Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar setelah MSCI melakukan perombakan indeks pada Mei 2026. Dilansir dari Investortrust, penyedia indeks global tersebut resmi menghapus enam saham berkapitalisasi besar dari MSCI Global Standard Index.
Langkah ini diperkirakan memicu penutupan posisi dan aksi jual paksa oleh dana pasif global. Bobot total Indonesia dalam MSCI Emerging Markets IMI diproyeksikan merosot dari 0,86% menjadi 0,63%.
Penurunan bobot hingga 25% ini akan memangkas jejak dana pasif internasional di pasar domestik. Para pelaku pasar mengkhawatirkan tekanan aliran modal keluar ini dapat membebani nilai tukar Rupiah.
Dampak paling signifikan menyasar emiten dari Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) harus keluar dari indeks utama tersebut.
Selain Grup Barito, raksasa tambang tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mengalami penghapusan. Tiga saham lain yang dikeluarkan adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Dari keenam emiten tersebut, hanya AMRT yang diturunkan statusnya ke dalam indeks kapitalisasi kecil (Small Cap). Sementara itu, lima saham lainnya dihapus sepenuhnya dari daftar indeks MSCI.
Respons Otoritas Jasa Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai perombakan ini sebagai bagian dari pembenahan integritas pasar modal. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut langkah MSCI merupakan konsekuensi dari penegakan aturan terkait konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.
"If there are short-term adjustments, we see this as short-term pain, but God willing, long-term gain," kata Friderica kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia pada Senin.
Friderica meminta para investor domestik untuk tidak panik menghadapi fluktuasi pasar tersebut. Menurutnya, proses penyesuaian indeks ini merupakan hal yang lumrah dalam pendewasaan pasar saham.
"This is indeed a consequence of the improvements we are making. We continue to make fundamental improvements." ujar Friderica.
Dampak Terhadap Saham Perbankan
Di tengah tekanan jual saham-saham spekulatif, saham perbankan besar dinilai relatif aman. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) diperkirakan hanya mengalami aliran modal keluar yang terbatas.
Para pelaku pasar melihat potensi koreksi pada saham seperti AMMN justru menjadi peluang bagi investor strategis. Permintaan tembaga global yang tinggi membuat fundamental emiten tambang ini tetap menarik.
Puncak aksi jual mekanis oleh dana pasif diproyeksikan terjadi pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026. Para pelaku pasar kini bersiap mengantisipasi kekosongan likuiditas menjelang akhir bulan.