Self-Esteem Menjadi Fondasi Ketahanan Mental Anak Perempuan

Self-Esteem Menjadi Fondasi Ketahanan Mental Anak Perempuan
Foto: Ilustrasi Self-Esteem Menjadi Fondasi Ketahanan Mental Anak Perempuan.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Farraas Afiefah Muhdiar menekankan pentingnya penanaman self-esteem atau penghargaan diri sebagai fondasi ketahanan mental anak perempuan pada Senin (20/4/2026). Dilansir dari Lifestyle, nilai diri yang kuat menjadi benteng utama dalam menghadapi tekanan sosial dan perbandingan digital.

Penghargaan diri dipandang bukan sekadar rasa percaya diri di permukaan, melainkan keyakinan batin terhadap nilai personal seseorang. Fondasi ini membantu anak untuk memahami bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan baik dari lingkungan sekitarnya.

"Self-esteem itu bukan cuma sekedar percaya diri, tapi anak benar-benar percaya bahwa dirinya itu berharga dan berhak untuk diperlakukan dengan baik sama orang lain," jelas Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog.

Peran self-esteem sangat krusial dalam melindungi anak dari berbagai risiko gangguan kesehatan mental dan intimidasi. Anak dengan penghargaan diri yang stabil cenderung lebih tangguh saat menghadapi konflik relasi maupun tekanan emosional.

"Self-esteem pentng untuk ditanamkan, karena dia bisa melindungi dari masalah-masalah kesehatan mental, bullying, dari masalah-masalah relasi, dan lain-lain," ujar Farraas.

Anak perempuan dinilai menghadapi tantangan lebih berat akibat ekspektasi sosial yang tinggi terkait penampilan dan perilaku. Tekanan lingkungan ini sering kali membuat mereka lebih rentan merasa tidak cukup baik dibandingkan anak laki-laki.

"Sebenarnya penting untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. Tapi untuk anak perempuan lebih krusial karena perempuan itu lebih banyak dapat ekspektasi dari segi sosial," ungkap Farraas.

Kemampuan memilah kritik menjadi salah satu manfaat nyata dari penghargaan diri yang sehat. Hal ini memungkinkan anak untuk tidak menginternalisasi penilaian negatif yang tidak membangun dari lingkungan mereka.

"Ekspektasi lingkungan itu lebih tinggi biasanya untuk perempuan. Kalau self-esteem anak baik, ketika dia mendengar kritik-kritik tersebut, dia akan lebih bisa memilah-milih," jelas Farraas.

Kehadiran media sosial memperparah fenomena perbandingan sosial, terutama saat anak memasuki masa remaja. Mereka sering membandingkan pencapaian dan fisik dengan apa yang ditampilkan oleh orang lain di dunia maya.

"Apalagi nanti di usia remaja, anak membandingkan dirinya dengan orang-orang yang dia lihat di sosial media dari segi penampilan, kemampuan, dan lain-lain," paparnya.

Meskipun memiliki kekurangan di beberapa aspek, anak dengan self-esteem tinggi tetap mampu melihat keberhargaan dirinya secara utuh. Mereka tidak bergantung pada satu standar pencapaian saja untuk merasa berarti.

"Anak yang self-esteem-nya baik tahu bahwa dirinya itu tetap berharga meskipun di satu atau dua aspek dia kurang baik dibandingkan orang lain," lanjut Farraas.

Kesadaran akan kemampuan diri membuat anak tidak mudah merasa inferior di hadapan orang lain. Hal ini memberikan kekuatan untuk tetap tegak meskipun harus menghadapi kritik keras atau situasi sulit.

"Dengan self-esteem yang baik, anak sadar akan kemampuannya, sadar akan harga dirinya. Dia percaya, meskipun dikritik tapi itu tidak mencerminkan dirinya rendah," tutup Farraas.

Artikel terkait

Rekomendasi