Ajang balap sepeda ultra Lintang Flores 2026 resmi berakhir dengan memunculkan nama Juney Hanafi sebagai jawara utama. Pesepeda asal Malang ini tidak hanya meraih podium pertama, tetapi juga berhasil memecahkan rekor waktu tercepat.
Perhelatan edisi ketiga ini mengambil titik start di Ta'aktana Luxury Collection Resort & Spa Labuan Bajo pada Minggu, 3 Mei 2026. Seluruh rangkaian kompetisi tuntas pada Kamis, 7 Mei 2026, pukul 10.00 WITA di lokasi yang sama.
Dilansir dari Detik Sport, Juney sukses menaklukkan lintasan sepanjang 1.034 KM dengan total elevasi mencapai 19 ribu meter. Rute menantang Labuan Bajo-Maumere-Labuan Bajo tersebut berhasil ia selesaikan di depan 19 peserta lintas negara lainnya.
Kemenangan ini mencatatkan sejarah baru karena Juney menjadi orang Indonesia pertama yang menjuarai ajang ini. Pada dua edisi sebelumnya, gelar juara selalu dikuasai oleh pebalap asal Inggris dan Australia. Juney membukukan waktu tempuh 79 jam 5 menit.
Dominasi pebalap lokal kian terlihat di posisi tiga besar. Muhammad Ghanez Athoriq menempati urutan kedua dengan catatan waktu 80 jam 21 menit, disusul Muhammad Irwan di posisi ketiga dengan waktu 82 jam 5 menit.
Pada kategori wanita, Charlotte Troost asal Belanda mencatatkan namanya sebagai finisher pertama. Juara Bentang Jawa tersebut berhasil menyelesaikan tantangan berat di Flores dengan catatan waktu 87 jam 48 menit.
Keberhasilan Juney menjadi buah manis dari perjuangan panjangnya menempuh perjalanan 30 jam dari Malang menuju Labuan Bajo. Ia mengakui medan yang dilalui memberikan tekanan fisik dan mental yang luar biasa bagi para peserta.
"Rutenya luar biasa-naik turun gunung dan pantai ratusan kali. Untuk yang akan ikut, siap-siap nanjak. Saya merasa gear saya kurang, jadi di beberapa tanjakan cadence mulai drop. Pada KM 800 ke atas, saya bahkan sempat mendorong sepeda," ujar Juney.
Selama melintasi keindahan sekaligus keganasan alam Pulau Flores, Juney mengandalkan asupan sederhana berupa kurma dan nasi kuning. Penggunaan pengaturan sepeda yang simpel menurutnya menjadi bukti bahwa olahraga ultra cycling bersifat inklusif bagi siapa saja.
Renaldus Iwan Sumarta selaku penggagas Lintang Flores 2026 menyatakan rasa syukurnya atas kelancaran acara. Ia menekankan bahwa keberhasilan para pesepeda lokal tahun ini menunjukkan pertumbuhan minat olahraga sepeda ultra di Indonesia.
"Tahun ini istimewa, karena podium pertama hingga ketiga diraih pesepeda Indonesia. Ini menegaskan semangat ultra cycling yang kian tumbuh di tanah air. Kemenangan mereka membuktikan bahwa ajang ini terbuka bagi siapa saja yang berani menguji batas diri," papar Iwan.
Iwan menambahkan bahwa kondisi alam Labuan Bajo yang ekstrem dengan tanjakan terjal merupakan ujian bagi keteguhan para pebalap. Menurutnya, tekad yang kuat jauh lebih berarti daripada aspek teknis lainnya saat berada di lintasan.
"Alam Labuan Bajo dengan rute menanjak, cuaca ekstrem, dan medan menantang adalah keindahan sekaligus ujian, tempat tekad dan keteguhan lebih berarti daripada apa pun," sambungnya.
Selain aspek kompetisi, Lintang Flores 2026 juga membawa misi sosial dengan menyalurkan donasi. Dana yang terkumpul dialokasikan untuk renovasi ruang belajar di SMAK St. Yosef Freinademetz Mukusaki, Ende, yang sempat terdampak bencana longsor.
Langkah kemanusiaan ini turut menggerakkan para peserta untuk menggalang donasi melalui media sosial masing-masing. Inisiatif tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepedulian publik terhadap kondisi sarana pendidikan di wilayah Flores.