Mengejutkan, Kane Parsons Cetak Rekor Lewat Film The Backrooms di Usia 20 Tahun

Mengejutkan, Kane Parsons Cetak Rekor Lewat Film The Backrooms di Usia 20 Tahun
Foto: Mengejutkan, Kane Parsons Cetak Rekor Lewat Film The Backrooms di Usia 20 Tahun. (Illustration by Pexels)

Dunia perfilman Hollywood saat ini sedang digemparkan oleh kehadiran film horor terbaru produksi A24 yang berjudul Backrooms. Film ini berhasil mendominasi tangga box office di Amerika Serikat sejak pertama kali diluncurkan ke publik.

Melansir laporan dari People pada Selasa (2/6/2026), Backrooms mencatatkan pendapatan yang sangat fantastis pada akhir pekan pembukaannya. Film ini meraup pendapatan sebesar US$ 81,5 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun sejak dirilis pada 29 Mei 2026.

Angka pendapatan tersebut bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan film-film lain yang sedang tayang di bioskop saat ini. Kesuksesan komersial ini membuktikan daya tarik genre horor psikologis di mata penonton global.

Selain angka penjualannya yang mengesankan, sosok di balik layar film ini juga menjadi pusat perhatian banyak pihak. Sang sutradara, Kane Parsons, diketahui masih berusia sangat muda yakni baru menginjak 20 tahun.

Rekor Sutradara Termuda di Hollywood

Berkat pencapaian luar biasa Backrooms, Kane Parsons kini dinobatkan sebagai sutradara termuda dalam sejarah yang karyanya berhasil memuncaki box office Hollywood. Sejumlah media ternama seperti The Hollywood Reporter, Deadline, dan Variety turut mengonfirmasi rekor ini.

Sebelum Kane muncul, rekor bergengsi tersebut dipegang oleh Josh Trank yang sukses lewat film Chronicle pada tahun 2012 silam. Saat itu, Josh Trank meraih kesuksesannya di usia 27 tahun, terpaut tujuh tahun lebih tua dari Kane.

Kane Parsons juga mencatatkan namanya sebagai sutradara termuda yang pernah bekerja sama dengan rumah produksi bergengsi, A24. Perjalanan kariernya dimulai dari jalur yang sangat modern, yakni melalui dunia digital.

Ia awalnya dikenal luas sebagai seorang kreator konten yang sering mengunggah karya-karyanya di berbagai platform media sosial. Salah satu mahakaryanya yang paling fenomenal adalah serial bertajuk The Backrooms (Found Footage).

Serial pendek tersebut menjadi viral di seluruh dunia dan menarik minat banyak penggemar horor karena atmosfernya yang mencekam. Keunikan visual yang ditawarkan Kane inilah yang kemudian menjadi fondasi utama pembuatan film layar lebarnya.

Kolaborasi Bersama James Wan

Karya digital Kane Parsons ternyata juga memikat hati James Wan, produser sekaligus sutradara legendaris di balik waralaba The Conjuring dan Insidious. James Wan mengakui bahwa dirinya langsung menghubungi Kane secara daring setelah melihat bakatnya.

Fakta menarik mengenai pertemuan awal antara Kane Parsons dan James Wan:

  • Pertemuan bisnis pertama terjadi saat Kane Parsons masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah atas (SMA).
  • Karena Kane masih berusia 16 tahun saat itu, ia harus didampingi oleh ayahnya dalam setiap pertemuan resmi.
  • James Wan awalnya tidak menyadari bahwa kreator berbakat yang ia ajak bicara tersebut masih di bawah umur.
  • Kesepakatan besar ini tetap berlanjut karena James Wan melihat potensi besar pada konsep horor yang dikembangkan Kane.

James Wan menjelaskan bahwa pendekatan found footage yang digunakan Kane memberikan nuansa yang sangat berbeda dari film horor konvensional. Keunikan inilah yang membuat para produser yakin untuk membawa proyek ini ke layar lebar.

Memilih Karier Daripada Kuliah

Keputusan besar harus diambil oleh Kane Parsons saat ia memasuki tahun terakhirnya di masa sekolah menengah. Ia harus membagi waktu antara kewajiban sekolah dengan mengurus kolaborasi besar bersama para petinggi Hollywood.

Melansir IndieWire, Kane akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah berani dengan menunda studinya di bangku kuliah. Pilihan ini ia ambil setelah mencapai kesepakatan kontrak resmi dengan A24 untuk menyutradarai film ini.

Bagi Kane, tawaran tersebut merupakan sebuah jalan baru yang tiba-tiba terbuka lebar di depan matanya. Meski menyadari adanya risiko besar, ia memilih untuk fokus mengejar mimpinya sebagai seorang sineas profesional.

Keputusannya terbukti tepat karena Backrooms kini menjadi salah satu film horor paling dibicarakan di tahun ini. Kane pun kini bertransformasi dari seorang pembuat konten YouTube menjadi sutradara papan atas dunia.

Alur Cerita dan Fakta Unik untuk Penonton Indonesia

Film Backrooms mengisahkan tentang karakter bernama Clark, yang diperankan secara apik oleh aktor Chiwetel Ejiofor. Clark adalah seorang manajer toko furnitur yang secara tidak sengaja menemukan akses ke sebuah dimensi misterius.

Dimensi tersebut berupa ruangan luas berwarna kuning yang seolah tidak memiliki ujung dan batas. Clark berkali-kali masuk ke dalam ruangan aneh itu hingga suatu saat ia benar-benar menghilang tanpa jejak.

Cerita semakin mendalam saat terapisnya, Dr. Mary Kline (diperankan Renate Reinsve), berusaha menyusul untuk mencari keberadaannya. Ketegangan demi ketegangan pun muncul seiring dengan misteri yang menyelimuti tempat tersebut.

Beberapa fakta penting mengenai produksi dan elemen unik dalam film Backrooms:

Aspek Film Detail Informasi
Pemeran Utama Renate Reinsve, Chiwetel Ejiofor, dan Mark Duplass
Rumah Produksi A24 bekerjasama dengan Atomic Monster (James Wan)
Genre Horor Psikologis / Found Footage
Unsur Indonesia Penggunaan audio bahasa Indonesia dari NASA Golden Record

Tabel di atas merangkum elemen-elemen penting yang membuat film ini memiliki nilai produksi tinggi serta daya tarik bagi penonton internasional. Khusus di Indonesia, film ini sempat menjadi topik hangat di media sosial karena elemen audionya.

Dalam salah satu adegan saat Clark memasuki ruangan misterius, terdengar suara rekaman dalam bahasa Indonesia. Audio tersebut merupakan bagian dari The Golden Record milik NASA yang diluncurkan ke luar angkasa pada tahun 1977.

Rekaman itu berisi ucapan salam dari berbagai bahasa di dunia, termasuk pesan dari seorang pria bernama Ilyas Harun. Pesan tersebut berbunyi, "Selamat malam, hadirin sekalian. Selamat berpisah dan sampai bertemu lagi di lain waktu."

Hadirnya audio tersebut memberikan sensasi merinding sekaligus kebanggaan tersendiri bagi penonton di tanah air. Dengan segala keunikan dan pencapaiannya, Backrooms bukan sekadar film horor biasa, melainkan fenomena budaya baru di industri sinema.

Artikel terkait

Rekomendasi