Penyanyi pop Olivia Rodrigo memberikan respons tegas terkait kontroversi pilihan busananya yang memicu perdebatan di media sosial, dilansir dari Media Indonesia berdasarkan laporan The Guardian dan Entertainment Weekly.
Kritikan tersebut muncul setelah penampilan Rodrigo yang mengenakan gaun babydoll bermotif bunga saat membawakan lagu baru "Drop Dead" di Teatre Grec, Barcelona, pada 8 Mei lalu. Busana serupa juga digunakan sebagai konsep sampul album ketiganya yang akan datang.
Sejumlah warganet menuduh musisi berumur 23 tahun tersebut melakukan seksualisasi terhadap pakaian anak-anak karena potongan busananya dinilai kekanak-kanakan. Melalui wawancara dalam acara Popcast milik The New York Times, Rodrigo mengungkapkan rasa herannya lantaran pakaian yang cenderung tertutup justru dipermasalahkan.
"Itu membuat saya sangat kesal. Saya pikir ini benar-benar menunjukkan bagaimana kita menormalisasi pedofilia dalam budaya kita," ujar Olivia Rodrigo.
Penolakan terhadap tuduhan netizen tersebut didasari oleh adanya anggapan lazim terhadap pakaian panggung lain yang dinilai jauh lebih terbuka selama ini. Rodrigo menilai retorika yang menyalahkan cara berpakaian perempuan sudah ditanamkan sejak usia dini.
"Retorika yang dicekokkan kepada kita adalah, 'Jangan pakai itu karena nanti seorang pria akan menseksualisasi tubuhmu, dan itu adalah salahmu.' Maksud saya, itu sangat aneh," kata Olivia Rodrigo.
Inspirasi pemilihan baju tersebut diakui sang penyanyi berasal dari gaya ikonik musisi punk perempuan pada era 90-an. Penggunaan gaun babydoll dimaknai Rodrigo sebagai simbol kebebasan serta bentuk ekspresi diri, bukan bertujuan untuk memancing gairah seksual ataupun terlihat layaknya anak-anak.
Pernyataan tersebut mendapatkan dukungan dari para penggemar yang menilai argumen sang idola berhasil membalikkan logika pengkritik. Saat ini, Rodrigo dijadwalkan merilis album terbarunya yang bertajuk ÔÇÿYou Look Pretty Sad for a Girl So in LoveÔÇÖ pada 12 Juni mendatang.