LBH Jakarta Nilai Tim Pemburu Begal Polda Metro Jaya Tidak Efektif

LBH Jakarta Nilai Tim Pemburu Begal Polda Metro Jaya Tidak Efektif
Foto: Ilustrasi LBH Jakarta Nilai Tim Pemburu Begal Polda Metro Jaya Tidak Efektif.

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menilai langkah Polda Metro Jaya membentuk tim pemburu begal tidak efektif untuk mengurangi angka kejahatan.

Direktur LBH Jakarta Fadhil Alfathan mengatakan, tidak ada urgensi pembentukan satuan khusus tersebut karena sudah menjadi tugas polisi untuk menjaga keamanan.

ÔÇ£Keresahannya valid soal begal. Tapi kebijakan untuk kemudian bikin Tim Pemburu Begal ini menurut kami tidak dilandasi pada evaluasi yang komprehensif,ÔÇØ kata Fadhil saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon WhatsApp, Selasa (19/5/2026).

Menurut dia, berdasarkan pengamatan LBH Jakarta terhadap sejumlah kasus sebelumnya, kebijakan serupa tidak memberikan dampak signifikan.

Ia mencontohkan program televisi ÔÇ£86ÔÇØ yang menampilkan kinerja polisi dalam memberantas kejahatan di Jakarta.

Namun, tanpa dukungan pemerintah daerah, upaya tersebut dinilai tidak menghasilkan perubahan nyata.

ÔÇ£Jadi polisi ini ibaratnya kerja nguras laut. Kerja yang enggak akan ada habisnya gitu ya. Karena ini begal dari dulu juga ada, korbannya banyak. Tapi kenapa responsnya selalu respons yang sama?ÔÇØ tutur dia.

Fadhil juga menyinggung operasi serupa yang pernah dilakukan Polda Metro Jaya menjelang Asian Games 2018 untuk menekan kriminalitas jalanan seperti begal dan sebagainya. Namun, hal tersebut malah menyebabkan adanya korban jiwa.

ÔÇ£Bahkan kami mendapat temuan lapangan korbannya mencapai 15 orang meninggal dunia. Nah ini yang kami khawatirkan gitu terjadi ketika Tim Pemburu Begal ini dibentuk,ÔÇØ jelas dia.

Ia menilai kejahatan jalanan seperti begal tidak semata persoalan kriminalitas, melainkan juga berkaitan dengan persoalan sosial dan ekonomi.

Hal itu, menurut dia, terlihat dari sejumlah kasus yang diungkap polisi dengan latar belakang ekonomi pelaku, di antaranya pembegalan pelajar di Palmerah, Jakarta Barat, hingga kasus pembunuhan pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) Ermanto Usman serta karyawan kios ayam goreng di Bekasi.

Karena itu, LBH Jakarta menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memiliki peran penting dalam mengatasi persoalan tersebut.

ÔÇ£Kalau kita lihat akarnya, musababnya secara struktural, sudah pasti ini motifnya adalah soal perut. Ada kelompok masyarakat, yang tertekan secara ekonomi dan kemudian melakukan suatu hal yang tidak dibenarkan dalam hal ini kejahatan, spesifik begal gitu ya," kata Fadhil.

"Nah itu tentu sangat berkaitan. Makanya menurut kami ini bukan cuma urusan polisi gitu ya, ini urusan pemerintah daerah,ÔÇØ tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, Polda Metro Jaya meluncurkan Tim Pemburu Begal menindak lanjut maraknya pembegalan di kawasan rawan begal.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin mengatakan tim ini akan bekerja 24 jam.

ÔÇ£Kami sudah siapkan Tim Pemburu Begal yang siap beraksi 24 jam untuk bersama-sama kita menjaga Jakarta lebih aman lagi. Kami siapkan pada berbagai titik yang cukup rawan terjadi kejahatan,ÔÇØ kata Iman dalam konferensi pers, Jumat (15/5/2026).

Adapun wilayah rawan begal disebut berada di daerah penyangga, meliputi Bekasi, Depok, hingga Tangerang.

Artikel terkait

Rekomendasi