PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menetapkan target penjualan bijih nikel sebesar 1,49 juta ton pada tahun 2026 demi meningkatkan performa dari capaian tahun sebelumnya yang tertahan di angka 1,29 juta ton. Target baru tersebut dipastikan telah mendapatkan persetujuan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Rencana peningkatan volume penjualan ini didasarkan pada dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disahkan oleh pemerintah. Langkah strategis ini diambil setelah emiten pertambangan tersebut mengevaluasi kinerja operasional mereka sepanjang tahun lalu yang dinilai belum optimal.
"Di 2026 kami akan menjual 1,49 juta metrik ton, sesuai RKAB yang sudah disetujui. Tahun lalu hanya sekitar 1,3 juta ton, tidak memenuhi RKAB," ujar Presiden Direktur IFSH, Muhammad Ishaq dalam public expose di Jakarta, Senin (18/5/2026), dilansir dari Investor Daily.
Manajemen perusahaan saat ini juga tengah merancang ekspansi jangka panjang dengan membidik sejumlah wilayah tambang baru. Muhammad Ishaq menjelaskan bahwa korporasi sudah melakukan peninjauan terhadap 4 hingga 6 prospek lahan tambang di daerah Sulawesi dan Maluku, dengan potensi tindak lanjut sebesar 50 persen pada tahun ini.
Kebutuhan finansial untuk mendukung kegiatan operasional dan pemetaan wilayah baru tersebut akan dipenuhi melalui penyerapan anggaran belanja modal yang telah dialokasikan. Korporasi memfokuskan sebagian besar dana tersebut untuk aktivitas pemetaan cadangan nikel.
"Kami tetap focus pada pertumbuhan jangka panjang," kata Direktur Keuangan IFSH, Iwan Luison.
Realisasi produksi IFSH pada tahun lalu mengalami penurunan menjadi 1,67 juta ton atau hanya mencapai 76 persen dari target awal RKAB. Penurunan kinerja produksi tersebut dipengaruhi oleh dinamika pasar global, regulasi domestik, serta kendala faktor alam di area pertambangan.
"Tata cara pembagiannya mengikuti ketentuan OJK dan BEI," ujar Iwan Luison terkait keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang menyetujui pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp26 per saham dengan nilai total Rp50 miliar.
Alokasi dividen tersebut setara dengan 69,32 persen dari perolehan laba bersih perusahaan, sementara sisa keuntungan akan disimpan sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal kerja. IFSH mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 6,39 persen menjadi Rp106,5 miliar serta pertumbuhan pendapatan sebesar 2,90 persen menjadi Rp1 triliun pada tahun buku 2025.