PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan penurunan pendapatan sebesar 19 persen menjadi Rp 640,5 miIiar pada kuartal I-2026, yang turut menekan laba bersih menjadi Rp 147,21 miIiar akibat penyesuaian persediaan di tingkat distributor, dilansir dari Investasi pada Senin (18/5/2026).
Kondisi penurunan kinerja emiten jamu berkode saham SIDO tersebut dinilai lebih bersifat sementara oleh para analis sekuritas, di tengah proses normalisasi permintaan pasca pandemi serta melemahnya daya beli masyarakat.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menjelaskan bahwa rebalancing inventori menjadi penyebab utama karena adanya penumpukan stok hingga 2-3 bulan di tingkat distributor, sehingga pihak perusahaan sengaja menahan distribusi untuk normalisasi.
"Penurunan memang signifikan, tapi saya melihatnya lebih sebagai temporary disruption daripada structural deterioration. Realisasi pendapatan juga jauh di bawah pola musiman kuartal I biasanya," ujar Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Menurut Wafi, faktor lain yang menekan kinerja perseroan adalah ketiadaan kenaikan harga jual rata-rata, depresiasi rupiah yang menaikkan biaya transportasi serta kemasan plastik, hingga penurunan margin akibat operating deleverage saat pendapatan tertahan.
"Selain itu, pelemahan daya beli, tidak adanya kenaikan harga jual rata-rata, serta kenaikan biaya transportasi dan kemasan plastik akibat depresiasi rupiah juga menekan kinerja," jelas Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
KISI Sekuritas melihat potensi pemulihan yang signifikan pada kuartal II-2026 setelah proses destocking selesai, dengan perkiraan total pendapatan SIDO sepanjang tahun 2026 dapat mencapai sekitar Rp 4 triliun yang didorong oleh faktor musiman di semester kedua.
"Kuartal II berpotensi recovery signifikan setelah proses destocking selesai dan inventory kembali normal. Namun, normalisasi penuh ke level 2025 kemungkinan belum terjadi di kuartal ini," ungkap Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Wafi menambahkan bahwa efisiensi biaya operasional hanya berfungsi untuk menahan penurunan profitabilitas, namun margin bersih tahun 2026 diproyeksikan tetap berada di kisaran 27 persen hingga 28 persen berkat inovasi produk dan ekspansi ekspor.
"Efisiensi memang penting, tapi margin hanya bisa stabil jika diikuti penyesuaian harga atau pemulihan volume. Optimalisasi biaya hanya menahan penurunan, bukan mengembalikan margin ke level sebelumnya," kata Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Pihak KISI Sekuritas memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham SIDO dengan target harga mencapai Rp 600 per lembar saham.
Sementara itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai fluktuasi ini wajar dan melihat SIDO masih memiliki fundamental neraca yang solid serta margin yang relatif baik dibandingkan perusahaan sejenis di sektor consumer healthcare.
"Penurunan pendapatan turut berdampak pada laba bersih, meskipun secara fundamental perseroan masih memiliki neraca yang solid dan margin yang relatif baik dibandingkan peers di sektor consumer healthcare," ujar Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Azis menggarisbawahi tantangan utama dari daya beli masyarakat yang belum pulih, di mana momentum hari besar keagamaan pada tiga bulan pertama tahun ini belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan, sehingga ia merekomendasikan sikap wait and see karena tren saham yang masih menurun.