Film biopik terbaru bertajuk Michael mencatatkan pendapatan global sebesar USD 217 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun pada pekan perdana penayangannya, 24-26 April 2026. Capaian ini diraih di tengah kontroversi perubahan narasi besar-besaran dan kritik tajam terkait penggambaran sang megabintang.
Dilansir dari Detikcom melalui laporan Variety, perolehan domestik di Amerika Utara menyumbang USD 97 juta bagi rumah produksi Lionsgate dan Universal. Angka tersebut secara resmi melampaui rekor pembukaan film biopik sebelumnya, termasuk Oppenheimer karya Christopher Nolan yang meraup USD 174 juta pada 2023.
Pencapaian komersial ini juga jauh meninggalkan film biopik musik lainnya. Michael melampaui catatan Straight Outta Compton yang mendapatkan USD 60 juta serta pemenang Oscar, Bohemian Rhapsody, yang meraih USD 51 juta pada pekan pembukaannya.
Sutradara Antoine Fuqua dan produser Graham King sebelumnya dilaporkan mengeluarkan biaya tambahan sebesar USD 15 juta atau sekitar Rp 238 miliar untuk proses syuting ulang. Langkah ini diambil guna merombak total narasi terkait tuduhan pelecehan seksual anak yang sempat melibatkan Michael Jackson.
Berdasarkan laporan THR, tim produksi awalnya berniat menyertakan kasus Jordan Chandler tahun 1993 ke dalam film. Namun, rencana tersebut terbentur batasan hukum akibat klausul dalam perjanjian damai tahun 1994 yang melarang penggambaran sosok Chandler dalam media film.
Perubahan ini membuat alur cerita yang semula direncanakan mencakup hingga kematian Jackson pada 2009, kini berakhir lebih awal pada puncak tur album Bad di akhir 1980-an. Di sisi lain, kualitas film ini mendapat sorotan tajam dari Dan Reed, sutradara dokumenter Leaving Neverland.
"Bagian awal di mana Michael masih kecil, aku masih suka sih. Tapi ketika kita disuguhkan Jackson dewasa, yang mana dimainkan oleh keponakannya Jaafar, itu ganggu banget sih," kata Dan Reed.
Reed menilai penampilan Jaafar Jackson terasa kaku meski mengakui kemampuan menarinya yang baik. Menurutnya, naskah yang kurang kuat menjadi salah satu penyebab performa tersebut tidak maksimal.
"Aku pikir dia seorang penari yang bagus, tapi penampilannya kaku banget dan salah satu alasannya itu karena dia gak punya naskah yang bagus," ujar Dan Reed.
Kritik lebih lanjut disampaikan Reed mengenai kedalaman psikologis karakter utama yang dianggap tidak tereksplorasi. Ia merasa penggambaran dalam film Michael tidak berhasil menangkap sisi menarik dari kepribadian sang musisi.
"Dia cuma jadi boneka lilin yang menampilkan lagu-lagu jukebox, tapi gak ada sedikit pun yang nampilin hal-hal yang bikin Jackson menarik," kata Dan Reed.
Reed menutup kritiknya dengan menyoroti bagaimana film tersebut menyajikan hubungan Jackson dengan anak-anak. Ia menganggap narasi yang dibangun dalam film sangat jauh dari realita sejarah yang ada.
"Dia seperti boneka plastik aseksual dalam film tersebut. Dan tentu saja, masalah hubungannya dengan anak-anak sepenuhnya diputarbalikkan oleh fakta bahwa mereka menggambarkannya sebagai anak yang eksentrik dan kekanak-kanakan, yang kita tahu bukanlah seluruh cerita," tukas Dan Reed.