Timnas Ekuador memastikan diri kembali bersaing di panggung sepak bola tertinggi setelah mengamankan posisi di putaran final Piala Dunia 2026. Keberhasilan ini menjadi partisipasi keenam bagi negara Amerika Selatan tersebut sepanjang sejarah keikutsertaan mereka.
Dilansir dari Bola, tim berjuluk La Tri ini menunjukkan performa luar biasa selama babak kualifikasi di kawasan Amerika Selatan. Ekuador berhasil menyegel posisi kedua dalam klasemen akhir, sebuah pencapaian yang menempatkan mereka di atas kekuatan besar lainnya.
Koleksi 29 poin membawa Ekuador berada tepat di bawah Argentina. Posisi ini membuktikan dominasi mereka dengan mengungguli negara-negara mapan seperti Brasil, Uruguay, dan Kolombia dalam persaingan menuju turnamen di Amerika Utara tersebut.
Pencapaian ini mempertegas konsistensi La Tri dalam kancah sepak bola modern sejak debut mereka pada tahun 2002. Sejak saat itu, Ekuador tercatat hanya dua kali gagal menembus putaran final, yakni pada edisi 2010 dan 2018.
Sepanjang sejarah keikutsertaan mereka, penampilan di Jerman pada tahun 2006 tetap menjadi tolok ukur kesuksesan tertinggi. Kala itu, mereka berhasil melaju hingga babak 16 besar setelah mengalahkan Polandia 2-0 dan menumbangkan Kosta Rika dengan skor telak 3-0.
Langkah Ekuador di tahun 2006 akhirnya terhenti setelah berhadapan dengan Inggris di fase gugur. Gol tunggal David Beckham pada menit ke-60 menjadi penentu yang mengakhiri perjalanan impresif mereka saat itu.
Transformasi di Bawah Sebastian Beccacece
Kesuksesan menuju edisi 2026 tidak lepas dari peran pelatih asal Argentina, Sebastian Beccacece. Ia mengambil alih kemudi kepelatihan dari Felix Sanchez yang sebelumnya menangani tim pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Federasi Sepak Bola Ekuador (FEF) melakukan pergantian pelatih setelah hasil kurang memuaskan di ajang Copa America. Keputusan tersebut terbukti tepat dengan transformasi permainan yang dibawa oleh Beccacece ke dalam skuad La Tri.
Di bawah arahan Beccacece, lini pertahanan Ekuador menjadi salah satu yang tersolid di zona Amerika Selatan. Mereka tercatat hanya kebobolan dua kali dari total 12 pertandingan yang dijalani selama masa kualifikasi.
Tantangan Lini Serang di Grup E
Meski memiliki pertahanan yang kokoh, sektor penyerangan tetap menjadi catatan penting bagi tim kepelatihan. Ekuador hanya mampu mengemas sembilan gol dalam 12 laga, berbanding jauh dengan Argentina yang memproduksi 21 gol.
Ketajaman lini depan akan menjadi kunci saat mereka bersaing di putaran final nanti. Ekuador dijadwalkan menempati Grup E, yang menuntut kesiapan maksimal dari para penggawa tim untuk menghadapi lawan-lawan tangguh.
Pada babak grup mendatang, La Tri akan bersaing ketat dengan Pantai Gading dan Curacao. Selain itu, mereka juga harus menghadapi tantangan besar dari salah satu tim unggulan turnamen, yaitu Jerman.