Oase Digital: Fenomena Selebritas Anabul dan Terapi dari Layar Ponsel

Oase Digital: Fenomena Selebritas Anabul dan Terapi dari Layar Ponsel
Foto: Ilustrasi Oase Digital: Fenomena Selebritas Anabul dan Terapi dari Layar Ponsel.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, konten hewan peliharaan kian menjadi hiburan yang dicari banyak orang. Tingkah jenaka kucing, anjing, hingga hewan eksotis tak hanya mengundang tawa, tetapi juga menghadirkan kenyamanan emosional bagi penonton. Bahkan, sebagian akun hewan peliharaan kini menjelma menjadi ÔÇ£selebritasÔÇØ baru dengan ratusan ribu pengikut.

Bagi sebagian orang, konten hewan peliharaan bukan sekadar tontonan selingan, melainkan kebutuhan emosional di tengah rutinitas yang melelahkan. Saras (27), salah seorang penonton setia konten hewan, mengaku hampir setiap hari menghabiskan waktunya untuk menyimak tingkah polah anak bulu atau anabul di media sosial. Ia biasanya menonton saat beristirahat atau sesaat sebelum tidur.

"Di tengah banyak konten yang berat atau bikin capek pikiran, konten hewan itu kayak jadi selingan. Selain itu, kadang juga gemas sendiri lihat ekspresi atau kelakuannya. Karena kalau kucing saya enggak bisa dikontenin," ujar Saras, penonton setia.

Bagi Saras, konten tersebut menjadi semacam oase di tengah gempuran informasi yang melelahkan. Ia merasa menonton aksi para anabul ini efektif untuk memperbaiki suasana hati yang buruk.

"Misalnya lagi capek kerja atau lagi bad mood, nonton konten hewan bisa bikin lebih santai. Walaupun cuma sebentar, tapi efeknya lumayan buat memperbaiki mood," kata Saras, penonton setia.

Meski banyak jenis hewan muncul di beranda, kucing tetap menjadi primadona bagi Saras. Ia merasa lebih terhubung karena memiliki pengalaman serupa di rumah.

"Soalnya tingkahnya unpredictable, kadang jutek tapi tiba-tiba manja, jadi lucu aja dilihat. Selain itu juga karena saya punya kucing di rumah, jadi lebih relate," jelas Saras, penonton setia.

Namun, seiring makin komersialnya akun-akun hewan besar, Saras mulai membedakan konten yang terasa alami dan yang dibuat secara berlebihan demi angka kunjungan.

"Yang kayak keseharian gitu justru lebih menarik daripada yang terlalu di-setting. Kalau terlalu dibuat-buat kadang malah terasa kurang seru," ungkap Saras, penonton setia.

Pelampiasan dari Balik Layar

Sementara itu, bagi Shafa (25), konten hewan peliharaan menjadi pengganti atas keinginan yang tak bisa terpenuhi. Ia mengaku hampir setiap hari mengonsumsi konten hewan di TikTok dan Instagram karena algoritma terus menampilkan video serupa di berandanya. Ketertarikannya pada konten hewan, khususnya kucing dan anjing, tidak lepas dari sisi emosional yang ditawarkan.

"Misalnya kucing yang dekat sama pemiliknya, atau anjing yang terkenal setia," katanya Shafa, penonton konten hewan.

Namun, di balik kebiasaannya menonton, ada keterbatasan yang membuatnya hanya bisa menikmati dari layar. Shafa mengungkapkan memiliki alergi bulu yang cukup parah sehingga tidak memungkinkan memelihara hewan secara langsung.

"Iya dari dulu sebenarnya pengin banget punya kucing di rumah, tapi saya punya alergi bulu yang cukup parah," tutur Shafa, penonton konten hewan.

Kondisi tersebut membuat konten hewan menjadi pelarian sekaligus pengganti interaksi yang tidak bisa ia rasakan. Hal ini menjadi bentuk kompensasi atas kondisi fisiknya.

"Karena enggak bisa punya langsung, jadi nonton konten hewan itu kayak pelampiasan rasa pengin punya peliharaan," ucap Shafa, penonton konten hewan.

Di sisi lain, Shafa juga merasakan manfaat emosional dari konten tersebut. Menonton video singkat bisa memicu senyum kecil di tengah kepenatan.

"Kadang kalau lagi capek, lihat video hewan itu bisa bikin senyum sendiri," katanya Shafa, penonton konten hewan.

Meski demikian, ia tetap memperhatikan batasan dalam pembuatan konten. Ia mengaku tidak nyaman jika melihat hewan dipaksa demi hiburan.

"Menurut saya boleh saja, apalagi kalau bisa menghibur banyak orang. Tapi tetap harus ada batas," tutur Shafa, penonton konten hewan.

Dari Dokumentasi Jadi Bintang Dunia Maya

Di sisi lain, Anisa Dwi (28) atau yang akrab disapa Ica, tak pernah menyangka kucing peliharaannya, Neng Molen, menjadi populer di media sosial. Akun @Nengmolencantik yang kini memiliki ratusan ribu pengikut awalnya hanya dibuat sebagai dokumentasi pribadi. Karakter Neng yang menonjol dengan sikap ÔÇ£alfaÔÇØ dan tingkah unik membuatnya cepat menarik perhatian warganet.

"Kalau Neng itu kan walaupun terlihatnya galak tapi dia sebenernya bisa berinteraksi dengan manusia gitu loh, enggak takut sama manusia lebih tepatnya dibandingkan anak-anaknya yang lumayan agak susah," kata Ica, pemilik akun @Nengmolencantik.

Ica mengaku tidak mengikuti tren dalam membuat konten. Popularitas Neng justru datang secara alami dari momen spontan sehari-hari yang ditangkap kamera.

"Jadi by moment aja sih kalau Neng bertingkah apa kami langsung record makanya kalau orang lihat konten aku lagi ketawa ya aku kan naturalnya ketawa kayak gitu karena reaksi langsung," ujar Ica, pemilik akun @Nengmolencantik.

Ia bahkan selalu sigap dengan ponselnya agar tidak kehilangan momen penting. Kesiapan ini menjadi kunci agar karakter unik Neng bisa terabadikan dengan baik.

"Jujur iya lagi aku kayak handphone tuh kalau udah agak jauh kayak 'duh mana handphone mana handphone' enggak boleh hilang moment," kata Ica, pemilik akun @Nengmolencantik.

Di balik popularitas tersebut, Ica tetap mengutamakan kenyamanan Neng, terutama saat menjalani kerja sama endorsement. Ia menyesuaikan konsep konten dengan kondisi sang kucing tanpa pemaksaan.

"Misalnya kayak, sorry, brand minta storyline nih aku pasti dikasih note kondisi Neng disesuaikan jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain kami sesuaikan aja," ungkap Ica, pemilik akun @Nengmolencantik.

Ia juga kerap menerima pesan dari pengikut yang merasa terhibur secara emosional. Baginya, melihat dampak positif bagi orang lain menjadi kepuasan tersendiri.

"Karena enggak sekali dua kali aku dapet DM yang menyentuh hati ya orang lagi depresi, orang lagi sakit cancer bahkan kayak bilang keseharian mereka tuh jauh lebih berwarna karena nonton konten Neng," tutur Ica, pemilik akun @Nengmolencantik.

Pesona Hewan Eksotis dan Edukasi

Tak hanya kucing, hewan eksotis seperti sugar glider juga mulai menarik perhatian. Hal ini dialami Siska Ermaya (22), pemilik akun Luna II Sugar Glider yang bermula dari ketidaksengajaan.

"Pertama membuat akun tahun 2025 awalnya untuk konten diri sendiri tapi karena banyak stok video dan foto hewan peliharaan saya si Luna jadi saya mulai iseng post di akun ini dan ternyata views-nya banyak langsung fyp (for you page)," ujar Siska, pemilik Luna II Sugar Glider.

Bagi Siska, konten yang dibuat juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami karakter sugar glider sebelum memeliharanya. Ia ingin penonton tidak hanya sekadar gemas, tapi paham perawatannya.

"Karena winning konten aku ada saat aku post hewan peliharaan aku dan lebih ingin mengedukasi tentang sugar glider," katanya Siska, pemilik Luna II Sugar Glider.

Mengelola konten sugar glider memiliki tantangan tersendiri karena hewan ini sensitif terhadap cahaya. Siska harus menyesuaikan waktu dan pencahayaan agar Luna tetap nyaman saat direkam.

"Karena sugar glider hewan yang sensitif dengan cahaya matahari jadi untuk take konten agar mereka lebih aktif biasanya dilakukan saat suasana rumah redup, atau juga dilakukan kontennya siang hari saat mereka cenderung lebih pasif biasanya untuk konten bareng aku atau take video endorse," jelas Siska, pemilik Luna II Sugar Glider.

Keunikan fisik dan kemampuan meluncur sugar glider menjadi daya tarik tersendiri. Melalui kolom komentar, interaksi pun terbangun antara pemilik dan calon pemelihara.

"Karena keunikan atau perlakuan berbeda itu mendatangkan pertanyaan dari para penonton jadi disana kita bisa sharing lewat komentar dan lainnya," tuturnya Siska, pemilik Luna II Sugar Glider.

Analisis Ketertarikan Sosial

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis, menilai ketertarikan publik terhadap konten hewan peliharaan tidak semata-mata hiburan. Menurutnya, ada faktor preferensi spesifik yang bermain dalam psikologi penonton.

"Misalnya kucing ya dia akan mencari konten-konten yang menarik dengan kucing dan tadi kucing itu punya keunikan ya. Misalnya bulunya bagus, peranakan dari mana, punya kemampilan khusus. Burung juga gitu ya," kata Rissalwan Lubis, Pengamat Sosial UI.

Di sisi lain, ia tidak menampik bahwa sebagian penonton memang menjadikan konten hewan sebagai hiburan ringan. Namun, proporsinya dinilai lebih kecil dibandingkan mereka yang memiliki ketertarikan khusus terhadap hewan tertentu.

Artikel terkait

Rekomendasi