Sutradara Christopher Nolan mengonfirmasi bahwa proyek film fiksi ilmiah terbarunya bertajuk Odyssey akan memiliki durasi yang lebih pendek dan ramping dibandingkan karya sebelumnya, Oppenheimer. Pernyataan tersebut disampaikan Nolan pada Rabu (29/4) guna menjaga ritme ketegangan bagi para penonton.
Keputusan artistik ini diambil untuk menciptakan intensitas penceritaan yang lebih padat dalam genre thriller sebagaimana dilansir dari Detikcom. Nolan membedah filosofi durasi karyanya yang akan datang melalui sebuah wawancara resmi bersama Associated Press.
"Setiap cerita memiliki detak jantungnya sendiri," ujar Christopher Nolan, Sutradara Film Odyssey.
Pria di balik kesuksesan trilogi The Dark Knight tersebut membandingkan struktur film barunya dengan proyek biopik sejarah yang ia garap sebelumnya. Penyesuaian durasi dianggap krusial untuk membedakan identitas antar-karya.
"Jika Oppenheimer adalah sebuah simfoni yang luas dan berlapis, maka Odyssey dirancang sebagai sebuah thriller yang mendebarkan. Kami ingin audiens merasa terdesak oleh waktu, bukan sekadar menyaksikannya berlalu," kata Christopher Nolan, Sutradara Film Odyssey.
Odyssey diprediksi akan memiliki durasi sekitar 130 hingga 145 menit, berbeda jauh dengan Oppenheimer yang mencapai 180 menit. Nolan memberikan sinyal bahwa film ini akan minim eksposisi dialog dan lebih mengandalkan kekuatan visual serta ritme aksi yang konsisten.
Langkah ini juga dipengaruhi oleh faktor teknis penggunaan format IMAX 70mm yang memiliki beban fisik sangat berat. Durasi yang lebih ringkas memberikan fleksibilitas lebih besar bagi sang sutradara dalam mengelola teknis produksi di lapangan.
Gaya penceritaan Odyssey disebut akan menyerupai film Dunkirk yang mengedepankan emosi melalui situasi mendesak tanpa jeda naratif panjang. Berbeda dengan karya sebelumnya, film ini akan berfokus tajam pada perjalanan satu protagonis utama daripada pemain ansambel.
Meskipun durasinya lebih singkat, Nolan menjamin penggunaan efek praktis tetap menjadi tulang punggung untuk menjaga skala visual yang monumental. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa kemegahan film tidak selalu ditentukan oleh panjangnya durasi waktu putar.