Menteri Sosial Saifullah Yusuf melakukan langkah pertajaman data penerima bantuan sosial (bansos) guna memastikan masyarakat rentan di daerah terjangkau oleh pemerintah pusat. Upaya koordinasi dengan pemerintah daerah ini ditegaskan di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, pada Selasa (5/5/2026).
Langkah evaluasi ini dilatarbelakangi oleh peristiwa tragis meninggalnya seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, yang dilaporkan mengalami masalah kesehatan akibat kemiskinan. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Nasional, pembenahan data menjadi prioritas utama kementerian untuk mencegah kasus serupa terulang kembali.
"Maka itulah dari awal Pak Presiden minta kami mempertajam data supaya anak-anak dari keluarga yang memang memerlukan dukungan pemerintah bisa kita jangkau. Di sini kata kuncinya adalah data, perlu kerjasama dengan pemerintah daerah," ujar Saifullah, di Kantor Kemensos, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Gus Ipul, sapaan akrab Menteri Sosial, menegaskan bahwa arahan Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan jangkauan bagi wilayah-wilayah yang selama ini belum tersentuh bantuan. Keterbatasan jangkauan fisik dari Jakarta membuat peran aktif pemerintah daerah menjadi sangat krusial dalam proses verifikasi data lapangan.
"Tidak mungkin Jakarta ini bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Maka itu kita kerjasama dengan pemerintah daerah menggunakan teknologi," ucapnya.
Integrasi teknologi melalui platform digital Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) menjadi instrumen utama yang diharapkan dapat dioptimalkan oleh dinas sosial di tingkat wilayah. Gus Ipul menginstruksikan pengerahan sumber daya manusia untuk melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi warga di lapangan.
"Data desa sampai ke Jakarta. Kita sudah terhubung lewat teknologi, daerah juga mengerahkan SDM yang untuk melakukan ground check. Melihat betul di lapangan," kata dia.
Kemensos juga mengakui bahwa ketidaktepatan sasaran distribusi bantuan masih menjadi kendala besar yang sedang diperbaiki. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pembentukan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) pada level desa untuk memperpendek jarak antara keluhan warga dan respons kebijakan pemerintah.
"Kami memiliki program bersama daerah untuk menghadirkan Puskesos di tingkat desa, Pusat Kesejahteraan Sosial, yang ini diharapkan menjadi tempat untuk menampung seluru keluhan, seluruh aspirasi, dan mungkin kebutuhan-kebutuhan keluarga dari desa tersebut," tuturnya.
Melalui penguatan kelembagaan di desa, kementerian berupaya menjaring aspirasi keluarga kurang mampu yang selama ini tidak masuk dalam basis data penerima manfaat. Gus Ipul optimistis sistem ini dapat meningkatkan akurasi penyaluran bantuan di masa depan.
"Kalau bisa kita tampung, kita jangkau, dan kita mendapatkan data, kita tentu bisa memberikan bantuan," pungkas Gus Ipul.
Kasus yang memicu sorotan ini menimpa Rizky Syahputra, seorang remaja berusia 16 tahun yang menempuh pendidikan kelas 2 SMK di Samarinda. Rizky dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (24/4/2026) setelah mengalami penurunan kondisi fisik yang drastis.
Awal mula gangguan kesehatan tersebut dipicu oleh penggunaan sepatu sekolah yang ukurannya terlalu kecil namun tetap dikenakan untuk beraktivitas. Kondisi fisik korban dilaporkan semakin menurun saat dirinya harus menjalani program magang di sebuah pusat perbelanjaan lokal.
Infeksi yang bermula dari bagian kaki menyebar ke seluruh tubuh hingga menyebabkan hilangnya nafsu makan secara signifikan. Akibat komplikasi tersebut, kondisi tubuh korban menjadi sangat kurus sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia saat sedang tidur.