berpotensi berubah menyesuaikan hasil kesepakatan akhir.

"Yang paling penting adalah pemerintah sudah mengeluarkan PP tentang tarif 20 sen. Ini sebagai referensi," katanya.

Faktor penentu profitabilitas dari proyek infrastruktur hijau ini akan sangat bergantung pada efisiensi teknis dan realisasi pengeluaran anggaran di lapangan. Manajemen biaya operasional antarinstansi menjadi kunci keberhasilan finansial program berskala besar ini.

"Nanti apakah untung atau tidak itu urusan lapangan," tutur Pramono.

Untuk mendukung reduksi sampah secara signifikan, Pemprov DKI memproyeksikan tiga wilayah strategis sebagai lokasi pembangunan PLTSa, yakni di Bantar Gebang, Sunter, dan Tanjungan. Program penanganan limbah ini berjalan beriringan dengan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) yang telah beroperasi di Rorotan dan Bantar Gebang.

"Kalau ini berjalan lancar alhamdulillah, mudah-mudahan persoalan Jakarta tentang sampah, neraca sampahnya yang dulu hampir 9.000 per hari, insyaallah akan terserap di lapangannya," kata Pramono.

Artikel terkait

Rekomendasi