Guru Besar Ilmu Politik dan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Cecep Darmawan menilai program Makan Bergizi Gratis dapat mendorong perkembangan generasi muda Indonesia secara optimal dalam 10 hingga 20 tahun mendatang apabila dikelola dengan tepat pada Sabtu (23/5/2026).
Optimalisasi program tersebut, dilansir dari Investor Daily, memerlukan tata kelola manajerial yang transparan dan tepat sasaran serta keseimbangan ekosistem pendidikan yang holistik untuk membawa transformasi besar.
"Apabila anak-anak kita secara fisik sehat karena asupan gizi yang baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi yang baik dari sekolah, Insyaallah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, program ini akan melahirkan generasi-generasi unggul yang good and smart," kata Cecep di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Mengenai sorotan tajam dan kritik yang ramai di media sosial terkait implementasi program di lapangan, Cecep memandangnya sebagai bentuk kontrol publik yang wajar.
"Kita tidak bisa menutup mata bahwa implementasi di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. Yang kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur yang tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya," ujarnya.
Oleh karena itu, penyebarluasan praktik-praktik baik dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan sekolah yang sukses menjalankan program dinilai penting untuk mengimbangi narasi negatif.
Pemisahan antara esensi visi perbaikan gizi dengan kendala teknis di lapangan juga ditekankan agar ide besar ini tidak gagal akibat masalah manajerial.
Sebagai langkah taktis jika pemerintah menghadapi keterbatasan anggaran pada awal implementasi, Cecep merekomendasikan penyempitan fokus sasaran terlebih dahulu.
"Jadi jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya. Kalau sekarang programnya itu kalau memang uangnya masih terbatas, kelompok-kelompok rentan saja duluan. Ya, se-Indonesia kelompok rentan aja duluan, termasuk anak-anak jalanan. Nanti jika keuangan negara makin baik, baru bertahap ke sasaran yang lebih luas agar anggaran tepat guna," sarannya.
Di samping itu, penegasan diberikan bahwa program ini tidak dapat berdiri sendiri ataupun menjadi solusi tunggal bagi kompleksitas persoalan masyarakat.
Pemerintah disarankan memperkuat sektor ekonomi makro dan penyediaan lapangan kerja demi membantu orang tua melanjutkan pemenuhan gizi anak di rumah, di samping kolaborasi antara Badan Gizi Nasional, kementerian terkait, pemerintah daerah, komite sekolah, dan keluarga.