"Nrimo ing Pandum", salah satu filosofi Jawa yang menjadi pegangan warung Mi Ayam TPMC atau Sekarsuli sejak berdiri pada 1996 di Jl Wonosari, Potorono, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Selama 30 tahun berdiri, Mi Ayam TPMC yang dikelola oleh suami istri, yakni Edi Rosadi dan Marinem, menerapkan 'Nrimo ing Pandum', yakni menerima dengan ikhlas dan bersyukur atas segala rezeki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Jadi, baik ketika ramai ataupun sepinya usaha, keduanya menjalani dengan ikhlas.
"Biasa ya mas, orang jualan itu ya ada pasang surutnya, itu sudah biasa. Kendala lain-lain tidak terasa. Disyukuri saja, apa yang ada, apa yang diberi," kata Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Selain itu, Edi Rosadi dan Marinem juga menyisihkan ambisi dalam hidupnya. Meski Mi Ayam TPMC sudah sangat terkenal di area Wonosari, keduanya tidak berminat membuka cabang. Menurutnya, ambisi membuka cabang bisa membuat hati kurang tenang karena ada banyak hal yang menjadi harus dipikirkan. Keduanya memilih fokus pada usaha yang sekarang, dengan memberikan pelayanan yang terbaik untuk pembeli.
"Kami tidak ada ambisi. Bikin cabang-barang itu engga, tidak ambisi. Kalau tidak ada ambisi itu tenang, apa adanya, apa yang diberi menerima. Kalau ambisi malah kurang tenang, kurang fokus sama pembeli," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Dedikasi terhadap pelanggan menjadi prioritas utama di warung ini. Kesetiaan pengunjung dirawat dengan ingatan yang tajam akan preferensi personal masing-masing penikmat mi.
"Kami itu kan mengutamakan selera pembeli. Ada yang suka setengah mateng, mateng banget, tidak pakai sawi. Kemudian pelanggan yang pesan bilang seperti biasa, jadi kami harus menghafal kesukaan pembeli," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Fokus Satu Tempat dengan Kualitas BPOM
Walau hanya punya satu cabang dan sederhana, Edi Rosadi dan Marinem benar-benar mengelolanya dengan sebaik mungkin. Semua bahan-bahan andalan diproduksi sendiri, mulai dari mi hingga bakso. Semua proses pembuatan dikerjakan dengan standar kesehatan yang berlaku dengan bukti memiliki sertifikat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak lama.
"Kami mi membuat sendiri, sudah BPOM. Dulu sudah disurvei, dari badan kesehatan juga. Sebelum covid itu. Jadi iya sudah sesuai standar BPOM," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Kondisi ini membuat Mi Ayam TPMC mampu memberikan pelayanan terbaik untuk pembeli, karena selama buka pelanggan yang datang tidak akan kecewa kehabisan. Apabila sudah habis, maka mereka akan segera memproduksi mi kembali secara segar. Penjualan Mi Ayam TPMC yang kerap disebut Sekarsuli ini pun mencapai angka maksimal, melayani 150 hingga 200 mangkok mi ayam setiap harinya.
"Sehari lebih kalau 100 porsi. Hampir 200. Minggu kemarin itu 200 lebih. Kalau lebaran malah lebih lagi. Soalnya pembelinya tidak cuma orang sini, orang jauh juga," ujar Edi, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Tiga Dekade Bersama Dukungan Perbankan
Pada sebuah usaha, perbantuan modal menjadi sebuah hal yang lumrah. Edi Rosadi dan Marinem bercerita bahwa pada awal merintis Mi Ayam TPMC pada 1996, dirinya mendapat bantuan pinjaman Rp3 juta dari BRI untuk usaha. Kemitraan dengan BRI terus berlanjut sampai sekarang, mulai dari BRI Unit Katamso hingga kini bersama BRI Unit Baturetno.
"Mengenai pinjam bank, tahun 1996 sudah masuk ke BRI. Belum ada KUR saat itu, pinjaman pertama 3 juta. Setelah itu, buat modal usaha juga," kata Edi, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Kepercayaan yang terbangun selama puluhan tahun membuat proses permodalan berjalan lancar. Marinem menjelaskan bahwa kedisiplinan dalam melunasi pinjaman menjadi kunci hubungan baik mereka dengan pihak bank.
"Nasabah lama, dulu di BRI Unit Katamso. Terus ada peraturan sesuai daerah, kemudian saya Baturetno. BRI mendukung, kalau saya butuh modal dibantu. Kami sudah ambil enam kali di BRI. Tapi kami misal pinjam dua tahun, setahun itu sudah lunas sebelum ambil lagi," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Tak hanya permodalan, dukungan teknologi finansial juga merambah ke warung sederhana ini. Fasilitas QRIS kini tersedia untuk memudahkan transaksi pelanggan, terutama bagi generasi muda dan pekerja yang datang saat akhir pekan.
"Alhamdulillah bagus QRIS dari BRI, yang ngasih ya orang BRI. Membantu sekali, banyak pelanggan yang pakai, terutama kalau tanggal 15 ke atas itu QRIS, sama kalau weekend," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Selain memudahkan pelanggan, sistem digital ini juga membantu Marinem dalam mengelola keuangan keluarga secara lebih disiplin tanpa terasa terbebani.
"Selain itu, umpama saya tidak bisa menyisihkan, jadi tersisihkan karena tidak langsung untuk dipakai. Tapi itu masuk rekening pinjaman, mengurangi angsuran," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Membangun Kesejahteraan dari Semangkuk Mi
Dari usaha mi ayam dengan filosofi 'Nrimo Ing Pandum', Edi Rosadi dan Marinem pun sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Hasil kerja keras mereka telah bertransformasi menjadi aset berharga untuk masa depan.
"Alhamdulillah baik, sudah punya rumah, tanah, kendaraan dari usaha mi ayam," ujar Edi, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Meski sudah berkecukupan, harapan untuk masa depan tetap ada. Mereka bermimpi suatu saat bisa memiliki lahan sendiri secara permanen untuk tempat berjualan tanpa harus menyewa lagi.
"Harapannya ke depan, kalau lepas dari yang punya bangunan mi ayam, bisa dibantu saja. Dibantu beli oleh BRI. BRI membantu supaya bisa membeli lahan untuk terus jualan," ujar Marinem, Pemilik Mi Ayam TPMC.
Kesuksesan Mi Ayam TMPC turut membuat pihak perbankan yang mendampingi mereka merasa bangga. Pertumbuhan usaha yang stabil dan adaptasi terhadap teknologi menjadi nilai plus bagi UMKM di Bantul ini.
"Usahanya bagus ya, lancar. Viral juga karena banyak vlogger yang ke sana," kata Yudhi, Mantri BRI Unit Baturetno.
Yudhi menambahkan bahwa penggunaan transaksi digital di warung tersebut menunjukkan angka yang positif, mencapai jutaan rupiah per bulannya.
"Pembayarannya di sana juga sudah pakai QRIS, untuk mengurangi uang fisik dan mempermudah kembalian. Rata-rata perbulan itu Rp7 juta per bulan dari QRIS," ujar Yudhi, Mantri BRI Unit Baturetno.
Hubungan yang harmonis antara pelaku usaha dan penyedia modal ini diharapkan terus berlanjut guna menggerakkan ekonomi lokal di Yogyakarta.
"Senang punya nasabah seperti ini, semoga Mi Ayam TPMC berkembang lagi dan terus bersama BRI," ujar Yudhi, Mantri BRI Unit Baturetno.