Emiten produsen kemasan plastik, PT Panca Budi Idaman Tbk. (PBID), memutuskan untuk membagikan dividen tunai senilai Rp397,50 miliar yang diambil dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan strategis ini telah ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang digelar pada Minggu (10/5/2026).
Dilansir dari Market, nilai dividen yang akan diterima oleh para investor ditetapkan sebesar Rp53 per saham. Alokasi dana tersebut mencakup hampir seluruh total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada periode tahun lalu yang mencapai Rp400,58 miliar.
Direktur Panca Budi Idaman, Lukman Hakim, memberikan penjelasan merinci mengenai komposisi penggunaan keuntungan perusahaan tersebut. Selain pembagian dividen, manajemen juga menyisihkan sebagian kecil dana untuk memperkuat posisi cadangan internal sesuai dengan regulasi yang berlaku.
"Sebesar Rp397,50 miliar ditetapkan sebagai dividen tunai atau sebesar Rp53 setiap saham," kata Lukman Hakim, Direktur Panca Budi Idaman.
Penetapan dana cadangan yang dimaksud oleh manajemen berjumlah Rp3 miliar guna memenuhi ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Perseroan Terbatas. Adapun sisa laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen atau dana cadangan akan dicatat sebagai saldo laba ditahan oleh perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan tahun 2025, emiten berkode saham PBID ini mencatatkan total pendapatan sebesar Rp5,19 triliun. Angka tersebut menunjukkan penurunan tipis dibandingkan perolehan pada periode Januari hingga Desember 2024 yang mencapai Rp5,24 triliun.
Penurunan kinerja penjualan ini juga dibarengi dengan kenaikan beban pokok penjualan yang membengkak menjadi Rp4,23 triliun, naik dari posisi Rp4,19 triliun pada tahun sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan laba bruto perseroan menyusut menjadi Rp952,10 miliar sepanjang tahun 2025.
Setelah dikurangi berbagai pos beban operasional dan pajak, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat senilai Rp400,58 miliar. Realisasi keuntungan ini mencerminkan adanya penyusutan jika dibandingkan dengan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp484,97 miliar.