Festival Film Jelek Suguhkan 270 Karya Alternatif di Teater Utan Kayu

Festival Film Jelek Suguhkan 270 Karya Alternatif di Teater Utan Kayu
Foto: Ilustrasi Festival Film Jelek Suguhkan 270 Karya Alternatif di Teater Utan Kayu.

Ruang alternatif bagi para pembuat film di luar arus utama kembali hadir melalui penyelenggaraan Festival Film Jelek (FFJ) yang dijadwalkan berlangsung pada 1ÔÇô3 Mei 2026 di Teater Utan Kayu, Jakarta. Gelaran ini dilansir dari Lifestyle menjadi wadah inklusif yang menerima karya tanpa batasan teknik maupun tahun produksi.

Edisi kedua festival ini telah menjaring sebanyak 270 film pendek hasil karya sineas Tanah Air. Seluruh karya tersebut nantinya akan ditampilkan kepada publik setelah melalui proses kurasi ke dalam enam program utama.

Penggagas FFJ Juan Hendry menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan memberikan ruang berekspresi bagi kelompok mahasiswa, pembuat film medioker, hingga kalangan autodidak. Fokus utama festival adalah mendorong kreativitas tanpa terbebani standar industri yang kaku.

"Maunya Festival Film Jelek ini nantinya juga berjalan tahunan supaya kita bisa terus berkembang tiap tahun," katanya saat ditemui Bisnis, Kamis (16/4/2026).

Penyelenggaraan FFJ sebelumnya sukses digelar pada 28 Februari 2026 di Pasar Gembrong, Jakarta Timur. Tingginya antusiasme masyarakat pada acara perdana tersebut menjadi dasar kuat bagi tim penyelenggara untuk melanjutkan edisi berikutnya.

Manajer FFJ 2026 Edvan Apriliawan menekankan bahwa nilai keterbukaan merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan festival ini. Pemilihan istilah "jelek" pun dilakukan secara sengaja agar acara terasa tidak eksklusif di mata publik.

"Kita sangat terbuka dengan teknik apa pun dan medium apa pun," kata Edvan Apriliawan, Manajer FFJ 2026.

Data kepesertaan menunjukkan keberagaman latar belakang, di mana 45 persen peserta memiliki basis pendidikan film resmi. Sementara itu, 55 persen sisanya merupakan peserta yang datang dari disiplin ilmu lain atau menempuh jalur belajar mandiri.

Terkait teknis penyajian, Pengelola program Keisha Maryam menyebutkan bahwa timnya harus mengelola strategi pemutaran agar 270 film tersebut dapat terakomodasi dalam jadwal yang ada. Keterbatasan ruang dan durasi menjadi faktor yang menuntut efisiensi penyusunan program.

"Kita harus menyesuaikan supaya semua film masuk dalam durasi program, sekaligus tetap enak ditonton," ujar Keisha Maryam, Pengelola program FFJ.

Setiap sesi pemutaran dirancang dengan durasi maksimal dua jam untuk memberikan pengalaman menonton yang variatif. Film dengan durasi sangat pendek nantinya akan disatukan dalam format kompilasi agar tetap selaras dengan manajemen waktu program.

Artikel terkait

Rekomendasi