PT ITSEC Asia Tbk mematangkan langkah untuk mempercepat ekspansi bisnis keamanan siber di Indonesia demi memenuhi lonjakan kebutuhan proteksi digital nasional. Perusahaan berkode saham IDX: CYBR ini mengambil langkah strategis berupa penguatan struktur organisasi serta optimalisasi pemanfaatan dana penawaran umum perdana saham (IPO).
Langkah tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025. Dilansir dari Suara, para pemegang saham menyetujui seluruh agenda yang diajukan Perseroan, termasuk pengesahan laporan tahunan, laporan keuangan 2025, penggunaan laba bersih, hingga realisasi dana IPO dan Waran Seri I.
Sepanjang tahun buku 2025, ITSEC Asia berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp68,35 miliar. Emiten teknologi ini menetapkan dana cadangan wajib sebesar Rp100 juta, sementara sisa keuntungan dimasukkan sebagai laba ditahan demi memperkokoh operasional serta pengembangan usaha. Atas dasar fokus ekspansi tersebut, manajemen memutuskan untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025.
Terkait permodalan, seluruh dana hasil IPO yang bernilai Rp92,18 miliar telah terserap sepenuhnya hingga akhir tahun buku 2025. Di sisi lain, dana dari konversi Waran Seri I yang sudah terealisasi mencapai Rp90,75 miliar, dengan sisa dana sebesar Rp14,83 miliar yang dialokasikan untuk penguatan kapabilitas perusahaan ke depan.
Manajemen ITSEC Asia melihat adanya lonjakan permintaan yang signifikan terhadap proteksi digital di berbagai sektor krusial, seperti instansi pemerintahan, jasa keuangan, infrastruktur kritikal, hingga sektor enterprise. Untuk merespons dinamika tersebut, Perseroan memperkuat lini layanan cyber resilience, managed security services, serta merancang solusi keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang adaptif terhadap ancaman terbaru.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Rudolf Dannacher, menilai perubahan struktur manajemen merupakan keputusan taktis dalam menghadapi industri keamanan digital yang semakin kompleks.
"Industri keamanan siber kini memasuki fase yang semakin strategis bagi keberlanjutan bisnis dan ketahanan nasional," ujar Patrick dalam keterangan resminya, Sabtu (23/5/2036).
Patrick juga menambahkan bahwa transformasi internal ini bukan semata-mata mengejar pertumbuhan volume bisnis korporasi.
"karena itu, penguatan organisasi bukan hanya tentang pertumbuhan Perseroan, tetapi juga memastikan kami memiliki struktur, kapabilitas dan kepemimpinan yang tepat untuk menjawab kebutuhan pasar yang berkembang sangat cepat." kata Patrick.
Ia memandang Indonesia menyimpan potensi yang masif dalam pengembangan proteksi digital global.
"Kami melihat momentum besar di Indonesia dan ITSEC Asia siap mengambil peran yang lebih signifikan dalam membangun ekosistem keamanan digital yang tangguh," katanya.
Melalui forum RUPST tersebut, pemegang saham meresmikan pengangkatan Yulius C. Rusli dan Viko Setiyawan sebagai Direktur Perseroan yang baru guna mempercepat eksekusi operasional dan strategi pertumbuhan korporasi.
Yulius berpendapat bahwa proteksi digital kini telah bergeser menjadi kebutuhan operasional yang sangat vital bagi setiap instansi.
"Kami melihat peluang besar untuk terus memperkuat kapabilitas Perseroan dan menghadirkan nilai yang lebih besar bagi pelanggan melalui inovasi, kolaborasi dan eksekusi yang lebih solid," ujarnya.
Sementara itu, Viko menitikberatkan pada aspek fleksibilitas perusahaan dalam mengantisipasi ancaman di ruang siber yang terus bermutasi.
"Kami percaya fondasi yang dimiliki ITSEC Asia hari ini memberikan ruang yang sangat kuat untuk bertumbuh. Fokus kami adalah memastikan Perseroan terus agile dalam menjawab kebutuhan pasar dan perkembangan ancaman digital yang terus berubah," kata Viko.
Di saat yang sama, agenda rapat juga menerima pengunduran diri Bambang Susilo dari jabatannya sebagai Direktur Perseroan. Walau begitu, Bambang dipastikan tetap mengemban tanggung jawab di dalam unit bisnis Governance, Risk and Compliance (GRC) sejalan dengan ketatnya regulasi tata kelola keamanan siber saat ini.
Patrick menegaskan bahwa orientasi korporasi dalam jangka panjang tetap mengutamakan pertumbuhan yang terencana dengan manajemen risiko yang matang.
"Kami memasuki fase di mana fokus utama adalah eksekusi dan pertumbuhan yang terukur. Dengan pondasi yang telah diperkuat, ITSEC Asia siap mendorong ekspansi sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," tutupnya.