Keluarga Sastro Dinomo selaku pengelola kuliner legendaris Jadah Tempe Mbah Carik di Kaliurang, Sleman, kini mengembangkan inovasi produk dalam bentuk kemasan beku atau frozen. Langkah modernisasi yang dilakukan oleh generasi keempat ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus menjaga kelestarian resep warisan sejak era 1930-an.
Penerus usaha tersebut memanfaatkan pembiayaan senilai Rp100 juta melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI untuk membangun pabrik yang memenuhi standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagaimana dilansir dari Suara, transformasi ini memungkinkan panganan tradisional tersebut memiliki masa simpan hingga delapan bulan dalam kondisi beku.
Angga Kusuma Arybowo, penerus Jadah Tempe Mbah Carik, menjelaskan bahwa sejarah bisnis ini berawal dari Sastro Dinomo yang merupakan seorang Carik Desa di Kaliurang. Popularitas makanan ini melonjak setelah Sri Sultan Hamengku Buwono IX mencicipinya dalam kegiatan Ngeksiganda di wilayah tersebut.
"Jadi, simbah itu sudah jualan dari 1930, simbah nomor satu itu namanya Sastro Dinomo sebagai carik," ujar Angga Kusuma Arybowo, penerus Jadah Tempe Mbah Carik.
Setelah mencicipi hidangan tersebut, Sultan HB IX dilaporkan sangat menyukai rasanya. Raja Yogyakarta tersebut bahkan kerap mengutus istrinya untuk membeli hidangan sederhana tersebut langsung ke Kaliurang.
"Suatu ketika ada kunjungan dari Sri Sultan IX sedang bikin kegiatan di Kaliurung, namanya Ngeksiganda. Beliau itu disuguhkan Mbah Carik ini jadah tempe," imbuh Angga Kusuma Arybowo.
Kedekatan Sultan dengan keluarga pembuat makanan ini berlanjut pada pemberian nama resmi. Nama "Mbah Carik" sendiri merupakan pemberian langsung dari Sultan sebagai bentuk harapan bagi kelangsungan ekonomi keluarga pembuatnya.
"Akhirnya beliau suka, ketika ke Jogja, dia mengutus istrinya ke Kaliurang untuk beli jadah tempe," tutur Angga Kusuma Arybowo.
Sultan HB IX memberikan nama khusus tersebut dengan sebuah titah yang kini menjadi kenyataan bagi keturunan Sastro Dinomo. Nama tersebut diberikan secara spesifik kepada generasi kedua usaha ini.
"Ketika Sultan mengatakan bahwa, ini dinamakan Jadah Tempe Mbah Carik supaya jadi rezeki anak cucumu. Sampai sekarang generasi keempat," ungkap Angga Kusuma Arybowo.
Pemberian nama tersebut terbukti menjadi identitas kuat yang bertahan melintasi zaman. Saat ini, fokus utama pengelola adalah menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen modern dan logistik pengiriman jarak jauh.
"Yang dikasih nama Mbah Carik itu generasi kedua, generasi sebelumnya belum ada namanya, kedua itu Mbah Carik hingga menurun ke generasi keempat," lanjut Angga Kusuma Arybowo.
Inovasi terbaru melibatkan penggunaan teknologi mesin dan sistem pemasaran daring untuk menjangkau konsumen di luar kota. Penggunaan sistem pembekuan meningkatkan ketahanan produk secara signifikan dibandingkan metode tradisional yang hanya bertahan 24 jam.
"Kami ini yang muda, kami kemas dengan yang bagus. Kami adaptasi online juga. Kami pun ada frozennya, bisa tahan tiga hari suhu ruang, beku hingga delapan bulan. Jadi, bisa buat oleh-oleh, luar kota juga bisa. Karena dulu kan cuma 24 jam," ujar Angga Kusuma Arybowo.
Dukungan modal dari perbankan menjadi kunci utama dalam proses renovasi pabrik agar sesuai dengan regulasi keamanan pangan. Angga menyebutkan bahwa proses pengajuan pinjaman berlangsung relatif mudah karena rekam jejak usaha yang stabil.
"Dibantu KUR generasi keempat ini, ambil baru tiga tahun ini. Enggak susah pengajuan, karena kami jarang mengambil di mana-mana, jadi mudah. Ambilnya itu kemarin Rp100 juta. Itu untuk pengembangan pabrik. Kami kan ingin bikin pabrik yang standar BPOM, karena produk frozen," imbuh Angga Kusuma Arybowo.
Modernisasi alat produksi menjadi fokus utama dalam perbaikan fasilitas pabrik tersebut. Hal ini dilakukan demi menjamin aspek higienis yang menjadi syarat mutlak pendaftaran izin BPOM bagi produk beku.
"Generasi keempat ini kami menggunakan produksi modern, pakai mesin dan sebagainya. Maka dari itu, kami kemarin pengajauan perbaikan pabrik," lanjut Angga Kusuma Arybowo menjelaskan.
Tingginya permintaan pasar terhadap produk beku seringkali membuat stok barang habis di masa liburan. Pabrik baru ini diharapkan mampu menutup celah antara permintaan konsumen dan kapasitas produksi yang tersedia.
"Karena kami kan cita-citanya ingin membangun pabrik untuk membuat jadah tempe dan frozen, kan harus standar higenis. Selama ini pabriknya tradisional. Nah, kami bangun itu untuk standarisasi BPOM. Makanya harus sesuai standarnya," ungkap Angga Kusuma Arybowo.
Pihak pengelola mencatat adanya lonjakan minat masyarakat terhadap varian frozen. Kapasitas produksi terus ditingkatkan untuk mengantisipasi kekurangan stok pada periode kunjungan wisata yang padat.
"Lalu pengembangannya, alhamdulillah permintaan frozen semakin tinggi. Kemarin di high season 3-4 hari sempat kosong, karena permintaan dan kapasitas produksi belum," imbuh Angga Kusuma Arybowo.