Wacana kontroversial yang berpotensi mengubah regulasi sepak bola modern kini tengah digulirkan oleh kasta tertinggi liga Amerika Serikat, Major League Soccer (MLS).
Dilansir dari Sportsetup, kompetisi sepak bola paman sam tersebut sedang mengkaji peluang untuk menerapkan sistem penghentian waktu atau "stopped clock" dalam setiap pertandingan.
Sistem penepatan waktu tersebut mengadopsi regulasi yang sudah lama berlaku pada kompetisi National Football League (NFL) serta National Basketball Association (NBA).
Langkah ini dipertimbangkan sebagai jalan keluar guna menekan maraknya aksi mengulur waktu atau time-wasting yang kerap dilakukan para pemain di lapangan hijau.
Pada sistem konvensional yang berlaku saat ini, jam pertandingan sepak bola akan terus berjalan sepanjang 45 menit dalam setiap babak.
Setiap interupsi yang terjadi akibat pelanggaran, penanganan cedera, hingga pergantian pemain nantinya hanya akan diakumulasikan oleh wasit melalui tambahan waktu di akhir babak.
Sebaliknya, mekanisme stopped clock akan menghentikan jalannya jam pertandingan secara otomatis ketika laga terhenti, dan baru berputar kembali saat bola kembali dimainkan.
Berdasarkan catatan sejarah, MLS sebenarnya bukan kali pertama ini saja bersentuhan dengan format hitung mundur tersebut.
Kompetisi ini sempat mengadopsi sistem serupa pada masa-masa awal pendirian liga, tepatnya dalam rentang tahun 1996 sampai 1999.
Kala itu, papan skor di stadion menampilkan waktu yang menghitung mundur dari angka 45:00 menuju 0:00, di mana laga langsung selesai begitu waktu habis.
Manajemen MLS meyakini bahwa menghidupkan kembali regulasi lawas ini dapat menjadi jawaban efektif atas problem manipulasi waktu pertandingan.
Vice-president of competition MLS, Paul Grafer, menilai skema stopped clock mampu mereduksi taktik mengulur waktu secara lebih maksimal dibanding regulasi saat ini.
Di lingkup global, otoritas tertinggi FIFA beserta sejumlah liga domestik dunia sebenarnya telah berupaya mendongkrak durasi injury time sejak musim 2023/24 demi mengatasi isu serupa.
Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, bahkan sempat mengutarakan pandangan bahwa motivasi pemain untuk membuang waktu bakal hilang jika seluruh durasi yang terbuang dikembalikan secara utuh lewat injury time.
Jika usulan MLS ini benar-benar terwujud, durasi aktif permainan di lapangan diproyeksikan bakal meningkat signifikan karena tim tidak lagi bisa mengulur durasi saat laga mati.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi melahirkan atmosfer pertandingan yang jauh lebih kompetitif serta bertempo cepat bagi penonton.
Namun, di sisi lain, perubahan masif ini berisiko mengikis identitas historis sepak bola yang identik dengan durasi berjalan sepanjang 90 menit.
Skema penghentian waktu ini juga diprediksi membuat durasi total siaran menjadi sulit dipastikan secara presisi.
Ketidakpastian durasi tersebut dinilai dapat memicu hambatan teknis serta operasional bagi stasiun televisi maupun pihak sponsor yang menyiarkan pertandingan.
Sederet pertimbangan efek samping inilah yang disinyalir membuat mayoritas anggota International Football Association Board (IFAB) belum memberikan lampu hijau terhadap proposal dari pihak MLS.