Sebuah lapak penjualan hewan kurban di bawah kolong Tol Ir Wiyoto Wiyono, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, menarik perhatian dengan strategi pemasaran yang unik. Penjual di lapak tersebut mempekerjakan ibu rumah tangga sebagai sales promotion girl (SPG) untuk menyapa dan melayani calon pembeli.
Para pekerja ini bertugas menawarkan sapi unggulan dan menjelaskan karakteristik serta keunggulan setiap hewan. Saat suasana lapak sedang sepi, mereka juga membantu memantau ketersediaan stok hingga memeriksa kondisi kesehatan hewan kurban.
Salah satu pekerja bernama Ella (52) mengaku terkejut saat pertama kali menerima tawaran pekerjaan ini dari seorang pedagang bernama Kastono (51), seperti dikutip dari Megapolitan.
"Kaget juga, tetapi saya merasa bersyukur mendapatkan rezeki. Menjelang Idul adha ini ada panggilan untuk menjadi SPG sapi, jadi saya terima," tutur Ella saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (20/5/2026).
Dalam menjalankan tugasnya, Ella diwajibkan mengenakan pakaian bertema koboi. Saat ditemui, ia memakai topi koboi berwarna cokelat susu, kaus merah dengan luaran cardigan hitam, celana ketat hitam, serta sepatu boots hijau.
Sebagai ibu rumah tangga, Ella mengaku awalnya merasa takut menghadapi puluhan sapi berukuran besar. Namun, rasa cemas tersebut hilang setelah ia mulai memahami karakter hewan dagangan yang ternyata jinak dan bersih.
Tantangan lain yang dihadapi adalah mengelola kesabaran saat menghadapi beragam karakter konsumen, termasuk calon pembeli yang sekadar bertanya tanpa melakukan transaksi.
"Awalnya memang merasa takut karena belum mengenal sifat sapinya. Ternyata sapi-sapi di sini jinak, sehat, dan juga sangat bersih," sambung dia.
Pekerjaan musiman ini memberikan pendapatan tambahan bagi Ella untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya di rumah.
"Alhamdulillah, per hari saya mendapatkan Rp 200.000 terkadang bisa lebih dari itu," tutur Ella.
Kastono selaku pemilik usaha menjelaskan bahwa para pekerja bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui bonus dari setiap hewan yang berhasil terjual.
"Gaji pokoknya Rp 200.000 per hari. Jika ada ternak yang terjual, kami akan memberikan bonus, namun nilainya tidak kami patok secara kaku," ujar Kastono saat ditemui di lokasi yang sama, Rabu.
Nominal bonus yang diberikan bersifat fleksibel, disesuaikan dengan jenis serta harga dari hewan kurban yang laku.
Kastono sengaja memilih ibu-ibu rumah tangga setempat agar mereka memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tambahan melalui pekerjaan yang tidak mengikat ini.
"Kami justru merekrut ibu-ibu agar mereka memiliki penghasilan tambahan. Pekerjaan ini sifatnya tidak mengikat. Kami memilih warga yang menurut kami memiliki penampilan menarik atau fotogenik untuk menawarkan dagangan kami," sambung Kastono.
Para pekerja tersebut dijadwalkan bertugas hanya pada hari Sabtu, Minggu, dan Senin, saat volume kunjungan pembeli ke lapak mengalami peningkatan.
Kehadiran para pekerja ini berdampak positif pada penjualan, di mana 75 persen dari 120 ekor kambing dan 90 persen dari sekitar 45 hingga 50 ekor sapi telah laku terjual.
Melalui strategi ini, Kastono berhasil mencatatkan omzet penjualan yang mencapai sekitar Rp 1,5 miliar pada tahun ini.
Pakar marketing Yuswohadi menilai keputusan merekrut ibu-ibu sangat tepat karena penjualan hewan kurban lebih membutuhkan penguasaan informasi produk dan komunikasi persuasif dibandingkan sekadar penampilan fisik.
"Pengetahuan tentang kurban mestinya lebih dikuasai oleh ibu-ibu ini dibandingkan SPG biasa di supermarket atau mal yang mungkin hanya mengandalkan penampilan," kata Yuswohadi saat dihubungi, Selasa.
Yuswohadi menambahkan bahwa penggunaan kostum koboi mencerminkan profesionalisme dan keseriusan pedagang, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas hewan yang dijual.
"Dengan menyesuaikan kostum yang relevan dengan konteks penjualannya, itu menunjukkan tingkat profesionalisme yang tinggi terhadap produk yang dijual," sambung Yuswo.
Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Utara, Novy Christine Palit, mengapresiasi inovasi ini sebagai langkah kreatif yang efektif menaikkan angka penjualan.
Namun, Novy mengingatkan agar pakaian yang dikenakan tetap menjaga kesopanan dan pedagang tetap memprioritaskan kebersihan lapak serta kesejahteraan hewan kurban.
Pedagang juga diwajibkan mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal, berbisnis secara jujur, serta menerapkan prinsip senyum, salam, dan sapa.