NEC Indonesia melaksanakan program penghijauan dengan menanam 6.250 bibit pohon di lahan seluas 10,5 hektare yang berlokasi di Desa Sukaresmi dan Sukaharja, Kabupaten Bogor. Dilansir dari Investortrust, inisiatif ini diproyeksikan mampu menyerap emisi karbon hingga 710 ton CO2 ekuivalen sepanjang masa hidup pohon tersebut.
Langkah pelestarian lingkungan yang dilakukan pada Desember 2022 ini bertujuan untuk mendukung pengurangan dampak perubahan iklim melalui skema Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Selain fungsi ekologis, penambahan ruang hijau tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas udara dan memperbaiki manajemen sumber daya air di wilayah Sukamakmur.
Presiden Direktur NEC Indonesia, Joji Yamamoto, menjelaskan bahwa fokus perusahaan terhadap keberlanjutan merupakan bagian mendasar dari nilai korporasi. Hal ini selaras dengan visi jangka panjang yang telah ditetapkan oleh perusahaan dalam menghadapi tantangan lingkungan global.
"NEC Indonesia memandang keberlanjutan bukan hanya sebagai bagian dari inovasi teknologi, tetapi juga sebagai bentuk komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. Sejalan dengan NEC 2030Vision yang menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan, kami berkomitmen untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi dan inisiatif lingkungan yang berdampak. Dalam jangka panjang, kami berharap program ini dapat terus mendukung pelestarian lingkungan sekaligus memberikan nilai sosial bagi masyarakat," ucap Joji Yamamoto, Presiden Direktur NEC Indonesia dalam siaran pers, Kamis (10/4/2025).
Berdasarkan data pemantauan tahap ketiga, pohon-pohon yang ditanam dilaporkan tumbuh dalam kondisi sehat. Tanaman jenis kayu seperti Jati, Mahoni, dan Sengon tercatat telah mencapai ketinggian antara 2,15 hingga 3,25 meter dengan diameter batang berkisar 2,35 hingga 4,47 cm.
Selain jenis kayu, program ini juga melibatkan penanaman pohon buah atau Multi-Purpose Tree Species (MPTS) seperti durian, mangga, dan alpukat. Kelompok pohon buah ini menunjukkan pertumbuhan tinggi antara 1,25 hingga 2,15 meter dengan diameter batang mencapai 1,53 hingga 3,05 cm.
Keberadaan pohon MPTS tersebut diharapkan memberikan keuntungan ekonomi langsung bagi petani setempat melalui hasil panen tahunan atau pemanfaatan kayu. Diversifikasi jenis tanaman ini dirancang agar memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kesejahteraan sosial masyarakat sekitar hutan.