Bursa kripto global Gemini membukukan lonjakan pendapatan sebesar 42 persen pada kuartal I-2026 hingga mencapai US$ 50,3 juta atau sekitar Rp 885,4 miliar. Capaian pertumbuhan finansial ini ditopang kuat oleh kinerja lini bisnis kartu kredit dan layanan bursa perusahaan.
Kinerja keuangan pada kuartal pertama tahun ini dilansir dari Investor Daily menjadi titik balik penting bagi strategi bisnis perusahaan setelah resmi melantai di bursa saham melalui IPO pada September 2025. Menyusul laporan tersebut, saham Gemini sempat melesat hingga 30 persen dalam sesi perdagangan pasca-penutupan.
Berdasarkan laporan Analytics Insight pada Sabtu (16/5/2026), Gemini juga berhasil mengamankan investasi jumbo senilai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun dari Winklevoss Capital Fund. Seluruh suntikan dana segar tersebut dibayarkan secara penuh menggunakan Bitcoin melalui pembelian lebih dari 7,1 juta lembar saham Kelas A seharga US$ 14 per saham.
Sektor layanan bursa dan pendapatan bunga mencatatkan kenaikan 122 persen menjadi US$ 24,5 miIjar, yang kini menyumbang 49 persen dari total pendapatan perusahaan. Sementara itu, lini bisnis kartu kredit Gemini tumbuh hampir tiga kali lipat mencapai US$ 14,7 juta dengan penambahan 13.100 pemegang kartu baru.
Gemini juga membeberkan kinerja platform pasar prediksi untuk pertama kalinya sejak diluncurkan pada Desember 2025. Bisnis baru tersebut berhasil meraup US$ 400.000 setelah lebih dari 20.000 pengguna memperdagangkan di atas 100 juta kontrak pada kuartal ini.
"Kami berencana untuk bertransformasi dari sekadar perusahaan kripto menjadi perusahaan pasar keuangan yang lebih luas," ungkap salah satu pendiri Gemini Tyler Winklevoss.
Langkah diversifikasi ke arah pasar prediksi, kartu kredit berbasis hadiah kripto, serta instrumen derivatif berlisensi penuh merupakan upaya membawa perusahaan keluar dari citra bursa kripto murni. Di sisi lain, pendapatan dari perdagangan spot konvensional Gemini turun 27 persen menjadi US$ 17,2 juta akibat volume transaksi ritel global yang merosot.
Namun, celah penurunan perdagangan spot berhasil ditutup lewat bisnis Over-the-Counter yang melonjak drastis dari US$ 100.000 tahun lalu menjadi US$ 6,3 juta pada kuartal ini. Kenaikan sektor OTC dipicu oleh meningkatnya transaksi dari investor institusi besar melalui platform elektronik milik Gemini.
Kendati pendapatan tumbuh, Gemini masih mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 109 juta akibat membengkaknya biaya operasional sebesar 73 persen untuk kompensasi karyawan, pemasaran, dan dana cadangan perlindungan penipuan. Angka kerugian ini tercatat membaik dibandingkan rugi kuartal yang sama tahun lalu sebesar US$ 149,3 juta.
Gemini saat ini tengah menghadapi tantangan hukum berupa gugatan kelompok di New York yang menuduh perusahaan menyesatkan investor sebelum dan sesudah IPO. Guna memangkas biaya operasional, perusahaan menjalankan program restrukturisasi Gemini 2.0 dengan memangkas 25 persen karyawan dan keluar dari pasar Inggris, Uni Eropa, serta Australia.
Langkah efisiensi radikal diambil demi memfokuskan modal pada pasar domestik Amerika Serikat yang dinilai lebih menguntungkan. Pada April 2026, Gemini resmi mengantongi lisensi Derivatives Clearing Organization dari CFTC untuk bersiap meluncurkan produk kontrak berjangka, opsi, dan kontrak permanen.