PT Bank Mega Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan yang signifikan pada kuartal I/2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dilansir dari Finansial, bank ini membukukan laba sebesar Rp62,37 miliar.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 51,67% secara tahunan (year on year/YoY) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Saat itu, posisi laba bersih perusahaan berada di level Rp41,12 miliar.
Peningkatan laba bersih pada periode ini dipicu oleh pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh 20,37% YoY. Nilainya naik menjadi Rp191,59 miliar dari sebelumnya sebesar Rp159,18 miliar pada kuartal I/2025.
Di sisi lain, beban operasional lainnya tercatat mengalami kenaikan sebesar 3,07% YoY menjadi Rp111,04 miliar hingga Maret 2026. Lonjakan pada komponen impairment menjadi penyebab utama pembengkakan biaya tersebut.
Nilai impairment tercatat mencapai Rp30,82 miliar atau melesat 287,12% YoY dibandingkan periode tahun sebelumnya yang hanya Rp7,96 miliar. Meski demikian, kinerja operasional perusahaan tetap menunjukkan tren positif.
Perseroan berhasil mengantongi laba operasional sebesar Rp80,55 miliar, tumbuh 56,58% YoY dari posisi kuartal I/2025 sebesar Rp51,44 miliar. Namun, perusahaan mencatat rugi non-operasional senilai Rp590,00 juta.
Terkait penyaluran dana, total pembiayaan yang dikucurkan Bank Mega Syariah telah menembus angka Rp9,26 triliun. Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga (DPK) yang terhimpun mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Strategi optimalisasi struktur pendanaan secara konsisten dilakukan untuk menjaga efisiensi biaya dana. Langkah ini berdampak pada kenaikan Net Imbalan (NI) menjadi 5,85% dari sebelumnya 4,04%.
Efisiensi operasional perusahaan juga menunjukkan perbaikan yang tercermin dari rasio BOPO. Angka BOPO turun menjadi 76,90% dari posisi 85,08% pada periode yang sama tahun lalu.
Ketahanan modal bank tetap terjaga kuat dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di angka 27,63%. Perseroan menyatakan tetap waspada terhadap dinamika risiko pembiayaan yang mungkin terjadi.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat manajemen risiko dan menjaga kualitas aset. Pengembangan bisnis akan dilakukan secara selektif dan berkelanjutan.
"Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun," kata Hanie dalam keterangan resminya, Senin (4/5/2026).