JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah setiap hari Jumat membuat batas antara urusan rumah dan pekerjaan jadi semakin tipis.
Meski hanya satu hari dalam seminggu, rumah yang biasanya jadi tempat istirahat kini juga harus dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, melihat WFH sebagai perubahan simbolik dalam cara memandang kerja.
Namun perubahan ini membawa konsekuensi di rumah. Ketika rumah sekaligus menjadi tempat kerja, batas antara dua peran mulai bercampur.
Rakhmat menyebut kondisi ini sebagai tumpang tindih peran, saat seseorang harus menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus anggota keluarga dalam waktu yang sama.
ÔÇ£Dampaknya bisa dua sisi positif bahwa ASN bisa lebih dekat dengan keluarga memiliki waktu interaksi lebih banyak dan mengurangi stres akibat perjalanan atau komuting mereka yang disebut sebagai penglaju," kata Rakhmat saat dihubungi, Selasa (5/5/2026).
Di satu sisi, ada keuntungan berupa waktu bersama keluarga yang lebih banyak. Namun di sisi lain, batas antara pekerjaan dan kehidupan rumah tangga menjadi semakin kabur.
ÔÇ£Nah dampak negatifnya Itu batas antara peran sebagai pekerja dan anggota keluarga seringkali menjadi kabur bagi yang memiliki anak kecil. Diatraksi atau gangguan selama bekerja bisa meningkat sementara ekspektasi kerja tetap tinggi," kata dia.
Fleksibilitas yang belum tentu terasa
WFH sering dianggap memberi kebebasan, tetapi dalam praktiknya tidak selalu demikian. Rakhmat menilai fleksibilitas ini kerap hanya terasa di permukaan.
Ia menjelaskan bahwa kontrol kerja kini tidak lagi datang dari kantor, tetapi berpindah ke individu itu sendiri.
ÔÇ£Dalam istilah sosiologi ini disebut dengan konsep self disciplining worker di mana kontrol kerja itu berpindah dari institusi ke individu itu sendiri Jadi dia harus mengatur waktu kerja disiplin bagaimana kontrol oleh dirinya sendiri," ujarnya.
Perubahan lain tampak pada cara berkomunikasi yang kini makin mengandalkan platform digital.
Chat dan rapat daring membuat pekerja seolah harus selalu siap setiap saat.
Akibatnya, tekanan psikologis meningkat dan waktu istirahat menjadi tidak benar-benar lepas dari pekerjaan.
ÔÇ£Meningkatnya tekanan psikologis sulit benar-benar lepas dari pekerjaan dan potensi kerelahan digital atau digital fatigue," kata dia.
Meski hanya satu hari dalam seminggu, dampak WFH tetap terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Rakhmat menilai perubahan ini bukan soal durasi, tetapi soal kebiasaan yang ikut berubah.
ÔÇ£Nah meskipun hanya satu hari dampaknya tetap signifika secara sosiologis batas antara ruang privat rumah dan ruang publik atau kerja menjadi semakin tipis. Membentuk kebiasaan baru dalam mengelola waktu, kemudian menimbulkan ekspektasi kerja di luar jam normal," kata dia.
Budaya kerja ASN yang sudah terbentuk
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, melihat kebijakan WFH setiap Jumat sebenarnya sudah menjadi bagian dari pola kerja ASN.
Menurut dia, sejak lama hari Jumat memang bukan hari kerja yang sepenuhnya efektif bagi ASN.
ÔÇ£ASN itu kalau di hari JumÔÇÖat sebetulnya udah enggak efektif bekerja. Karena setengah hari mereka sudah olahraga biasanya," kata Rissalwan saat dihubungi, Selasa.
Ia menjelaskan, waktu kerja pada hari Jumat memang cenderung terpotong oleh berbagai aktivitas, mulai dari olahraga di pagi hari hingga persiapan ibadah Jumat, sehingga jam kerja efektif menjadi lebih pendek dibanding hari lain.
Karena itu, kebijakan WFH di hari Jumat dinilai tidak banyak mengubah pola kerja yang sudah ada.
Justru, kebijakan tersebut dianggap menyesuaikan dengan kebiasaan yang sudah terbentuk.
ÔÇ£Jadi saya kira ini tidak mengubah banyak hal dalam konteks budaya kerja, justru mengadaptasi budaya kerja yang hari itu," kata dia.
Fleksibel tapi rawan disepelekan
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa kerja dari rumah tetap menyimpan risiko, terutama jika tidak diimbangi dengan pengawasan.
WFH sering dianggap memberi kebebasan lebih, terutama karena tidak perlu menghadapi kemacetan atau aturan berpakaian.
Menurut dia, tantangannya justru datang dari kebiasaan kerja itu sendiri. ASN yang terbiasa bekerja di lingkungan kantor bisa saja kesulitan menjaga disiplin saat bekerja dari rumah.
ÔÇ£Tapi memang tantangannya adalah itu tadi, justru kalau dia tidak biasa menganggap rumah itu tempat bekerja, dia akan menganggap remeh, menganggap enteng pekerjaan itu," kata dia.
Ia juga menyinggung potensi ketika tidak ada pengawasan langsung.
ÔÇ£Jadi saya kira memang fleksibel di satu sisi, tapi di sisi lain kemudian justru, apakah dia akan menyelesaikan atau tidak pekerjaannya," kata Rissalwan.
Tidak Semua Daerah Sama
Rissalwan menilai penerapan WFH tidak bisa disamaratakan antara kota dan daerah. Infrastruktur dan kondisi lingkungan menjadi faktor penentu.
Menurut dia, WFH lebih relevan di kota karena berkaitan dengan efisiensi waktu perjalanan. Sementara di daerah, manfaat tersebut tidak terlalu terasa.
ÔÇ£Kalau WFH di perkotaan itu kan memang menjadi lebih efektif, karena orang menghabiskan waktu di jalan," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kualitas internet dalam mendukung WFH.
ÔÇ£Dan kualitas dari jaringan internet di perkotaan mungkin jauh lebih kuat dibandingkan di pedesaan," ucapnya.
Karena itu, ia menyarankan WFH lebih difokuskan pada pekerjaan yang hasilnya bisa diukur dan tidak perlu diawasi secara langsung.
Internet Jadi Penentu Jalannya Kerja
Hal ini dirasakan langsung oleh Karunia Putri (29), ASN bidang administrasi di Cileungsi, Kabupaten Bogor, yang merasakan bahwa Jumat WFH bukan hari yang lebih santai.
Ia harus menata sendiri peralatan kerjanya di rumah dengan segala keterbatasan, mulai dari meja kerja sederhana hingga koneksi internet yang tidak stabil.
Berbeda dengan di kantor yang serba tersedia, di rumah Karunia harus mengandalkan hotspot dari ponsel karena tidak memiliki WiFi.
ÔÇ£Saya kerja di kamar, pakai meja seadanya. Tapi untuk internet, saya full pakai hotspot dari HP. Tidak ada WiFi di rumah," kata Karunia Putri saat dihubungi, Selasa (5/5/2026).
Kondisi ini membuat pekerjaan sangat bergantung pada kuota dan kualitas sinyal.
Di sisi lain, justru banyak rapat daring dan pengiriman dokumen yang tetap berjalan seperti biasa, bahkan cenderung padat.
ÔÇ£Biasanya juga banyak rapat online yang dijadwalkan di hari itu. Selain itu, saya sering kirim dokumen atau file yang ukurannya lumayan besar. Jadi hampir sepanjang hari itu saya benar-benar bergantung ke internet," ujar dia.
Dalam satu hari WFH, kebutuhan kuota internet Karunia bisa cukup besar, tergantung jumlah rapat dan jumlah file yang harus dikirimkan.
Karunia mengatakan, hal ini menjadi tambahan beban, karena ia harus rutin membeli paket data setiap pekan.
ÔÇ£Kalau saya bisa habis 5ÔÇô10 GB hanya dalam satu hari Jumat, tergantung banyaknya meeting dan kirim file. Jadi otomatis harus sering beli paket tambahan," ucapnya.
Meski tidak banyak biaya lain yang muncul, pengeluaran untuk internet menjadi yang paling terasa sejak WFH diterapkan.
Selain soal biaya, kendala teknis juga kerap muncul. Koneksi yang tidak stabil sering mengganggu pekerjaan, terutama saat rapat daring.
Karunia mengaku gangguan seperti suara terputus hingga harus keluar masuk meeting sudah menjadi hal yang sering dialami.
ÔÇ£Tergantung sinyal. Kadang lancar, tapi sering juga tidak stabil," kata dia.
Fokus Terbagi dengan Anak
Sementara itu, kondisi berbeda dialami Anita Puspa (32), ASN di bidang perencanaan dan keuangan, yang harus membagi perhatian antara pekerjaan dan anak balitanya setiap Jumat.
Ia mengatakan, hari kerja tetap dimulai seperti biasa, tetapi ritme kerjanya tidak pernah benar-benar seperti saat di kantor.
Sejak pagi, ia sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga, lalu mulai bekerja sekitar pukul 08.00 WIB.
Namun tak lama setelah itu, fokusnya kerap terpecah karena harus merespons kebutuhan anak.
"Jam 08.00 WIB saya mulai kerja, buka laptop, cek email dan grup kantor. Tapi enggak lama biasanya sudah mulai terdistraksi, entah anak minta ditemani atau hal lain," kata Anita saat dihubungi, Selasa.
Akibatnya, pekerjaan tidak bisa diselesaikan sekaligus, melainkan harus dikerjakan sedikit demi sedikit sepanjang hari.
ÔÇ£Jadi kerja itu putus-putus, kadang sambil nemenin dia main. Siang agak berat karena anak lagi aktif-aktifnya," kata dia.
Menurut Anita, gangguan seperti ini terjadi hampir sepanjang hari, tanpa ada waktu yang benar-benar bisa digunakan untuk fokus penuh.
ÔÇ£Hampir sepanjang hari sih, terutama di jam-jam aktif anak. Bisa dibilang tidak ada satu blok waktu yang benar-benar bebas gangguan," katanya.
Untuk menyiasatinya, ia memanfaatkan waktu saat anak tidur atau bermain sendiri, serta membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil agar tetap bisa diselesaikan.
Di sisi lain, kondisi ini justru membuat WFH terasa lebih melelahkan secara mental. Ia harus terus membagi fokus antara pekerjaan dan urusan rumah, di tengah rapat daring yang tetap berjalan.
ÔÇ£Secara fisik mungkin WFO, tapi secara mental saya merasa WFH lebih melelahkan karena harus bagi fokus terus," kata dia.
Ia pun mengakui bahwa menjaga konsentrasi saat bekerja dari rumah jauh lebih sulit dibandingkan ketika berada di kantor.
ÔÇ£Iya, jauh lebih sulit dibanding di kantor," ucap dia.