Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 44 poin atau 0,67 persen ke level 7.132 pada pembukaan perdagangan Selasa (31/3/2026). Dilansir dari Investortrust, pergerakan positif ini terjadi secara linear dengan pemulihan yang dialami pasar saham di kawasan Asia.
Lonjakan indeks pada pagi hari ini ditopang oleh apresiasi di berbagai sektor saham. Beberapa sektor yang menguat meliputi material dasar, infrastruktur, teknologi, properti, kesehatan, keuangan, serta sektor konsumen primer dan non-primer, sementara sektor industri terpantau mengalami penurunan.
Sejumlah emiten mencatatkan kenaikan harga yang tajam di tengah penguatan indeks tersebut. Saham ASPI tercatat melompat 20 persen menjadi Rp 358, diikuti oleh INAI yang naik 16,76 persen ke posisi Rp 216, serta MOLI yang menguat 12,84 persen menjadi Rp 246.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa IHSG pada hari sebelumnya yang ditutup melemah tipis 5,39 poin atau 0,08 persen ke level 7.091 setelah bergerak fluktuatif. Pada perdagangan kemarin, investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai total mencapai Rp 686,12 miliar.
Pelepasan aset oleh investor asing pada hari sebelumnya terkonsentrasi pada saham-saham perbankan besar. Saham BBRI menyumbang net sell terbesar senilai Rp 461,43 miliar, disusul oleh BBCA sebesar Rp 242,09 miliar, dan BMRI senilai Rp 241 miliar.
Pelemahan indeks pada periode tersebut turut dipicu oleh koreksi harga saham bank papan atas seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI, serta tekanan dari saham INCO, MORA, HRTA, dan CMRY. Sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi besar seperti DCII, DSSA, MLPT, ITMG, dan AADI bertindak sebagai penahan pelemahan lebih lanjut.
Beberapa saham bahkan berhasil menyentuh batas auto reject atas (ARA) saat indeks mengalami tekanan. Saham GSMF melonjak 34,44 persen ke level Rp 121, sementara saham NZIA mengalami peningkatan sebesar 34,02 persen menjadi Rp 260.